Alpen Steel | Renewable Energy

~ Tanggul Situgintung Jebol

      Waspadai Kebocoran Bendungan

SEIRING azan Subuh, Jumat (27/3), tubuh tanggul Situ Gintung jebol. Berita terakhir TVRI, Minggu (29/3), 91 orang meninggal, 120 hilang, ratusan terluka, dan puluhan bangunan rumah serta infrastruktur rusak berat.

Situ dalam bahasa Sunda berarti kolam besar. Tetapi kenyataannya Situ Gintung bukan kolam besar tetapi sudah termasuk bendungan besar. Kriteria bendungan besar yaitu jika tinggi tanggulnya lebih dari 15 meter atau daerah tampungannya lebih dari 500.000 meter kubik.

Data lain menyebutkan tinggi tanggul Situ Gintung 10 meter, kapasitas situ 2,1 juta m3. Luas 21,4 ha dari luas semula 31 ha. Pemanfaatan/desain awal untuk irigasi. Berdasarkan data kapasitas situ/waduk 2,1 juta m3, Situ Gintung sudah dikategorikan menjadi tipe bendungan besar.

Bendungan jebol lainnya

Pada tanggal 27 November 1967 pada bagian cover dam Bendungan Sempor yang sedang dibangun jebol. Kejadiannya terjadi malam hari saat turun hujan lebat. Dalam musibah ini 127 orang meninggal. Nama-nama yang meninggal dicantumkan pada batu nisan di plaza bendungan.

Diperkirakan pada tahun 542 SM Bendungan Ma`rib di Yaman jebol sehingga menyebabkan banjir besar yang memusnahkan kemakmuran Kaum Saba. Kebun-kebun subur Kaum Saba berubah menjadi gurun pasir tandus. Dalam Alquran Surat Saba ayat 15-17 disebutkan: ".... Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi pohon-pohon yang berbuah pahit". Kaum Saba yang meningkat kemakmurannya karena adanya irigasi dari Bendungan Ma`rib kemudian kembali menjadi kafir, sehingga Allah swt murka dengan mengazabnya meruntuhkan Bendungan Ma`rib.

"Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi serta keruntuhan bendungan, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Yaitu orang yang mengingat Allah swt tatkala berdiri, duduk maupun berbaring dan seraya mengucap: ya Allah tak Kau jadikan itu semua sia-sia, Maha Suci Engkau dan peliharalah kami dari siksa neraka dan jadikanlah kami orang-orang yang berbakti".

Pada 9 Oktober 1963 terjadi overtopping di atas puncak Bendungan Vaiont di Italia sehingga bendungan itu runtuh. Banjir besar yang disebabkan oleh runtuhnya bendungan ini menelan korban jiwa tidak kurang dari 2.600 orang.

Bendungan Teton di Idaho Amerika Serikat setinggi 93,0 m runtuh pada 5 Juni 1976. Akibatnya empat belas orang meninggal. Peristiwa runtuhnya bendungan ini terjadi pada saat pertama pengisian air waduk saat air dalam waduk telah hampir penuh.

Korban jiwa yang besar, hampir 86.000 orang terjadi akibat runtuhnya Bendungan Shimantan dan Banqiao di Henan RRC pada 8 Agustus 1975. Keruntuhan bendungan terjadi tengah malam akibat hujan amat besar dan terjadi pelimpahan di puncak bendungan.

Bendungan Darma dan Situpatok bocor

Seiring dengan tragedi Situ Gintung, "PR", Sabtu (28/3), menurunkan berita bahwa dua bendungan besar di Jawa Barat bocor. Salah satu bendungan besar yang bocor disebutkan, yaitu Bendungan Darma di Desa Darma, Kabupaten Kuningan.

Bendungan Darma dibangun antara tahun 1959 sampai tahun 1962. Bendungan ini berada di bagian hulu Sungai Cisanggarung. Bendungan dibangun untuk irigasi dengan luas areal 22.060 hektare.

Berdasarkan data bendungan besar di Indonesia pada Pusat Litbang Sumber Daya Air, saat muka air banjir di waduk pada elevasi 713,40 m, volume waduk yaitu 40,52 juta m3. Sedangkan saat muka air normal di waduk pada elevasi 712,50 m, volume waduk yaitu 37,90 juta m3. Tipe bendungan yakni urukan batu dengan membran baja. Tinggi bendungan 36,0 m, panjang puncak 227 meter. Lebar puncak bendungan 6,0 m, elevasi puncak + 714,09 m.

Bendungan dilengkapi dengan pelimpah tanpa pintu dengan lebar 30,0 m. Pada tahun 1972 membran beton di lereng udik tubuh bendungan pernah pecah, kemudian diganti dengan membran baja.

Berita yang diturunkan Harian "PR" (28/3) bahwa kebocoran yang terjadi di Bendungan Darma diakibatkan tubuh bendungan digunakan sebagai jalan bagi lalu lintas umum, ini sama sekali tidak benar. Tetapi sebagai salah satu penyebab penurunan permukaan tubuh bendungan, ya.

Dewasa ini sedang dibangun jembatan dan jalan baru di bagian hilir bendungan tetapi masih belum digunakan, sehingga lalu lintas masih menggunakan puncak tubuh bendungan.

Pada 16 Maret 2009 kami melakukan peninjauan lapangan ke Bendungan Darma dan Bendungan Situpatok di Desa Patok, Cirebon. Hasil pengamatan di Bendungan Darma, yaitu permukaan tubuh bendungan bagian tengah turun sekitar 4 cm. Di samping itu, di hilir tubuh bendungan Darma terjadi rembesan. Besarnya rembesan aliran yang terjadi berkisar antara 25-50 liter/detik. Air yang mengalir ke luar dari tubuh bendungan cukup jernih. Debit rembesan membesar jika muka air di waduk meninggi. Pengukuran aliran dicatat dengan alat ukur debit. Rembesan ini mengalir pada rongga-rongga yang terdapat dalam tubuh bendungan dikumpulkan pada dua titik bak tampung yang selanjutnya ditampung pada satu bak tampung lebih besar. Seterusnya air hasil rembesan ini dialirkan ke alat ukur debit.

Demikian pula halnya pada Bendungan Situpatok. Saat air di waduk cukup tinggi, terjadi rembesan aliran di bagian hilir pelimpah. Rembesan aliran air yang cukup jernih, tampak ke luar pada sisi-sisi tebing dan mengalir ke jalan raya. Tidak ada pengamatan jumlah aliran yang keluar/bocor pada bendungan/situ ini.

Amankah tubuh bendungan?

Lantas muncul pertanyaan, amankah tubuh Bendungan Darma? Melihat rembesan yang terjadi baik pada Bendungan Darma atau Bendungan Situpatok banyak pihak awam yang khawatir akan tingkat keamanan kedua bendungan tersebut.

Sepanjang aliran air yang keluar dari rongga-rongga dari tubuh bendungan Darma dan Bendungan Situpatok jernih/tidak mengangkut sedimen (keruh) dan aliran yang keluar tidak meningkat dengan tajam, maka tingkat keamanan bendungan masih dalam kategori aman.

Jika tiba-tiba aliran air yang keluar dari tubuh bendungan ini menjadi tinggi, patut dicurigai tingkat keamanan bendungan tersebut.

Pada bendungan Darma terdapat dua macam instrumentasi piezometer untuk menentukan tekanan hidrostatik. Satu alat jenisnya VS Datamate. Sayang alat ini tidak dapat difungsikan sejak tahun 2008. Sehingga pengamatan tingkat keamanan bendungan terganggu.

Mewaspadai tingkat keamanan bendungan

Tragedi keruntuhan tanggul Situ Gintung yang merenggut ratusan nyawa harus menjadi pelajaran berharga bagi bangsa ini. Tanda-tanda keruntuhan tanggul Situ Gintung ini sebelumnya telah diberikan oleh Yang Kuasa, tetapi kita kurang tanggap. Jika tanda-tanda yang diberikan Yang Kuasa sekecil apa pun, dipikirkan dan ditindaklanjuti, jumlah korban jiwa dan kerugian harta benda akan dapat diminimalkan.

Agar tak terjadi musibah keruntuhan bendungan/situ ketiga di Indonesia dan kesekian kalinya di belahan dunia lainnya, pemeliharaan bendungan dan atau situ perlu dilakukan secara baik. Demikian pula evaluasi keamanan bendungan perlu dilakukan secara berkala.

Kebocoran yang terjadi baik pada tubuh bendungan maupun pada tanggul-tanggul situ perlu diwaspadai. Pemantauan terhadap tingkat keamanan bendungan besar yang jumlahnya lebih dari dua ratus bendungan di Indonesia senantiasa perlu dilakukan secara berkala. Demikian pula inspeksi lapangan terhadap bendungan perlu dilakukan secara rutin oleh petugas bendungan dan Komisi Bendungan.

Secara umum masyarakat awam pun dapat mengetahui gejala kerusakan tubuh bendungan/tanggul situ. Tanda-tanda yang mencurigakan dapat diamati secara visual dengan melihat keretakan, rekahan, amblesan, longsoran kecil. Lokasi rembesan dapat pula ditandai dengan lebih suburnya rumput atau tanaman lain di lokasi tersebut dan dapat dibandingkan dengan kesuburan rumput/tanaman lain di sekitarnya.

Dalam rangka peningkatan pengetahuan tenaga pengelola bendungan untuk menginspeksi dan memantau keamanan bendungan, Pusat Litbang Sumber Daya Air merencanakan kegiatan pelatihan Keamanan Bendungan sekitar Juli 2009. Diharapkan dengan pelatihan ini kemampuan sumber daya manusia pengelola bendungan meningkat. Dengan demikian musibah akibat keruntuhan bendungan tak terulang lagi. Semoga. (Erman Mawardi, Profesor Riset Teknik Hidraulik di Pusat Litbang Sumber Daya Air)

Sumber:Pikiran Rakyat.

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook