Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pendanaan PLTA Masih Sulit

Minat Investor untuk Membangun PLTA Rendah

Minat investor swasta untuk membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sangat rendah. Padahal pembangkit jenis ini memiliki peran yang seringkali tidak tergantikan dalam suatu sistem ketenagalistrikan. Menurut Direktur Utama PT PLN (Persero) Eddie Widiono, di Jakarta, Minggu (8/8), rendahnya minat investor itu dikarenakan pembangunan PLTA memiliki resiko tinggi dan memakan waktu lama. Selain itu, pendanaan lebih sulit karena lembaga keuangan atau perbankan enggan memberikan pinjaman untuk membiayai sektor ini. "Karena itu animo untuk membangun PLTA sedikit sekali," kata dia.

Kendati demikian keberadaan PLTA tetap dibutuhkan, tetapi tidak dalam jumlah yang sebesar perkiraan semula. Pembangkit jenis ini penting terutama untuk mengatasi beban puncak seperti yang terjadi di Bakoro, Sulawesi Selatan. "Kebetulan di situ karakternya lebih ke run of river," kata dia.

Eddie mengatakan, sebenarnya pola pendanaan lunak dari pemerintah bisa saja digunakan. Tetapi jumlahnya tidak terlalu besar, sehingga pembangunannya tidak bisa maju pesat. Sebaliknya pola pendanaan dari swasta juga bisa diterapkan. Namun investor meminta kepastian hukum. Mereka paling tidak suka dengan masalah-masalah kecil yang biasa diributkan seperti masalah lingkungan dan kemasyarakatan.

Masalah tersebut, lanjut Eddie, telah dilaporkan kepada Presiden beberapa waktu lalu. Menurut Presiden, masalah menonjol ini harus dipecahkan terlebih dulu sebelum pembangunan pembangkit secara besar-besaran dilakukan. Jalan keluarnya, antara lain melibatkan masyarakat dalam menghijaukan kembali lingkungan. Eddie menegaskan, daerah yang perlu dihijaukan sebenarnya adalah daerah hulu (daerah tangkapan) yang berada di luar kendali PLN. Untuk itu harus ada kerjasama dengan Pemda setempat.

Secara terpisah Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Yogo Pratomo, menambahkan kelemahan PLTA adalah sifat ketergantungannya pada variasi musim. "Kalau hujan, airnya banyak. Tapi, kalau musim kering pembangkit tidak bisa mensuplai listrik sesuai dengan rancangan," kata dia.

Karena itu, menurut Yogo, harus ada diversifikasi pembangkit seperti pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dan pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU). Saat ini pemerintah sedang menggalakkan penggunaan gas sebagai bahan bakar pembangkit menggantikan bahan bakar minyak. Diharapkan akan ada penghematan biaya produksi yang signifikan dengan menggunakan gas itu.

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Retno Sulistyowati 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook