Alpen Steel | Renewable Energy

~ Waduk Tiong Sebagai Inspirasi Pembangunan Pertanian Terpadu

Waduk Tilong: Inspirasi Pembangunan Pertanian Terpadu NTT

Maksi Dedi Mistale (19) sedang memperbaiki mesin traktor tangan Yanmar berkekuatan 1.250 PK, yang tali kipasnya sedang terlepas. Tali kipas itu berulang kali lepas saat ia mendorong traktor pembajak. Sekujur tubuhnya berpeluh kehitaman, di tengah terik yang begitu menyengat.

Mistale menggarap lahan milik Saul Foes (53) dengan upah Rp 250.000 per bidang sawah seluas 7.500 meter persegi (m2). Ia mengerjakan dua bidang sawah atau 15.000 m2 (1,5 hektar). Target selesai sebelum pertengahan Juni karena harus segera ditanam saat itu.

”Saya mentraktor dan menggemburkan tanah. Kebetulan saat ini air Waduk Tilong sedang masuk sehingga saya buru waktu. Soal tanam dan persiapan benih itu urusan tenaga kerja lain,” kata Mistale saat ditemui di lokasi persawahan Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Senin (9/6).

Putra dari Yunas Mistale (58) dan Ranci Mistale (47) ini bekerja untuk membantu seorang adik yang masih di kelas II SMA Kupang serta membantu kedua orangtuanya yang kemampuan bertaninya kian surut.

Berbatasan dengan areal tempat Mistala bekerja terdapat petak sawah milik Mince Niti (39). Mince bersama putranya, Yanto Niti, siswa kelas III SD Kristen Kupang, saat ditemui sedang mengangkut batang jerami yang baru dipotong menuju kediaman yang berjarak sekitar 300 meter. Di sana onggokan jerami yang masih menyatu dengan bulir padi itu dirontokkan secara tradisional oleh Timo Nite, suami Mince. Perontokan terpaksa agak menjauh karena lokasi persawahan penuh genangan air, sejak 30 Mei.

Petrus Rasing (43), penggarap lahan milik mantan pejabat NTT, menuturkan hampir semua pejabat di Kota/Kabupaten Kupang memiliki lahan di Noelbaki sejak Waduk Tilong dibangun. Mereka menguasai areal 1.000 m2 (2 ha), dibeli dari petani dengan harga Rp 1 juta-Rp 5 juta per bidang. Tanah-tanah itu kemudian digarap petani dengan sistem bagi hasil.

Selain padi, kawasan Noelbaki juga menjadi ladang sayuran. Buah yang paling terkenal di Noelbaki adalah semangka. Pada musim kemarau buah itu selalu dipajang sepanjang jalan raya Kupang-Atambua.

Dari 5.000 hektar lahan di Noelbaki, 40 persen dikuasai pejabat, 60 persen milik petani. Beberapa petani juga menyerahkan lahan itu kepada penggarap sehingga sebagian besar yang bekerja di areal itu adalah penggarap.

Kini, petani (penggarap) Noelbaki tidak membeli beras. Biasanya beras hasil produksi habis dikonsumsi menjelang akhir tahun. Mereka beli beras pada Desember-Februari, dari hasil jual sayur dan buah-buahan. Maret-April mereka panen jagung dan kacang-kacangan.

Selain menggarap lahan, Rasing juga memiliki enam sapi diikat di sawah. Saat padi sedang hijau, sapi diikat di hutan sekitar areal sawah karena terdapat rumput hijau. Berat sapi 100 kilogram-300 kilogram per ekor. Pekan lalu ia menjual satu ekor sapi dengan harga Rp 6 juta untuk biaya anak masuk perguruan tinggi di Unika Kupang.

Data Kupang dalam angka (2007) menyebutkan, areal persawahan di Noelbaki seluas 5.000 hektar. Areal ini ditanami dua kali setahun karena mendapat suplai air dari waduk atau Bendungan Tilong, 7 kilometer di ketinggian bukit Tilong. Produksi gabah kering di areal tersebut 28.700 ton per tahun, atau rata-rata 5,74 ton per hektar per tahun, atau 2,87 ton per hektar per panen.

Sayur dan buah-buahan

Selain padi, petani di Noelbaki juga menanam sayur dan buah-buahan seperti semangka, mentimun, terung, labu, tomat, dan pisang. Juga tanaman bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, sereh, dan lengkuas. Panen sayur seperti kangkung, sawi, kol, dan wortel setiap tiga pekan.

Mince menuturkan, di areal persawahan 500 m2 itu, ia pernah memelihara ikan mujair dan lele. Tetapi menjelang besar, ikan itu dicuri orang atau dibawa banjir sampai ke laut pada musim hujan. Pada musim hujan pintu air waduk menuju sawah ditutup, tetapi sering banjir meluap ke berbagai tempat, kemudian mengikuti alur waduk menuju laut.

Sayur-mayur dan buah-buahan biasanya dijual di pasar tradisional di Kota/Kabupaten Kupang. Sekitar 450 juta penduduk Kota/Kabupaten Kupang mengonsumsi sayur dari Kabupaten Kupang, selain Soe dan Flores.

Hal yang sama diakui Ny Ema Samene (57), warga Desa Tilong. Sebelum Tilong dibangun, daerah sepanjang punggung dan kaki bukit Tilong sangat gersang. Tidak ada pohon rindang atau rumput hijau. Sekitar 540 keluarga di daerah itu mengambil air bersih PDAM di Noelbaki atau Oelnasi, yang berjarak 6 kilometer.

Kini, warga Tilong bisa menggali sumur di pinggang bukit dengan kedalaman hanya 5 meter. Daerah sekitar dapat digarap untuk sayuran dan palawija karena lembab. ”Pisang, mangga, dan nangka pun terus berbuah sepanjang tahun, besar-besar pula buahnya. Dulu tanaman di sini sangat gersang, jarang berbuah lagi,” tutur Samene.

Waduk Tilong dibangun tahun 1999, diresmikan Presiden Megawati Soekarnoputri, 19 Mei 2002. Waduk itu memiliki panjang 162,50 meter dengan volume total 19,31 juta m3 air. Tinggi tanggul 44,50 meter dan luas genangan air 154,97 hektar. Kapasitas debit limpahan 337 m3/detik, debit pengambilan untuk irigasi 2,38 m3/detik, sementara untuk kebutuhan air baku (rumah tangga) 0,15 m3/detik.

Kepala Seksi Perencanaan dan Evaluasi Teknis Subdinas Prasarana Sumber Daya Air dan Irigasi Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah NTT Donatus Djahur mengatakan, kekeringan yang dikeluhkan selama bertahun-tahun di NTT sebenarnya dapat diatasi dengan pembangunan waduk (bendungan) atau embung sebanyak mungkin. Waduk dan embung ini tidak hanya untuk air bersih, tetapi pertanian, peternakan, dan perkebunan. Persoalan busung lapar, diare, air bersih, dan gagal panen pun dapat diatasi.

”Tetapi sampai saat ini belum ada kepala daerah memberi perhatian khusus pada bendungan atau embung. Kita lihat contoh Waduk Tilong. Dulu warga Noelbaki sangat sulit mendapatkan air, tetapi sekarang hampir tiap rumah ada sumur,” kata Djahur.

Warga bisa panen padi dua kali dalam setahun, panen sayur setiap tiga pekan, ada rumput atau pohon hijau di mana-mana, dan lingkungan sekitar sehat. Bahkan mereka menjadi pemasok sayuran dan beras untuk warga Kota/Kabupaten Kupang.

Sumber: Kompas.

 
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook