Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pemberdayaan Masyarakat Untuk Penerapan Teknologi Mikrohidro

Mikrohidro Lebih Dibutuhkan Peran Edukasi Media

Pemberdayaan masyarakat untuk menerapkan teknologi
mikrohidro sebagai pembangkit listrik saat ini lebih dihargai pihak
asing daripada pemerintah sendiri. Padahal pembangkit listrik energi
aliran air itu murah, ramah lingkungan, dan potensial dikembangkan di
daerah terpencil, tak terjangkau aliran listrik negara.

"Selama 15 tahun terakhir saya menempuh upaya pemberdayaan masyarakat
di berbagai lokasi di Indonesia untuk membuat pembangkit listrik
mikrohidro secara mandiri. Namun, pemerintah yang memiliki jangkauan
komunitas basis secara lebih luas sama- sekali tidak mampu
menyebarluaskan potensi ini, malahan dari pihak asing lebih peduli,"
kata Tri Mumpuni Wiyatno dari Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan
(IBEKA), Selasa (27/2), yang memelopori teknologi mikrohidro ini.

Hingga saat ini, lanjut Mumpuni, lebih dari 50 lokasi yang sudah
dipelopori untuk mengembangkan teknologi mikrohidro secara mandiri
oleh masyarakat setempat. Sebagian besar proyek ini didanai donatur
asing.

Dari kegiatan ini diharapkan tidak semata-mata menciptakan
ketersediaan listrik, tetapi juga berdampak pada kesadaran masyarakat
menempuh pelestarian hutan sebagai penjaga kelangsungan sumber aliran
air sungai.

Investor asing

Kondisi demikian menarik perhatian berbagai pihak dari luar negeri
untuk memberikan donasi. Beberapa investor dari berbagai negara saat
ini pun meminta Mumpuni untuk mempresentasikan metode program
pemberdayaan masyarakat dengan teknologi mikrohidro tersebut ke
Singapura dan Hongkong.

"Pada 5 Maret nanti saya mempresentasikan ke Singapura, dilanjutkan
pada 9 Maret ke Hongkong. Ada beberapa investor dari Swiss, Inggris,
Singapura, maupun Hongkong yang berminat mengembangkan metode
pemberdayaan masyarakat dengan teknologi mikrohidro ini ke beberapa
negara yang membutuhkan," ujar Mumpuni.

Sebelumnya, Mumpuni juga merintis pengembangan pemberdayaan
masyarakat untuk penerapan teknologi mikrohidro di beberapa negara
lainnya, seperti Filipina, Fiji, Kamerun, dan Gambia. Untuk metode
pemberdayaan masyarakat ini, Mumpuni mencontohkan, pembangkit listrik
mikrohidro yang dibuat di Sumatera Selatan dengan kapasitas 224
kilowatt dapat memberikan pendapatan masyarakat setempat Rp 45 juta
sampai Rp 50 juta per bulan.

"Pembangkit listrik mikrohidro di Sumatera Selatan itu dikelola suatu
pondok pesantren. Listrik yang diperoleh kemudian disuntikkan ke
jalur transmisi terakhir milik PLN dan didistribusikan PLN ke wilayah
yang membutuhkan. Dalam sebulan PLN membayar Rp 45 juta-Rp 50 juta ke
pondok pesantren itu, dan kini para santri di tempat itu
digratiskan," kata Mumpuni.

Darwina Sri Widjajanti, Direktur Program Nasional LEAD Indonesia,
menambahkan bahwa langkah yang diambil Mumpuni mestinya didukung
departemen, atau perusahaan-perusahaan untuk membantu masyarakat di
pedesaan.

"Fungsi edukasi media untuk menjelaskan energi alternatif itu sengat
penting. Lalu kalangan swasta, dan khususnya pemerintah, mestinya
juga memberi respons terhadap usaha-usaha penciptaan energi
alternatif yang dibangun oleh masyarakat, seperti Mumpuni,"
ungkapnya. (NAW)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook