Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pembangunan Waduk Serbaguna Jatigede

 Pembangunan Waduk Jatigede

SUDAHKAH RENCANA PEMBANGUNAN JATIGEDE DIKAJI SECARA KOMPREHENSIP ? PEMBANGUNAN Waduk Serbaguna (PWS) Jatigede, yang direncanakan pemerintah sejak tahun 1963 berlokasi di Kabupaten Sumedang, propinsi Jawa Barat, Sepertinya sudah final dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Pemerintah pusat dan juga pemerintah daerah Jawa Barat, sudah tak sabar lagi untuk segera melaksanakan proyek yang diperkirakan akan menelan biaya triliunan rupiah. Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan dalam sebuah pernyataan nya sebagaimana yang dimuat di harian Kompas, jumat 12 September 2003, mengatakan bahwa pembangunan Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang akan terus dilanjutkan meskipun ada sebagian masyarakat yang menolak. Gubernur menyatakan, keberadaan waduk itu sangat penting bagi masyarakat di pantai utara Jabar yang selama ini menjadi lumbung pangan.

Selain itu, tim khusus yang dibentuk Gubernur Jabar untuk menangani Waduk Jatigede saat ini tengah mencari alternatif lokasi lain untuk menjadi lokasi waduk. Titik-titik pembangunan konstruksi utama waduk dan bendungan dalam desain lama akan dipikirkan ulang dan dicari kemungkinan pemindahannya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembangunan JATIGEDE akan dilaksanakan. Sudahkah dikaji secara komprehensip ? Pembangunan mega proyek yang menurut rencananya akan diperuntukkan bagi pembangunan di sektor pertanian (irigasi) di wilayah utara yaitu bagi daerah Indramayu, Majalengka dan Cirebon, serta pencegah banjir di wilayah kabupaten Indramayu, diperkirakan akan menenggelamkan 5 kecamatan dan 30 desa dengan jumlah penduduk sekira 7163 KK atau sekira 70.000 jiwa.

Dan, akan menenggelamkan areal lahan yang akan tergenang sekira 4896,22 ha. Ini berarti sekira 20% dari luas areal lahan pertanian di Kabupaten Sumedang akan hilang karena tergenang atau luas lahan sawah (pertanian) di Kabupaten Sumedang yang semula seluas 33.672 ha akan berkurang menjadi 26.934 ha. . Bila rencana tersebut akan menjadi kenyataan, ini berarti bahwa produksi beras di Kabupaten Sumedang akan berkurang sekira 80.000 ton per tahun atau senilai sekira Rp 120 miliar/tahun dengan harga gabah Rp 1.500.000 per ton.(Opan S Suwartapraja ? Kandidat Doktor ? Lembaga Penelitian UNPAD ? 26 Maret 2006)

Memiliki Potensi Kerentanan Tanah yang rawan longsor. Keadaan fisik Jatigede memiliki potensi rawan longsor. Hal ini pernah dikemukakan oleh geolog dari Geologi Tata Lingkungan (GTL), yang menyatakan bahwa lokasi bendungan atau dam site PWS Jatigede termasuk kategori daerah labil, daerah patahan dan sering terjadi gempa. Harian ini juga memberitakan bahwa di daerah rencana genangan PWS Jatigede telah terjadi tanah amblas sedalam 3 M di Blok Asem Desa Cijeungjing Kecamatan Cadasngampar yang menimbulkan terputusnya ruas jalan yang menghubungkan Kecamatan Wado dengan Tomo yang melintasi dam site, sebanyak 34 buah rumah retak-retak karena amblas sedalam 1,5 M serta 59 buah rumah lainnya terancam longsor. Begitu pula di luar rencana PWS Jatigede telah terjadi hal yang sama yaitu di Dusun Pamelangan Desa Cikade Kecamatan Jatigede ("PR", 17 Maret 2004).

Masalah lain dari aspek fisik ini adalah gundulnya hutan-hutan di daerah hulu sungai. Gundulnya hutan di hulu Sungai Cimanuk ini menjadikan mudah banjir di musim hujan dan cepat kering di musim kemarau. Banjirnya Sungai Cimanuk yang mudah terjadi pada setiap saat ini akan meningkatkan erosi, sehingga Sungai Cimanuk selain terkenal karena derasnya juga terkenal mempunyai tingkat erosi yang tinggi, sehingga akan meningkatkan sedimentasi yang pada gilirannya akan berpengaruh terhadap umur bendungan. (Sumber : Lembaga Penelitian UNPAD)

Hal lain yang harus diperhitungakan secara matang ,bagaimana dengan nasib puluhan ribu orang warga yang dengan terpaksa harus meninggalkan daerahnya yang selama ini sudah hidup berpuluh-puluh tahun secara turun temurun. Mereka harus memulai baru bagi segala sesuatunya. Puluhan ribu orang akan kehilangan pekerjaannya, terutama yang selama ini hidupnya dari hasil pertanian, baik palawija maupun sawah. Pemerintah selama ini tidak memiliki pengalaman yang bagus dalam relokasi dalam jumlah yang banyak. Dan sampai dengan saat ini pemerintah belum memiliki skenario yang jelas dan pasti berkaitan dengan relokasi masyarakat jatigede yang daerahnya akan tergenang. Pemerintah, baik pusat maupun pemerintah daerah Jawa Barat merasa yakin betul, bahwa pembangunan Proyek Waduk Serbaguna (PWS) merupakan satu-satunya cara yang dapat menyelesaikan masalah kekeringan dan banjir di sebagian wilayah PANTURA.

Pertanyaannya sudahkah dikaji secara komprehensip?. Waspadai : bias pada bendungan besar Menurut DAVID SUTASURYA Direktur YPBB (Yayasan Bio Science Dan Bio Teknologi) dalam sebuah tulisannya tentang DAM Jatigede mengatakan Komisi Bendungan Dunia menemukan bahwa semua proyek bendungan besar, tidak saja mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial secara memadai, tetapi juga bahwa sebenarnya ada alternatif untuk memecahkan masalah yang sama, tetapi tidak dipertimbangkan secara memadai dan setara. Bias pada bendungan besar telah meminggirkan alternatif-alternatif yang lebih efektif, mudah dan berkelanjutan.

Contoh kasus : Pada kasus Bendungan Nam Theun 2 di Laos, Bank Dunia mempromosikan bahwa bendungan ini akan meningkatkan penghasilan penduduk Laos. Namun pada kenyataannya tidak ada kajian komprehensi tentang alternatif-alternatif apa yang sebenarnya ada untuk meningkatkan pendapatan. Tidak ada analisis tentang bagaimana sumberdaya di daerah tersebut dapat dikelola untuk menyeimbangkan perlindungan Daerah Aliran Sungai dan meningkatkan penghidupan, tanpa harus menanggung konsekuensi dampak negatif dari bendungan Nam Theun 2. Pertimbangkan track record bendungan lain Masih menurut David dalam sebuah diskusi publik yang diselenggarakan WALHI JABAR, mengemukan ,terkait dengan hal tersebut, maka cara terbaik adalah melihat track record dari bendungan-bendungan lain.

Track record dapat dilihat secara global, mengingat proyek bendungan biasanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Selain itu track record secara lokal juga penting untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada situasi sosial, ekonomi dan alam lokal. Secara global, komisi bendungan dunia menemukan bahwa : 1. Dampak sosial bendungan adalah luar biasa, namun biasanya diabaikan. Satu persen penduduk dunia harus tersingkir dari tanah kelahirannya, kehilangan ikatan budaya, mendapat tempat tinggal yang kurang subur bahkan di daerah-daerah kumuh perkotaan. Banyak diantaranya dipindahkan secara paksa. 2. Dampak lingkungan bendungan sangat besar, sukar diantisipasi dan sulit diatasi : misalnya punahnya spesies ikan lokal, hilangnya hutan, lahan basah dan lahan pertanian yang subur.

Bahkan bendungan diperkirakan merupakan kontributor seperempat dari total pemanasan global, akibat metan dan karbondiakosida yang dikeluarkan dari proses dekomposisi tumbuhan yang tergenang. Dampak negatif ini biasanya tidak diperhitungkan sebelumnya dan langkah untuk memecahkannya tidak dilakukan. 3. manfaat yang dipromosikan seringkali tidak tercapai atau akhirnya memberikan hasil sebaliknya : a. bila bendungan dikatakan akan menyelamatkan lahan pertanian melalui sistem irigasi, ternyata 20% permukaan bumi telah rusak akibat penggaraman yang terjadi akibat irigasi dari bendungan. b. Bendungan dikatakan sebagai tempat penyimpanan air yang efektif. Namun ternyata 5% dari air tawar dunia justru menguap melalui bendungan c. Bendungan yang dikatakan sebagai sarana untuk mengontrol banjir ternyata justru meningkatkan kerentanan manusia terhadap banjir karena berbagai sebab. Antara lain : i.

Kerusakan bendungan menimbulkan banjir yang lebih dahsyat. Kerusakan ini terjadi akibat ketidaksanggupan pemerintah melakukan pemeliharaan bangunan. Semakin besar suatu bendungan, resiko jebol dan dampak yang ditimbulkan oleh banjir yang diakibatkannya semakin tinggi pula. Semakin besar suatu bendungan dibutuhkan biaya dan kemampuan sumberdaya manusia yang lebih tinggi, sesuatu yang sulit diharapkan di negara berkembang. ii. Persepsi yang salah tentang mana daerah yang aman dan yang tidak terhadap banjir. Akibatnya aset-aset bernilai ekonomi tinggi ditempatkan di kawasan yang rentan terhadap banjir (kalau bangunan jebol). Akhirnya kerugian malah lebih besar daripada kalau banjir merupakan kejadian yang rutin.

Antara 1960 dan 1985 pemerintah Amerika mengeluarkan 38 miliar dolar untuk mengontrol banjir. Sebagian besar untuk infrastruktur seperti bendungan. Tapi kerusakan akibat banjir terus meningkat lebih dari dua kalinya. d. Lebih dari setengah bendungan PLTA yang dikaji oleh KBD menghasilkan lebih sedikit energi dari yang dijanjikan e. 70% bendungan tidak memenuhi target pasokan air. Seperempat dari bendungan hanya memenuhi kurang dari setengah target pasokan. f. Setengah bendungan tidak memenuhi target irigasi. Semakin besar bendungan semakin buruk pencapaiannya. KBD memperkirakan bahwa bendungan hanya berkontribusi 12-16 persen dari total produksi makanan dunia. Sedangkan 60% nya dikontribusikan oleh pertanian tadah hujan. 4. Komisi bendungan dunia menemukan bahwa nilai ekonomi sebagian besar bendungan sebenarnya hanyalah marginal :

a. Biaya pembangunan bendungan rata-rata 56% lebih tinggi dari yang dianggarkan b. Setengah bendungan yang dikaji KBD penyelesaiannya terlambat lebih dari satu tahun Contoh perbandingan dengan kasus bendungan lain yang berdekatan : Dalam kasus Bendungan Theun-Hinboun di Laos, sebenarnya ada bendungan lain yang telah dibangun 50 kilometer ke arah hilir (didanai oleh Asian Development Bank). Namun kinerja dan dampak bendungan ini tidak dijadikan pertimbangan dalam pengambilkan keputusan dibangunnya bendungan .

Padahal, bendungan Theun-Hinboun, telah menimbulkan dampak yang besar seperti rusaknya sumber penghidupan lebih dari 25.000 orang yang tinggal di daerah hilir dan hulu bendungan, termasuk berkurangnya penangkapan ikan, rusaknya kebun sayur, sumber air minum di musim kering dan sulitnya transportasi melalui sungai. Bila semua hal di atas dipetimbangkan, jelas bahwa pembangunan bendungan adalah investasi berisko besar baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Karena itu kita perlu meminta pemerintah untuk segera melakukan : Kajian alternatif secara komprehensif, di mana semua pilihan untuk memecahkan masalah yang akan dipecahkan melalui pembangunan bendungan dipertimbangkan secara setara. (Sumber : Lakukan Kajian Secara Komprhensip- David surya) Pemerintah berhak menjawab pertanyaan tersebut diatas. Tentu saja ini menjadi penting untuk dijawab secara jujur oleh pemerintah, mengingat kegiatan proyek tersebut memiliki potensi yang dapat membahayakan keberlangsungan kehidupan manusia saat ini dan yang akan datang. Baik dari aspek soial maupun lingkungan.

Tags: Pembangunanwaduk
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook