Alpen Steel | Renewable Energy

~ Bendungan Adalah Cara Paling Klasik

Merawat Waduk

Air sarana mutlak pengembangan agribisnis. Bendungan adalah cara paling klasik untuk menabung air buat hari depan, baik untuk pertanian, perikanan, minum, dan mandi. Sejak beratus tahun lalu, nenek moyang kita ahli membuat bendungan berskala kecil, dalam bentuk telaga, sendang, atau waduk. Contoh terpopuler adalah waduk Kali Opak di Jawa Tengah, yang dibangun pada abad ke-9 atau pada 869, sepuluh tahun sesudah candi Prambanan selesai dibangun. Sayang waduk itu hancur karena letusan Gunung Merapi.

Contoh lain, waduk Prijetan di Jawa Timur, yang dibangun pada zaman Majapahit. Umurnya sudah lebih dari 600 tahun, tetapi masih berfungsi dengan baik meski airnya hijau akibat eutrofikasi.
Yang mengejutkan, itu juga terjadi pada waduk-waduk raksasa alias bendungan modern. Sekadar contoh, air waduk Gajahmungkur menyusut, sementara air Saguling berkurang drastis dan cenderung beraroma. Bendungan atau dam itu diharapkan bisa berfungsi hingga 100 tahun. Namun, dikhawatirkan kini tinggal 30-an tahun karena sedimentasi, penyusutan akibat kemarau panjang, kena racun tumpukan makanan ikan, dan pencemaran limbah rumahtangga maupun industri.

Akibatnya banyak ikan mati, karamba kosong, dan akuakultur tidak berkembang maksimal. Bahkan sayuran dan tumbuhan yang dialiri air beracun itu tidak dapat dimakan. Waduk seolah-olah menjadi monster menakutkan. Air waduk yang beracun tak layak minum.
Tanpa pemilik
Pada 2004 paling sedikit 500 waduk besar dan kecil di seluruh Indonesia mendapat masalah. Ada ribuan waduk, telaga, danau, dan bendungan di sekitar kita. Saya lahir di sebuah desa kecil di daerah pegunungan kapur utara. Desa-desa di sana tergantung pada sendang, semacam kolam besar, sumber air minum warga. Setahun sekali, sendang dibersihkan.
Warga bergotong-royong, mengurasnya dan membawa pulang ikan wader. Ikan kemudian dibagi rata kepada semua penduduk desa. Hal seperti itu, tidak mungkin terjadi di lingkungan waduk yang besar. Secara tradisional, sendang dan telaga milik rakyat setempat. Sedangkan di zaman modern, waduk-waduk besar dinyatakan sebagai sarana publik, yang tidak jelas kepemilikannya.
Kerusakan alam dan sarana publik, teristimewa di bidang perairan, biasanya berawal dari tidak adanya penanggung-jawab yang jelas. Kita lihat kerusakan sungai. Aliran yang melewati lebih dari satu provinsi, bahkan lebih satu kabupaten dan kota, seringkali rusak kualitas airnya. Sampah menggunung di hilir, erosi, dan penggundulan hutan terjadi di hulu.

Siapakah yang bertanggung-jawab? Masyarakat hilir atau hulu? Semua saling lempar tanggung-jawab. Bahkan kalau Jakarta kebanjiran, sering terdengar tuduhan: ini banjir kiriman dari Bogor! Kasus Situ Babakan di Depok, Jawa Barat, yang berbatasan dengan Jakarta, juga demikian. Danau yang semula indah menjadi kurang terawat. Masih untung kalau airnya tidak keruh, menghijau, dan bau seperti Situ Saguling. Yang terjadi sekarang, laut, danau, dan sungai-sungai Indonesia seolah-olah hidup tanpa pemilik.
Tanpa adanya pemilik yang jelas, sarana sebesar dan sebagus apa pun menjadi rentan, mudah rusak, tidak terawat, dan berumur pendek. Inilah yang sedang diantisipasi dan dicermati.

Berkah bendungan
Secara teoritis bendungan punya sejuta manfaat. Saguling memberi kita anak ikan yang gurih. Jatiluhur jadi lahan outbond. Bermega-mega watt listrik diproduksi bendungan. Berjuta-juta hektar sawah, kebun, dan ladang disuburkan oleh airnya. Pendeknya dari ekowisata sampai akuakultur. Dari karamba sampai selancar dan lomba perahu motor.

Berpuluh dam kecil dan raksasa kini tersebar di seluruh Indonesia. Saya sempat mengenalnya sejak masih sekolah gemar berkemah ke Waduk Karangkates di Jawa Timur, sampai pensiun dan menjadi konsultan lingkungan di Situ Saguling, Jawa Barat. Semua pengalaman menyenangkan, tapi juga menyedihkan. Menyenangkan karena menunjukkan kekuatan dan kreativitas manusia. Desa-desa di tepi Saguling punya beras malio berwarna merah kecokelatan dan gurih. Ada salak khas Desa Pangauban, besar, manis, dan renyah.
Bermacam produk agrikultur, akuakultur, hidroponik, permakultur, semua dapat dihasilkan oleh sebuah bendungan. Bahkan produk nonpangan seperti kesenian, pariwisata, olahraga, juga tersedia. Jangkauan jasa sebuah bendungan pun bisa sampai jauh. Misalnya bendungan Jatiluhur menyediakan air minum untuk Jakarta.
Masalahnya, sekarang banyak bendungan dalam bahaya. Umurnya jadi lebih singkat karena buruknya perawatan maupun faktor cuaca. Beberapa bendungan bahkan secara rutin memerlukan pasokan air hujan buatan. Kedung Ombo pun melahirkan garis-garis yang semakin lebar. Artinya, permukaan air menurun sampai jauh. Itulah kerusakan yang kelihatan.
Sebaliknya, kualitas air yang merosot bisa kelihatan, tercium baunya, tapi bisa juga tidak tampak sama sekali. Begitu juga lenyapnya kehidupan biota dalam air. Berjenis-jenis ikan dikabarkan punah saat pestisida dan pupuk kimia digunakan secara intensif sejak akhir 1960-an. Pada puncaknya, bukan hanya ikan yang punah, ternak yang minum air bendungan pun mati. Sejumlah kerbau, kambing, dan sapi jadi korban.

Mestinya bendungan memperbaiki bentang alam, meningkatkan kesuburan tanah, menyegarkan udara, dan menyejukkan suhu. Namun, faktanya justru keindahan dan kesuburan wilayah merupakan daya tarik yang menghancurkan. Tepian waduk diserbu pabrik-pabrik, restoran, bengkel-bengkel, dan perumahan. Limbah pertanian dan perkebunan pun mengalir ke sana. Akibatnya bendungan bisa menjadi tempat sampah raksasa.
Akibatnya, ikan keracunan. Apalagi bila terjadi penurunan suhu secara tajam pada Juli-September. Permukaan bendungan yang dingin akan berbalik ke bagian bawah yang lebih hangat. Pembalikan air ini mengakibatkan bencana. Bukan hanya pada ikan, tapi juga pada manusia yang mengkonsumsi airnya.
Pohon kearifan
Memasuki musim kemarau, angin keras mengguyur waduk Gajahmungkur. Saya membawa lebih dari seribu pohon, terdiri dari 31 jenis tanaman untuk membantu tim Ekspedisi Bengawan Solo. Sekelompok wartawan harian terkemuka sedang meneliti sungai sepanjang 527 km.
Penanaman pohon dilakukan di berbagai desa dan kawasan yang memerlukan tumbuhan produktif. Saya senang menyerahkan pohon-pohon produktif seperti melinjo, mangga, jati, petai, dan jeruk. Namun, sebetulnya kita berhak merasa prihatin. Penanaman pohon sebaiknya tidak dilakukan pada awal kemarau. Kecuali kalau tersedia air dan tenaga penyiram yang selalu siap sedia.

Sayangnya, Hari Lingkungan, yang dimeriahkan setiap awal Juni, memang cocok dengan musim tanam di negara-negara subtropis, khususnya di belahan utara. Ketika hal yang sama diterapkan di Indonesia, taruhannya sangat besar. Desa-desa di seputar Saguling protes keras ketika disumbang tanaman pada awal Juni. 'Pada saat kemarau air sangat langka. Jangankan untuk menyiram tanaman, untuk minum sehari-hari air bersih pun susah dicari,' kata seorang warga Desa Bongas.
Penanaman pohon di seputar waduk dan tepi sungai hanyalah satu langkah kecil untuk memelihara debit air dan mengamankan tebing dari bahaya longsor. Langkah penting yang harus diwujudkan adalah kepedulian dan kearifan masyarakat. Bukan hanya masyarakat setempat, tapi juga masyarakat hilir atau di tempat lain yang ikut menikmati hasil bendungan itu. Para konsumen listrik di perkotaan, misalnya, adalah pemangku bendungan yang berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Bukan hanya listrik, tapi juga buah-buahan, beras, keladi, ternak, maupun tanaman lain yang berkembang di seputar waduk. Kearifan yang sudah telanjur ditinggalkan adalah mengutamakan sarana publik dengan skala yang tertangani. Di Tabanan, Bali, ada bendungan Telaga Tunjung yang luasnya hanya 16,5 ha. Sekecil apa pun, ia mampu mengairi lahan pertanian seluas 1.335 ha. Waduk kecil itulah yang membuat Tabanan dikenal sebagai lumbung beras.
Sebaliknya, kalau kita lihat Saguling dengan luas hampir 48.000 ha, yang terbayang adalah kerja superkeras. Untuk merawatnya diperlukan penegakan hukum yang kuat, teknologi yang tinggi, dan masyarakat yang cinta bendungan.
Penegakan hukum
Terwujudnya masyarakat peduli bendungan syarat menjaga mutu air dan merawat sarana publik. Contoh munculnya Keswadayaan Masyarakat Menjaga Mutu Air Sungai (KM3AS) di Sungai Citarum. Mereka belajar hidup cerdas lingkungan. Bukan hanya mengelola tebing bendungan dengan tanaman produktif, tapi juga mencermati 200-an pabrik yang membuang limbah ke Saguling.

Menurut peraturan, semua pabrik punya pengolahan limbah. Kenyataannya, air tetap kotor, bau, dan cenderung semakin rusak. Oleh karena itu, rakyat berkewajiban memantau, mengawasi, dan menjaga agar tidak terjadi pelanggaran peraturan.

Jadi, membangun agribisnis, memelihara sarana sebesar apa pun, pada dasarnya dapat dimulai dari rumah sendiri. Itulah yang mulai dilaksanakan di desa-desa Selacau, Pangauban, Bongas, Laksanamekar, dan Cangkorah di seputar Situ Saguling, agribisnis, bermula dari dapur yang memproduksi makanan kita sehari-hari. ****) Eka Budianta, kolumnis Trubus, direktur proyek Jababeka Botanical Gardens, budayawan. 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook