Alpen Steel | Renewable Energy

Kemarau, Produksi Listrik PLTA Jateng Anjlok 30 Persen

Produksi listrik dari sejumlah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Jateng yang dikelola PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkit, memasuki musim kemarau ini anjlok hingga 30 persen. Bahkan, sejumlah PLTA yang masih bergantung pada pasokan air dari waduk milik pemerintah daerah terancam berhenti beroperasi kalau waduk itu mulai ditutup.

General Manager PT Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkit (UBP) Mrica Banjarnegara, Teguh Adi Nuryanto, Rabu (25/7), mengatakan, dari seluruh PLTA Mrica yang dioperasikan di Jawa Tengah, kini hanya beroperasi pada beban puncak dari pukul 17.00-22.00. Hal itu mengakibatkan produksi listrik 200 sampai 220 megawatt dari seharusnya 306 MW.

“Sejak memasuki kemarau, pasokan air untuk menggerakkan turbin berkurang. Kami hanya dapat mengoperasikan turbin pada beban puncak. Jadi ada penurunan produksi hingga 25 sampai 30 persen,” katanya.

Seperti PLTA UPB Mrica, lanjutnya, kini hanya dua turbin yang beroperasi dari tiga turbin yang ada. Itu pun dioperasikan pada malam hari, karena pada siang hari waduk harus diisi penuh air agar dapat menggerakkan turbin. Hal itu mengakibatkan, produksi hanya 120 MW dari seharusnya 180 MW.

“Dengan kondisi Waduk Mrica yang kini elevasinya hanya 230,70 meter dari elevasi optimal 231,1 meter, tidak mungkin dapat mengoperasikan ketiga turbin sepenuhnya. Kalau dipaksakan, volume waduk akan berkurang drastis. Padahal sekarang ini pasokan air yang masuk ke waduk turun drastis,” katanya menjelaskan.

Apalagi, lanjutnya, PLTA yang dioperasikan PT Indonesia Power di Jateng hampir seluruhnya masih dipasok air dari waduk milik pemerintah daerah, seperti Waduk Sempor, Wadaslintang, dan Kedungombo. Sebaliknya, waduk milik pemerintah daerah lebih banyak digunakan untuk memasok kebutuhan pertanian, yang setiap musim kemarau aliran airnya akan ditutup.

“Kalau September nanti, aliran air irigasi ditutup, PLTA yang ada di ketiga waduk itu praktis tak akan beroperasi. Sebaliknya, yang kami miliki sendiri hanya Waduk Mrica,” katanya.

Karena itu, dia memperkirakan, kalau sejumlah waduk di Jateng mulai ditutup, produksi listrik dari PLTA di Jateng bakal turun lagi.

Sebaliknya, kontribusi produksi listrik PLTA terbesar yang dikelola PT Indonesia Power, lanjut Teguh, hanya ada di PLTA UBP Mrica, dan itu pun mulai menurun. “Dari 306 MW total produksi listrik kami, separuhnya dari UBP Mrica. Separuhnya lagi tersebar di sejumlah waduk di Jateng,” ucapnya.

Meski demikian, Teguh mengatakan, penurunan produksi itu tak akan memengaruhi pasokan listrik Jawa-Bali, karena seluruh pembangkit listrik Jawa-Bali telah terhubungkan dalam satu ring inter-koneksi. “Kalau PLTA kami turun produksinya, pasokan listrik akan didukung oleh pembangkit lainnya seperti dari Jawa Timur atau Jawa Barat,” katanya.

BANJARNEGARA, KOMPAS
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook