Alpen Steel | Renewable Energy

Melawan Byar-Pet dengan Angin

Melawan Byar-Pet dengan Angin

 

Indosat dan Telkomsel memanfaatkan energi angin di stasiun penguat sinyal. Lebih mahal tapi tak bergantung pada PLN.

Di sebuah perbukitan nun di Desa Girisari, Pecatu, Badung, kini telah ”tumbuh” dua buah menara yang menjulang, yang mengusir kesan gersang. Itulah penguat sinyal telepon seluler yang terlihat berbeda dengan base transceiver station (BTS) lain. Salah satu dari dua menara itu dilengkapi tiga bilah kincir angin dan di antaranya dibangun panel-panel sel surya.

Alat penguat sinyal milik Indosat di Bali itu tampil beda karena menggunakan sumber listrik tenaga angin dan matahari. Ini merupakan satu dari dua pusat listrik tenaga hibrid angin-matahari, yang dicoba perusahaan telekomunikasi itu untuk mengoperasikan BTS sejak akhir Mei lalu.

”Ini bentuk kepedulian kami untuk mewujudkan lingkungan yang bersih,” kata Direktur Utama Indosat Johnny Swandi Syam ketika meresmikan uji coba itu. Dengan pembangkit hibrid ini, mereka mengurangi konsumsi listrik dari Perusahaan Listrik Negara, yang lebih banyak menggunakan bahan bakar minyak dan batu bara.

Sementara Indosat baru tahap uji coba, Telkomsel melangkah lebih jauh. Menurut Azis Fuedi, general manager corporate communications, mereka sudah mengoperasikan 47 stasiun penguat sinyal bertenaga matahari dan sebuah pembangkit hibrid angin-matahari di Nusa Tenggara Timur.

Mungkin benar alasan yang dikemukakan Johnny Swandi. Tapi sulitnya mendapatkan pasokan listrik di daerah terpencil sebenarnya merupakan pendorong utama pemakaian energi alternatif karena setrum merupakan kebutuhan utama stasiun penguat sinyal. Sebuah BTS perlu daya listrik di atas 13 kilowatt, yang sebagian digunakan untuk menghidupkan mesin penyejuk udara agar ruangan tetap bersuhu 18-22 derajat Celsius.

Masalahnya, tidak semua daerah telah dialiri listrik perusahaan setrum negara. Kalaupun ada, tidak dijamin pasokan akan lancar sepanjang tahun. Apalagi akhir-akhir ini, listrik sering byar-pet karena jumlah permintaan melebihi pasokan. Memang semua stasiun penguat sinyal dilengkapi baterai cadangan, tapi hanya bisa memasok listrik selama empat jam.

Jika masalah listrik ini tidak bisa diatasi, peluang memperluas jangkauan­ sampai ke pelosok Nusantara bakal me­ngecil. Padahal persaingan antar­ope­rator telepon seluler makin ketat. Sebagai jalan keluar, sejumlah BTS menggunakan generator pembangkit listrik berbahan bakar minyak.

Tapi cara ini juga tidak murah dan mudah. Azis Fuedi memberikan contoh, ada sebuah stasiun penguat sinyal di pulau terpencil di Kalimantan, yang hanya bisa dicapai dengan naik perahu klothok selama enam jam. Itu sebabnya, pemanfaatan energi alternatif untuk stasiun penguat sinyal di daerah terpencil menjadi satu-satunya pilihan.

Indosat kemudian menunjuk Laboratorium Penelitian Konversi Energi Elektrik Institut Teknologi Bandung untuk merencanakan pembangunan BTS yang mandiri. ”Pada studi awal, ada tiga sumber energi yang mungkin, yakni angin, matahari, dan biofuel,” kata Pekik Argo Dahono dari Laboratorium Penelitian Konversi.

Sebenarnya, tidak ada teknologi baru di mesin pembangkit listrik hibrid ini. Menurut Pekik, alat yang digunakan terhitung sederhana. Kincir angin yang dibuat Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional adalah hasil penelitian yang sudah berumur belasan tahun. Begitu juga dengan sel surya buatan Lembaga Elektronika Nasional Bandung sama dengan solar cell di mesin pemanas air, yang biasanya dipasang di atap rumah.

Tiga bilah kincir angin, yang masing-masing sepanjang 2,5 meter, bisa menghasilkan daya 7,8 kilowatt per hari dengan kecepatan angin rata-rata 3,8 meter per detik. Energi ini ditambah dengan listrik dari panel surya, yang ter­diri atas 48 unit photovoltaic, bisa menghasilkan pasokan 10-13 kilowatt. Panel yang terpasang di ketinggian 6 meter itu menyerap radiasi matahari di lokasi yang berdasarkan data badan antariksa Amerika Serikat (NASA) potensinya mencapai 5 kilowatt per meter persegi.

”Panel baru kita operasikan separuhnya karena masih dalam tahap uji coba. Kalau full bisa menghasilkan 18-20 kilowatt, sehingga tidak perlu lagi listrik dari PLN,” kata Kepala Opera­si Teknis Indosat Denpasar I Wayan Gunarta. Untuk menutup kekurangan pasokan dari kedua pembangkit itu, BTS masih memanfaatkan sumber cadangan dari jaringan PLN. ”Proporsi­nya, 25 persen dari PLN dan 75 persen dari PLTH,” kata Gunarta.

Daya listrik yang diperoleh dari angin dan matahari itu disimpan dalam baterai. Pada kondisi normal, dari baterai itulah kebutuhan listrik dipenuhi. Tapi, pada saat angin tak bertiup atau cuaca mendung sepanjang hari sehingga pasokan berkurang, listrik diambil dari PLN. ”Semuanya dikontrol secara otomatis dan tak perlu campur tangan petugas khusus,” ujar Gunarta.

Di luar turbin angin dan sel surya, semua peralatan stasiun penguat sinyal sama dengan di BTS lain. Pengoperasian dipantau melalui network monitoring system selama 24 jam di kantor pusat Indosat di Jakarta dan Denpasar. Setiap kali terjadi masalah, alarm akan dikirim via pesan pendek dan petugas segera diterjunkan ke lokasi. Tapi BTS mandiri perlu perawatan yang berbeda, misalnya pembersihan permukaan panel surya; pengecekan turbin, kincir, dan baterai.

Sayangnya, untuk membangun BTS berpembangkit listrik hibrid diperlukan dana tidak kurang dari Rp 1 miliar, yang sepertiganya untuk biaya memasang turbin angin dan sel surya. Menurut Pekik, harga instalasi yang mahal itu karena peralatan PLTH belum diproduksi secara massal. ”Kalau mau impor, bisa lebih murah,” katanya.

Menurut perhitungan Soeripno Martosaputro, peneliti Lembaga Penerbang­an dan Antariksa Nasional yang terlibat proyek Indosat, biaya untuk memba­ngun pembangkit listrik tenaga angin Rp 25-40 juta per kilowatt. Kalau di daerah terpencil, turbin angin bisa bersaing dengan genset diesel. Karena dengan genset, per kilowattnya itu perlu sekitar Rp 3.000. Adapun turbin angin yang skalanya besar kurang dari itu,” katanya.

Masalahnya, turbin angin tidak bisa dipasang di sembarang tempat. Agar mencapai angka ekonomis, kecepatan angin harus di atas 4 meter per detik. Itu sebabnya, kincir angin ini paling cocok dipasang di daerah Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan dan Utara, serta Jawa bagian selatan yang anginnya kencang.

Ini berbeda dengan pembangkit listrik energi surya, yang bisa dipasang di mana saja. Masalahnya, harga listrik dari matahari ini jauh lebih mahal, yaitu sekitar Rp 2.250 per kilowatt, sedangkan ta­rif PLN hanya Rp 540 karena disubsidi pemerintah. Dengan turbin angin, harga listrik per kilowatt setara dengan Rp 720. Tapi, dengan terus membubungnya harga minyak dan batu bara serta menipisnya cadangan kedua sumber energi itu, penggunaan bahan bakar alternatif adalah keharusan.

Yudono Yanuar, Bunga Mengiasih, Rofiqi Hasan (Denpasar), Ahmad Fikri (Bandung)
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook