Alpen Steel | Renewable Energy

Perkembangan Energi Angin Belanda Kalah Bersaing di Darat

SEBELAS dari sembilan belas kincir angin di Kinderdijk yang terkenal di seluruh dunia akan dipugar tahun-tahun mendatang.

Belanda bangga akan bangunan-bangunan era pra industri, yang dulu turut membantu mengeringkan negara itu. Kendati memiliki tradisi yang kuat ini, Belanda dinilai lamban mengembangkan turbin-turbin angin baru.

Chris Westra adalah pakar energi angin di Pusat Energi Belanda, ECN. Sejak 1972 dia terlibat perkembangan energi angin di Belanda.

"Tradisi kincir angin kami dan perkembangannya terhenti karena kami menjadi malas, sebab ada batu bara dan gas alam. Jadi, tidak perlu mengembangkan energi angin. Warga Denmark tidak punya batu bara, karena itu mereka terpaksa. Mereka terus mengembangkan energi angin. Kami, orang Belanda tidak", kata Chris Westra. Dari atas tanggul di IJsselmeer, Westra menunjukkan perkembangan energi angin yang baru diawali tahun 1980-an abad lalu. Dari jauh kelihatan turbin angin pertama di Belanda yang berkekuatan 1 megawat.

Agak jauh lagi tampak turbin-turbin angin yang pertama di air dan taman kincir angin pertama yang memasok energi untuk perusahaan pertanian. Lebih jauh lagi, tampak kompleks ECN, sebuah lembaga peneliti Belanda. Mereka melakukan ujicoba turbin-turbin angin besar yang bisa dipakai di lepas pantai.

Menurut Chris Westra, turbin-turbin angin lepas pantai punya masa depan, demikian Chris Westra. Di situlah peluang Belanda untuk secara internasional kembali menghidupkan tradisi lamanya. Perkembangan energi angin di laut tiba-tiba berjalan cepat, karena dunia usaha mulai sadar sumber energi langgeng ini membawa keuntungan besar.

Taman kincir angin lepas pantai pertama di Belanda, kata Chris Westra dibangun oleh perusahaan minyak raksasa Shell dan perusahaan energi Nuon. Mereka ingin membangun lebih banyak kincir angin di lepas pantai. Ini merupakan perkembangan penting, karena perusahaan energi bertahun-tahun menghalangi perkembangan energi angin.

Di Desa Kamperduin, Chris Westra kurang lebih duapuluh tahun lalu membangun sendiri sistem energi yang menggunakan tenaga angin. Dua turbin angin menghasilkan energi bagi 27 ribu rumah tangga. Theo Voogt, salah satu penduduk desa itu, masih ingat awal mulanya.

"Di sini dulu ada lampu. Kalau lampu ini menyala, kami tahu bahwa ada energi angin yang cukup untuk memakai listrik, misalnya untuk menggunakan mesin cuci yang banyak menggunakan listrik. Dan di Kamperduin banyak angin. Jadi energinya murah.Ya, kami semua gembira", ujar Theo Voogt.

Terlalu Mahal

Namun ujicoba tersebut dihentikan karena menurut pihak pemasok, yang mengurus kabel dan turbin sistem ini terlalu mahal. Gagasan penduduk agar mereka yang membeli kabel dan turbin, gagal karena perusahaan energi menentangnya.  Akibat lambannya perkembangan energi angin, Belanda kini kalah bersaing dalam pasar energi angin di darat. Negara-negara seperti Jerman dan Denmark menjadi pemenang. Tapi Belanda masih berpeluang di laut.

"Kami sekarang ke laut dan memasuki bidang yang lazim bagi orang Belanda, karena kami terkenal dengan jembatan, tanggul-tanggul di air. Jadi, kami harus sanggup membangun pusat pembangkit listrik tenaga angin di air. Itu akan dibangun oleh Belanda”, ujar Westra.  Siapa tahu, suatu ketika turbin-turbin energi di laut akan sepopuler kincir-angin tua di Kinderdijk. (rn/elz)

Ingin berdiskusi masalah Energy? Klik disini untuk masuk ke Forum Kami 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook