Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pemakaian Listrik DiAsian Indonesia yang terboros

 

 Indonesia yang terboros Pemakaian  Listrik DiAsian

 Indonesia merupakan negara yang terboros dalam pemakaian listrik di ASEAN. Data ASEAN Centre for Energy (ACE) juga menyebutkan, Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi paling besar untuk melakukan penghematan tenaga listrik akibat tingkat pemborosan energi listrik yang relatif tinggi selama ini. Pasokan listrik di Indonesia sendiri kini dalam status siaga karena cadangan yang tersisa tidak banyak tersedia.


Data tersebut diungkapkan oleh Dicky Edwin Indarto dari Forum Komunikasi Masyarakat Hemat Energi dalam seminar mengenai strategi berhemat energi di Jakarta, Kamis (2/10). Menurut Dicky, Indonesia berpeluang melakukan penghematan energi sebanyak 3,13 juta ton setara dengan minyak.

Tingkat pemborosan energi yang tinggi ini memperparah pasokan tenaga listrik di Tanah Air yang kritis. Khususnya untuk pasokan di Pulau Jawa-Bali dan Madura, di mana kapasitas cadangan listrik yang tersisa hanya 330 megawatt.

Menurut Dicky, negara-negara ASEAN lainnya sudah menerapkan gerakan penghematan energi secara konsisten. Dengan demikian, warga secara individu maupun lembaga sudah memiliki komitmen untuk melakukan penghematan pada penggunaan listrik.

Bahkan Thailand memiliki peraturan yang mewajibkan setiap perusahaan merekrut manajer energi. Hal itu bertujuan agar perusahaan tidak melakukan pemborosan energi.

Ditambahkan, penghematan energi sangat bergantung pada perilaku dan kesadaran manusia. Sekitar 80 persen keberhasilan kegiatan konservasi energi ditentukan oleh faktor manusia, sedangkan 20 persen lagi bergantung pada teknologi dan peralatan.

Menurut Dicky, di Indonesia upaya setiap perusahaan untuk mengurangi biaya produksi selalu berorientasi pada pengurangan tenaga kerja. Sangat jarang ada perusahaan yang langsung melakukan evaluasi terhadap penggunaan energi listrik.

Padahal, peningkatan efisiensi sebesar satu persen dalam pemanfaatan energi listrik langsung memberikan dampak pada peningkatan keuntungan bagi perusahaan. Akan tetapi, gerakan hemat energi di Indonesia masih sulit diterapkan karena kesadaran yang rendah dan tidak ada peraturan yang menghukum orang yang memboroskan listrik.

Contoh pemborosan terbesar di perkantoran atau bangunan publik adalah penggunaan mesin penyejuk udara (AC) dan lampu yang tetap dihidupkan meski tak diperlukan lagi. Padahal, porsi konsumsi listrik AC dan lampu relatif besar, yakni di atas 45 persen dan 30 persen.

Manajemen energi

Pakar energi dari Premas Energy Singapore, Lal Jayamaha, mengatakan, salah satu cara yang paling mudah bagi para pengusaha untuk menekan pemakaian energi adalah dengan memanfaatkannya secara maksimal. Hal itu dikenal sebagai program manajemen energi dan audit energi.

Lal juga mengatakan, diperlukan audit energi untuk mengidentifikasi potensi penghematan energi. Setiap pemborosan dan pengoperasian yang tidak efisien pada satu sistem ketenagalistrikan harus dapat diukur.

Sementara itu, Direktur Transmisi dan Distribusi PT PLN Herman Darnel Ibrahim mengatakan, PLN sudah membuat program penghematan energi pada konsumen industri. Antara lain, penggunaan peralatan atau mesin yang lebih hemat energi, membangun kesadaran pengusaha untuk berhemat listrik, pengaturan waktu pemakaian listrik, serta melakukan audit secara periodik.

Menurut Herman, manfaat penghematan energi bagi konsumen adalah mengurangi tagihan rekening listrik dan mengurangi risiko pemadaman akibat krisis listrik. Adapun manfaat bagi pemerintah adalah dapat menunda investasi pembangkit listrik. (BOY)

Sumber :.kompas.

Jakarta, Kompas - 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook