~ Danau 2.600 Hektar Mengering Berubah Jadi Daratan, PLTA Jelok Tak Dapat Beroperasi

Usia Rawa Pening Tinggal Lima Tahun Lagi

 

SALATIGA, KOMPAS - Usia waduk alami Rawa Pening di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, semakin pendek akibat akumulasi tingginya sedimentasi dan pencemaran air. Tanpa ada upaya terpadu, danau seluas 2.600 hektar itu diperkirakan mengering dan berubah menjadi daratan pada tahun 2015 atau 2020.

Akibatnya, 18.784 hektar sawah irigasi di Kabupaten Grobogan dan Demak akan kesulitan air. Selain itu, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jelok dan Timo di Kabupaten Semarang dengan kapasitas 25 megawatt tidak dapat beroperasi. Pengambilan air untuk industri dan PDAM juga tersendat, sementara perikanan rakyat seluas 500 hektar bakal terhenti.

Peneliti Pusat Studi Pengembangan Kawasan Rawa Pening, Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Royke R Siahainenia, mengatakan itu di Salatiga, Sabtu (8/5). Prediksi pesimistis terhadap kelangsungan Rawa Pening didasarkan pada hasil citra satelit tahun 2001-2007 yang menunjukkan makin menyepitnya waduk itu.

Waduk berupa cekungan alami itu, kata Royke, semakin susut akibat tingginya sedimentasi dan lahan kritis di daerah tangkapan air. Dari sembilan subdaerah aliran sungai yang bermuara ke Rawa Pening dengan luas 25.079 hektar, potensi sedimentasi mencapai 778 ton per tahun.

Kondisi itu diperparah pencemaran air di Rawa Pening yang semakin tinggi. Dari hasil uji laboratorium Badan Lingkungan Hidup Jawa Tengah tahun 2008 terhadap air di sebagian besar sub-DAS Rawa Pening didapati kandungan oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen biologi (BOD), dan kebutuhan oksigen kimia (COD) di sejumlah sub-DAS melebihi ambang baku.

”Artinya, kebutuhan oksigen untuk mengolah bahan organik dalam air semakin tinggi. Akibatnya, makhluk hidup di dalam Rawa Pening akan berebut oksigen. Bila terus berlangsung, ikan dalam waduk ini juga tidak akan bisa hidup,” kata Ketua Program Magister Biologi UKSW Salatiga Ferry Karwur.

Tingginya bahan organik juga mendorong pertumbuhan eceng gondok lebih pesat karena zat organik yang dibutuhkan untuk hidup berlimpah. Eceng gondok yang mati akan menjadi sedimentasi sekaligus menambah kadar pencemaran organik air Rawa Pening. Tutupan eceng gondok saat ini diperkirakan sekitar 30 persen, melebihi batas aman 5 persen dari luas genangan.

Menurut Royke, pemerintah kabupaten dan provinsi masih saling lempar tanggung jawab dalam mengatasi persoalan Rawa Pening. Padahal, pengerukan untuk membatasi eceng gondok dan membuat rencana tata ruang wilayah Rawa Pening mendesak dilakukan. (GAL)

 

Sumber : Kompas


Baca Juga:
Artikel sebelumnya:

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum