Alpen Steel | Renewable Energy

Dibanding Gambut, Energi Air Lebih Aman

Dibanding Gambut, Energi Air Lebih Aman

Pontianak- Penggunaan gambut sebagai sumber energi pembangkit tenaga listrik yang direncanakan dibangun tahum 2003 di Kalbar, terus mendapat respon para pakar di Untan. Tidak hanya mereka dari disiplin ilmu tanah Faperta yang tidak setuju, pakar kelistrikan Fakultas Teknikpun, juga kurang sependapat dengan rencana itu. Mantan Ketua Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Untan Ir Herry Wuryanto mengatakan, pemakaian gambut sebagai sumber primer bahan untuk pembangkit tenaga listrik di Kalbar sangatlah riskan. Karena mengingat, aspek lingkungan yang ditimbulkannya cukup besar. Menurutnya, bila memang ada keinginan yang sungguh-sungguh dari Pemerintah Daerah Provinsi untuk membangun pusat listrik dengan mengandalkan sumber daya alam yang ada disini, alangkah lebih baik jika mencoba memanfaatkan arus air sungai. Hal ini mengingat, di Kalbar potensinya sangat besar.

 

Alumnus ITB master bidang kelistrikan ini memandang, bila dibandingkan dengan gambut, pembiayaan pembangkit listrik tenaga air sebenarnya tidaklah jauh berbeda. Lagipula, penggunaannya memang pernah diujicobakan pada masyarakat di sekitar Sungai Bengawan Solo Jawa Timur dan ternyata bisa. Di Kalbar sendiri, kata Herry, sudah harus berani mencobanya. Meskipun tentu, biaya yang digunakan untuk merealisasikan ini tidaklah sedikit. Investasinya tergolong mahal. "Sebab kalau tidak pernah dicoba, dikhawatirkan selamanya tidak akan bisa," ujarnya kepada AP Post Minggu kemarin, saat ditemui di kediamannya di komplek perumahan dosen Untan. Era otonomi yang sudah berjalan sekarang, pemerintah mestinya sudah mempunyai visi kearah sana. Bagaimana memanfaatkan teknologi untuk mempercepat pembangunan. Karena di daerah ini sangat terkenal memiliki sumber daya alam yang melimpah. Ada air terjun, arus sungai, batu bara, minyak dan segala macam.

 

Kembali lagi ke masalah gambut, dosen teknik tegangan listrik Jurusan Elektro Fakultas Teknik Untan ini menjelaskan, sumber daya gambut itu sebenarnya hanya satu bagian, dari sekian banyak potensi di daerah ini yang masih belum digarap. Sementara, keberadaan gambut disini, terutama untuk daerah Pontianak dan sekitarnya, berfungsi sebagai penyangga air. Bisa dibayangkan, kata Herry, bila serasah tumbuhan yang tidak terurai ini dikikis habis, bukan mustahil kota Pontianak dan sekitarnya menjadi rawa serta tenggelam karena banjir. "Secara teknologi ia memang memungkinkan. Tapi dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan yang mesti dipikirkan," paparnya. "Kitakan harus memelihara alam ini," ujar ayah dua anak yang judul desertasi S2 nya "Peningkatan Kontinyuitas Penyediaan Tenga Listrik PLN Wilayah V Sektor Kapuas" ini mengingtakan. (mrs)

< Pontianak- Penggunaan gambut sebagai sumber energi pembangkit tenaga listrik yang direncanakan dibangun tahum 2003 di Kalbar, terus mendapat respon para pakar di Untan. Tidak hanya mereka dari disiplin ilmu tanah Faperta yang tidak setuju, pakar kelistrikan Fakultas Teknikpun, juga kurang sependapat dengan rencana itu. Mantan Ketua Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Untan Ir Herry Wuryanto mengatakan, pemakaian gambut sebagai sumber primer bahan untuk pembangkit tenaga listrik di Kalbar sangatlah riskan. Karena mengingat, aspek lingkungan yang ditimbulkannya cukup besar. Menurutnya, bila memang ada keinginan yang sungguh-sungguh dari Pemerintah Daerah Provinsi untuk membangun pusat listrik dengan mengandalkan sumber daya alam yang ada disini, alangkah lebih baik jika mencoba memanfaatkan arus air sungai. Hal ini mengingat, di Kalbar potensinya sangat besar.

 

Alumnus ITB master bidang kelistrikan ini memandang, bila dibandingkan dengan gambut, pembiayaan pembangkit listrik tenaga air sebenarnya tidaklah jauh berbeda. Lagipula, penggunaannya memang pernah diujicobakan pada masyarakat di sekitar Sungai Bengawan Solo Jawa Timur dan ternyata bisa. Di Kalbar sendiri, kata Herry, sudah harus berani mencobanya. Meskipun tentu, biaya yang digunakan untuk merealisasikan ini tidaklah sedikit. Investasinya tergolong mahal. "Sebab kalau tidak pernah dicoba, dikhawatirkan selamanya tidak akan bisa," ujarnya kepada AP Post Minggu kemarin, saat ditemui di kediamannya di komplek perumahan dosen Untan. Era otonomi yang sudah berjalan sekarang, pemerintah mestinya sudah mempunyai visi kearah sana. Bagaimana memanfaatkan teknologi untuk mempercepat pembangunan. Karena di daerah ini sangat terkenal memiliki sumber daya alam yang melimpah. Ada air terjun, arus sungai, batu bara, minyak dan segala macam.

 

Kembali lagi ke masalah gambut, dosen teknik tegangan listrik Jurusan Elektro Fakultas Teknik Untan ini menjelaskan, sumber daya gambut itu sebenarnya hanya satu bagian, dari sekian banyak potensi di daerah ini yang masih belum digarap. Sementara, keberadaan gambut disini, terutama untuk daerah Pontianak dan sekitarnya, berfungsi sebagai penyangga air. Bisa dibayangkan, kata Herry, bila serasah tumbuhan yang tidak terurai ini dikikis habis, bukan mustahil kota Pontianak dan sekitarnya menjadi rawa serta tenggelam karena banjir. "Secara teknologi ia memang memungkinkan. Tapi dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan yang mesti dipikirkan," paparnya. "Kitakan harus memelihara alam ini," ujar ayah dua anak yang judul desertasi S2 nya "Peningkatan Kontinyuitas Penyediaan Tenga Listrik PLN Wilayah V Sektor Kapuas" ini mengingtakan. (mrs)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook