Alpen Steel | Renewable Energy

Minyak Mahal, Ada Angin Cuma-cuma

Minyak Mahal, Ada Angin Cuma-cuma



SETELAH bimbang berhari-hari, harga bahan bakar minyak akhirnya dinaikkan juga. Bagi kelompok masyarakat tidak mampu, kenaikan itu tentu akan memberatkan. Soalnya, itu berarti harga minyak tanah yang dipakai sehari-hari untuk memasak dan penerangan serta biaya angkutan umum menjadi naik.

Bagi penduduk di pedesaan, membubungnya harga BBM sebenarnya bukan selalu berarti berhenti mengepulnya asap dapur dan gelapnya rumah di malam hari. Soalnya, berbagai alternatif energi sebenarnya dapat dibangkitkan dengan biaya relatif murah. Ada angin, sinar matahari, derasnya arus sungai, limbah dari perkebunan dan peternakan, juga seresah dan ranting-ranting kayu. Semua dapat menjadi sumber energi yang tak ada habis-habisnya.

Angin yang bertiup secara cuma-cuma di udara, sebagai contoh, dapat digunakan untuk berbagai keperluan, mulai mengalirkan air hingga membangkitkan listrik di rumah-rumah. Di Pantai Utara Jawa dan Nusa Tenggara misalnya, kincir angin telah lama digunakan untuk memompa air bersih.

Di pantai Jakarta, yaitu di Plumpang dan Tanjung Priok, pada akhir tahun 1970-an pernah terpasang kincir angin untuk hal serupa. Kincir yang sebagian besar terbuat dari komponen lokal itu harganya saat itu hanya berkisar Rp 3 juta-Rp 4 juta. Namun, mesin penggerak ini hanya bertahan beberapa tahun karena masyarakat tidak dapat memelihara dengan baik, misalnya secara rutin melumasi bantalan porosnya.

Di Pantai Utara Jawa, alat berenergi angin ini digunakan mengalirkan air laut ke tambak-tambak pada pembuatan garam. Sedang kincir angin berkapasitas 10 kilowatt di Parangtritis, Yogyakarta, selain dipakai untuk penerangan juga untuk keperluan pembuatan es balok dan aerasi tambak udang.

***

 

ENERGI angin yang bersih-karena tidak menghasilkan polusi dan selalu tersedia-mendorong peneliti melakukan survei potensi energinya di seluruh Indonesia. Hal ini telah dilakukan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) di 20 daerah.

Namun, daerah yang memiliki energi angin potensial di Indonesia ternyata hanya beberapa. Kecepatan angin rata-rata tahunan di Indonesia hanya berkisar 2-6 meter per detik. Hanya di kawasan timur Indonesia-terutama di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT)-kecepatannya lebih dari 5 meter per detik, diperkirakan potensinya setara dengan 448.342 mW.

Lokasi yang memiliki energi angin potensial adalah Denpasar, Nusa Dua, dan Pulau Nusa Penida di Bali, serta Penfui di Kupang, NTT. Menurut pengamatan Lapan, potensi angin di Penfui tergolong besar, yaitu sekitar 2.130 kWh per meter persegi per tahun.

Perkiraan potensi energi angin di Indonesia keseluruhannya mencapai 9.286,61 mW, namun yang telah dimanfaatkan baru 0,38 mW. Dengan nilai minimal untuk pemanfaatannya, yaitu 3 meter per detik saja, sebenarnya dapat dibangun pembangkit listrik skala kecil (sampai 10 kW unit terpasang) dan menengah (10 kW sampai 100 kW unit terpasang).

Energi angin ini pada dasarnya dibangkitkan dengan menggunakan kincir. Cara ini telah dikenal beberapa abad lalu, antara lain di Belanda yang dikenal sebagai negeri kincir angin. Kincir angin yang semula berfungsi mengalirkan air lebih lanjut dikembangkan teknologinya dan dihubungkan pada sistem gene-rator listrik.

***

 

KINCIR angin yang dikembangkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) adalah jenis savonius, sudah pernah dipasang beberapa daerah di Jawa Tengah. Kincir ini memiliki poros vertikal dan penampangnya berbentuk huruf S. Sistem sumbu vertikal juga sudah dipasang di Jawa Barat yang merupakan unit bantuan dari luar negeri yang dikelola Institut Teknologi Bandung.

Dalam beberapa hal, sistem pembangkit energi angin ini menguntungkan. Biaya pembuatannya hanya beberapa ribu rupiah, dapat terjangkau kaum petani umumnya di daerah tersebut. Selain itu, dengan kecepatan angin yang pelan, sekitar dua sampai tiga meter per detik, kincir S ini sudah dapat berputar. Namun, karena kapasitas listrik yang dihasilkan tergolong rendah, petani kurang berminat memanfaatkannya.

Lapan mengembangkan Sistem Konversi Energi Angin (SKEA) pada akhir tahun 1980-an. Sasaran pengembangan sistem ini adalah menghasilkan PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu). Penerapan SKEA dapat dilakukan minimal pada kapasitas angin 178 kWh per meter persegi per tahun. Kapasitas ini dihasilkan antara di Curug Tangerang dan lokasi laboratorium angin milik Lapan.

Instalasi PLTB terbesar yang dibangun Lapan ada di Desa Angin Percontohan Jepara, terdiri dari 32 unit turbin angin dari kapasitas 72 W hingga 2500 W dengan kapasitas terpasang total sekitar 42 kW. Selain itu, di Dusun Selayar Lombok Timur juga terpasang turbin angin 7 x 1.000 W. Sementara itu, di sepuluh lokasi di Nusa Tenggara Timur, penerapan energi angin berkapasitas 60 kW dilakukan Windrock International dengan dana dari USAID.

Sistem pembangkit energi angin yang diterapkan Lapan menggunakan turbin angin jenis Darieus dan propeler, dengan kapasitas pembangkitannya antara 10 sampai 20 kW. Prototipe jenis propeler sudu dua, buatan Jerman, sejak tahun 1984 dioperasikan di Parangtritis. Meskipun dapat menimbulkan daya listrik hingga 10 kW, turbin angin ini tergolong mahal, sebelum masa resesi sekitar Rp 50 juta. Pembangkit listrik ini dapat memasok kebutuhan 20 keluarga, juga digunakan untuk industri pembuat es balok.

***

 

UPAYA yang dilakukan Lapan terhadap turbin angin adalah meningkatkan unjuk kerja dan keandalannya. Turbin angin skala sedang (10 sampai 25 kW) di Parangtritis belum dapat memasok listrik sepanjang tahun, karena angin bertiup 19 jam sehari hanya terjadi pada bulan Januari hingga September.

Untuk itu, dikembangkan penyimpanan energi angin yang dikonversikan menjadi listrik dalam akumulator kapasitas tinggi. Turbin ini akan dikembangkan hingga skala lebih besar sehingga memungkinkan memasok keperluan tidak hanya rumah tangga, namun juga industri.

Selain turbin angin, Lapan juga mendesain dan mengembangkan jenis kincir angin sudu majemuk (multiblade), yang digunakan untuk memompa air. Sebelum itu, beberapa instansi lain di antaranya LIPI juga telah melakukan eksperimen pemanfaatan energi angin untuk berbagai keperluan, antara lain pengeringan, pemompaan air, dan pembangkitan daya listrik.

Jadi, mestinya minyak mahal bisa tak menjadi masalah. Sayang sekali, pemerintah tak pernah memberi perhatian pada energi alternatif ini. (yun)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook