Alpen Steel | Renewable Energy

~ Proyek 10.000 MW Bertumpu Pada Sumber Energi Terbarukan

Proyek 10.000 MW Perlu 10 Bendungan Baru

Keberlanjutan proyek energi listrik 10.000 megawatt kelak bertumpu pada penggunaan sumber energi terbarukan seperti air dan panas bumi. Potensi air, misalnya, diperkirakan mampu menghasilkan energi 70.000 MW. Untuk tahap kedua proyek 10.000 MW perlu dibangun 10 bendungan baru.

Demikian diungkapkan oleh Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Fahmi Mochtar dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto di Surabaya, Jawa Timur.

”Ini konsekuensi dari potensi yang dimiliki Indonesia,” kata Fahmi seraya mengakui bahwa dari 70.000 megawatt (MW) potensi energi dari air, baru sekitar 6 persen atau 3.529 MW yang dimanfaatkan.

Fahmi menegaskan, strategi tersebut didukung oleh murahnya biaya operasional untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yaitu Rp 140 untuk menghasilkan satu kWh. Pembangkit yang menggunakan batu bara memakan biaya Rp 500 per kWh. Adapun pembangkit bertenaga diesel berbiaya Rp 3.000 per kWh.

Djoko memperkirakan lebih dari 10 bendungan perlu dibangun untuk memenuhi 7.000 MW dalam proyek 10.000 MW tahap dua. Ia mengaku sudah punya data-data mengenai daerah yang berpotensi untuk dibangun bendungan baru. Daerah itu di antaranya Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, dan beberapa provinsi di Jawa.

Kondisi PLTA

Dari Padang, Sumatera Barat, dilaporkan, pemadaman listrik bergilir diperkirakan berlangsung hingga September mendatang. Pemadaman dilakukan karena sejumlah pembangkit sedang mengalami pemeliharaan bergilir dan adanya kerusakan.

Deputi Manajer Humas PLN Sumatera Barat Asril Kalis mengatakan, saat ini pemadaman diperkirakan akan bertambah banyak mulai 5 Juli karena empat pembangkit di PLTA Singkarak akan mengalami pemeliharaan secara bersamaan.

”Kalau PLTA Singkarak tidak beroperasi sama sekali, defisit listrik untuk Sumatera bagian tengah dan selatan bisa mencapai 230 megawatt. Saat ini, defisit listrik mencapai 150 megawatt,” kata Asril.

Terkait dengan optimalisasi sumber daya air, Kepala Badan Informasi dan Komunikasi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Eddy Syofian mengungkapkan, proyek Asahan harus sudah dikelola Indonesia sepenuhnya pada tahun 2013. Pasalnya, selama dikelola Jepang, proyek tersebut tak efektif mengatasi krisis listrik di Sumut.

”Padahal, di daerah ini terdapat PLTA dengan kapasitas terbesar se-Indonesia. Listrik dari PLTA Siguragura dan Tangga sempat masuk ke sistem listrik PLN sebesar 45 MW pada saat beban puncak,” ujarnya.

Di Probolinggo, Jawa Timur, Direktur Muda Umum Personalia PT Kutai Timber Indonesia M Sain Latief menyatakan bahwa pemadaman listrik dikhawatirkan memperburuk iklim investasi. (ART/BIL/LAS/PRA/A07)

Sumber: Kompas

Surabaya

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook