Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Musi Di Ujan Mas Atas, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu

KOMPAS/YOGA PUTRA
Nelayan tradisional mencari ikan dan udang di perairan Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (24/1). Kondisi sungai yang tercemar limbah industri dan rumah tangga menurunkan hasil tangkapan nelayan karena jumlah ikan terus berkurang. Nelayan menduga ikan sudah mati sejak kecil karena tidak tahan polusi sungai.
 
Peran Musi Bergeser
Di Hulu, Air Sungai Musi untuk Pembangkit Turbin PLTA Musi

 

Palembang, Kompas - Peran Sungai Musi tidak lagi menjadi satu-satunya urat nadi kehidupan masyarakat di Sumatera Selatan. Pertumbuhan jumlah penduduk dan pengembangan permukiman menyebabkan masyarakat tinggal semakin menjauh dari sungai.

Kendati demikian, Sungai Musi perlu dibenahi sebab masih memberi manfaat ekonomis dan ekologis yang besar.

Demikian dikatakan Gubernur Sumsel Alex Noerdin dalam perbincangan dengan Kompas, Senin (25/1).

Menurut Alex, pada masa lampau Sungai Musi adalah segalanya; sumber kehidupan masyarakat Sumsel, sarana transportasi, dan airnya dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Karena itu, masyarakat selalu bermukim di sekitar Musi.

”Setelah penduduk tambah banyak dan masyarakat tidak hanya tinggal di pinggir sungai, Sungai Musi tidak sepenting dulu sebagai satu-satunya sumber kehidupan,” ujarnya.

Gubernur Sumsel menjelaskan, Sungai Musi memiliki peran penting sebagai jalur transportasi ke pedalaman, sarana irigasi, dan pengendali banjir. Keberadaan irigasi itu membuat Sumsel menjadi daerah penerima transmigran terbesar selama Pelita I-IV pada era Orde Baru.

PLTA Musi

Alex mengutarakan, air Sungai Musi di hulu dimanfaatkan untuk memutar turbin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Musi di Ujan Mas Atas, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu.

Persoalannya, air Sungai Musi untuk memutar turbin tidak dikembalikan ke Sungai Musi, tetapi dialirkan ke arah barat Bengkulu menuju ke Samudra Indonesia. ”Akibatnya, debit air Musi berkurang. Ini yang sangat merugikan masyarakat Sumsel,” ujar Alex.

Menurut catatan Kompas, PLTA Musi diresmikan tahun 2006 dan memiliki kapasitas 3 x 70 megawatt. Pasokan listrik dari PLTA Musi menyuplai energi listrik ke dalam sistem kelistrikan Sumatera.

Menurut Alex Noerdin, Pemerintah Provinsi Sumsel akan memanfaatkan aliran Musi sebagai sarana transportasi batu bara.

Potensi batu bara di Sumsel 22,5 miliar ton, tetapi yang dapat dimanfaatkan hanya 18 miliar ton dan yang digali baru 500 juta ton. Untuk itu, Pemprov Sumsel sedang menawarkan pembangunan rel ganda sejauh 277 kilometer dari Tanjung Enim menuju Tanjung Api-api. Jalur KA ini khusus akan mengangkut batu bara.

Pengamat ekonomi Universitas Muhammadiyah, Palembang, Amidi, mengatakan, potensi Sungai Musi yang terbesar adalah sebagai jalur transportasi barang dari Palembang ke pedalaman Sumsel atau sebaliknya.

Menurut Amidi, Pasar 16 Ilir di Palembang yang ada di pinggir Sungai Musi merupakan pusat jual-beli barang, yang selanjutnya diangkut dan dijual ke wilayah pedalaman Sumsel, dengan nilai transaksi sekitar Rp 1 miliar per hari. (WAD/JAN)

 

Sumber : Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook