"ENERGIAS ALTERNATIVAS" BARCELONA MEMBAKAR

Advertisement
 
 

 
Tahun lalu, ketika pesta akbar telekomunikasi bergerak di Barcelona ini masih membawa nama ”3GSM World Congress”, isu penerapan energias alternativas belum menjadi bahasan yang mengedepan. Namun, di bawah nama Mobile World Congress, penggunaan energi alternatif menjadi salah satu topik bahasan yang semakin hangat.

Secara khusus, tahun lalu sebenarnya sudah ada perusahaan, seperti G24 Innovations, yang memamerkan produknya di kota kedua Spanyol itu. Pengubah energi matahari itu diaplikasikan dalam bentuk yang sangat fleksibel, mulai dari panel lipat yang praktis dan ringan, sampai panel yang dilapiskan pada bagian luar sebuah tas notebook dan bahkan panel fleksibel lebar yang menjadi bagian dari sebuah tenda. Selain itu juga ada pemanfaatan bahan-bahan sampah menjadi bahan bakar biodiesel.

Vendor jaringan Ericsson bahkan sudah melakukan rintisan di India dan Nigeria bersama Asosiasi GSM (GSMA) dengan mengembangkan jarak pagar dan kapas sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan pembangkit listrik di daerah terpencil dari bahan bakar fosil. Terutama untuk kepentingan pemasok listrik BTS di daerah yang belum dialiri listrik.

Bahkan, perusahaan Swedia ini sudah menerapkan sel surya untuk menyuplai listrik bagi sebuah BTS milik Telkomsel di kawasan Sumatera. Satu cara yang ideal bagi negara yang terpapar cahaya matahari sepanjang tahun meski belum bisa menarik perhatian seperti halnya Pusat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Dalam Kongres Mobile Dunia kali ini, energi alternatif semakin menjadi bahasan yang menarik, bukan hanya untuk melistriki daerah terpencil, tetapi juga dalam upaya efisiensi energi. Setidaknya bukan hanya Ericsson saja, tetapi juga beberapa vendor besar lain mencoba memajang produk prototipe yang sudah berhasil mereka kembangkan.

Seperti Toshiba memamerkan energi fuel-cell atau listrik bahan bakar, baik untuk konsumsi ponsel secara langsung ataupun diaplikasikan pada charger baterai. Produk serupa juga dipamerkan Motorola, hanya memang penggunaan bahan bakar metanol untuk diubah menjadi listrik secara kimiawi masih terkendala dengan larangan membawa cairan ke dalam penerbangan.

Dalam pameran Februari lalu, Motorola juga memperlihatkan teknologi hibrida antara panel surya dan kincir angin sebagai solusi di kawasan terpencil. Produsen lain adalah Kyocera, dengan memajang panel-panel surya yang menyediakan listrik secara mandiri, bebas dari membayar langganan PLN yang semakin hari semakin melangit tarifnya.

Efisiensi

Salah satu langkah penting dalam penerapan energi alternatif adalah efisiensi energi, sehingga pasokan listrik yang terbatas bisa digunakan secara maksimal. Vendor jaringan seperti Ericsson juga telah menciptakan komponen BTS (base transceiver station) dengan penghematan energi yang maksimal, terutama untuk daerah terpencil yang belum dialiri listrik PLN.

BTS buatan perusahaan Swedia berbasis GSM dengan seri RBS 2111 ukurannya lebih kecil dari BTS standar dan hanya memerlukan pasokan energi listrik 60 persen. Efisiensi dilakukan dengan menempatkan unit radio di atas menara supaya dekat dengan antena sehingga bisa mengurangi kerugian daya yang terjadi pada sepanjang kabel penghubung radio dengan antena.

Kesulitan utama dalam membangun jaringan seluler di kawasan Indonesia timur terutama karena sulitnya memperoleh pasokan listrik. Dengan demikian, energi alternatif perlu dikembangkan lebih luas jika ingin kawasan timur, termasuk pulau-pulau terpencil lainnya, bisa menikmati kemajuan komunikasi.

Dalam kesempatan wawancara wartawan Indonesia dengan pihak Ericsson di tengah-tengah pesta Barcelona, Presiden Ericsson Asia Tenggara Jan Signell menawarkan solusi hemat energi bagi negara seperti Indonesia. Dengan demikian, layanan telepon seluler bisa dilakukan hingga ke pelosok Nusantara, sekalipun daerah itu tidak memiliki jaringan listrik.

Yang menjadi persoalan sekarang, bagaimana pengguna ponsel di daerah tanpa listrik dapat menyetrum ulang baterai ponselnya?

”Tidak masalah karena kami juga menyediakan charger bertenaga matahari untuk pedesaan bekerja sama dengan Sony Ericsson. Apalagi kalau ponsel dengan fitur dasar pasti sangat hemat energi dan tidak akan banyak menguras energi baterai,” kata Christian Hedelin, Vice President Ericsson Malaysia, yang mendampingi Signell.

Selain solusi untuk daerah terpencil, ternyata Ericsson juga memiliki upaya peningkatan efisiensi hingga 35 persen untuk BTS 3G. Perusahaan ini bahkan sudah mulai menerapkan pemasok listrik dari sel surya untuk BTS sejak tahun 2000.

Kiprah Nokia-Siemens 

 BARCELONA MEMBAKAR "ENERGIAS ALTERNATIVAS"

 

Komitmen Asosiasi GSM (GSMA) mengembangkan swasembada listrik untuk kepentingan komunikasi nirkabel ternyata juga telah dilakukan vendor jaringan baru Nokia-Siemens. Bahkan, perusahaan jaringan gabungan antara perusahaan Nokia dan Siemens yang baru berusia setahun ini ikut mengembangkan kios internet di pedesaan.

”Kami sudah mengembangkan sistem tenaga listrik hibrida, yaitu gabungan antara sel surya dan turbin tenaga angin di kawasan Tangerang,” kata Salman Zafar, APAC Technology Office Indonesia Lead PT Nokia Siemens Networks, dalam perbincangan dengan Kompas belum lama ini.

Upaya ini juga ditujukan sebagai salah satu cara membuat pedesaan bisa mandiri sekalipun kesulitan mendapatkan pasokan listrik. Kondisi ini tentu sangat cocok untuk daerah seperti Indonesia yang memiliki ribuan pulau yang sebagian besar tidak terjangkau aliran listrik PLN.

Penyediaan listrik ini akan menjadi pendukung bagi program ”Village Connection” yang sudah dirintis sejak tahun pertama penggabungan dua perusahaan besar itu. Di antaranya dengan mengembangkan jaringan seluler mandiri yang bisa dimanfaatkan bagi masyarakat lingkungan secara unik, sekalipun tidak ada jaringan seluler di kawasan terpencil itu.

Solusi koneksi pedesaan ini mendukung layanan berbasis suara dan SMS, termasuk koneksi ke dunia luar seperti halnya sebuah telepon seluler biasa. Bahkan, kemudian lebih jauh dikembangkan menjadi layanan internet di pedesaan melalui link ke protocol internet.

”Jaringan pedesaan ini bisa dikembangkan menjadi sebuah model bisnis berbasis franchising baru,” kata Salman Zafar lebih lanjut. Bahkan, sekarang solusi koneksi pedesaan ini ditingkatkan dengan membangun kios-kios internet sehingga masyarakat bisa menangkap kekuatan internet dari desa.

Jaringan pedesaan ini dikembangkan dengan menggunakan perangkat-perangkat sederhana, seperti seperangkat komputer desktop biasa. Antena omni-directional untuk mengirim dan menerima sinyal pelanggan lokal dan antena Yagi untuk berhubungan dengan jaringan operator. Antena dipasang pada pipa leding di atas rumah, seperti memasang antena radio komunikasi biasa.

Tentu saja untuk kawasan pulau-pulau terpencil bisa dikembangkan akses keluar melalui satelit jika koneksi di darat dengan jaringan operator tidak bisa dilakukan. Sebuah tantangan bagi upaya memajukan masyarakat terpencil. 

Waktu Update

 Ditulis Oleh Administrator  

 

 

Baca Juga:
Artikel sebelumnya:

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum