Alpen Steel | Renewable Energy

Kincir Pompa Air Egra, Solusi Atasi Kekeringan

Kincir Pompa Air Egra, Solusi Atasi Kekeringan

SETELAH empat bulan berupaya keras mencari teknologi sederhana
mengatasi kekeringan, sekaligus mengurangi pemborosan membeli solar,
Hasan Hambali akhirnya menemukan peralatan sederhana. Yakni sebuah
kincir angin untuk menggerakkan pompa air, menggantikan diesel yang
banyak membutuhkan solar karena frekuensi penggunaannya cukup tinggi.

Teknologi sederhana tersebut adalah sebuah kincir yang digerakkan
angin, dan karena itu diberi nama kincir pompa air Egra. Nama Egra
itu, katanya, merupakan kependekan dari energi gratis.

Komisaris perusahaan yang mengelola Hotel Salak itu juga menyatakan,
pembuatan kincir Egra itu sangat sederhana dan dengan biaya
terjangkau. "Kincir ini sangat menghemat biaya operasi karena tanpa
bahan bakar dan sumber energi angin yang tak terbatas," ujarnya.

Pembuatan kincir pompa air Egra ini dilatarbelakangi membengkaknya
biaya operasional di perkebunan mangganya di Indramayu selama musim
kemarau ini.

"Seminggu bisa mencapai Rp 1 juta," kata Hasan, seraya menyebutkan,
luas kebun mangganya sekitar 10 hektar dengan tanaman mangga sebanyak
2.000-an pohon.

Sekitar dua bulan, Hasan berusaha mencari data tentang pembuatan
kincir angin di IPB, tetapi dia tidak menemukannya. Kemudian ia ke ITB
dan LAPAN. Akhirnya, ia menemukan dan menghitung-hitung harga
pembuatan kincir angin yang diinginkan. Nilainya kira-kira Rp 40 juta.

"Saya mundur karena harganya cukup mahal, putus harapan. Tetapi, saya
akhirnya berpikir kembali untuk mencari sendiri dari beberapa buku
dalam dan luar negeri, termasuk lewat Internet, untuk memperoleh data
dan cara pembuatan kincir," ujarnya.

Setelah dua bulan mencari, akhirnya ia menemukan gambar kincir angin.
Selama dua minggu gambar itu berulang- ulang dibuat pada kertas untuk
menemukan bentuk yang sempurna. Setelah itu, ia mengumpulkan bahan
untuk membuat kincir angin berupa potongan besi dan aluminium.
Sebagian komponen kincir angin itu dibeli di toko besi, sebagian lagi
merupakan barang bekas.

"Data yang kami selesaikan selama dua minggu itu, lalu selama dua
minggu dikerjakan di bengkel sambil berkali-kali diperbaiki agar
sempurna. Setelah terbentuk lalu kami bawa untuk dicoba di kebun,"
katanya.

Setelah dicoba ternyata berhasil. Air bisa disedot dengan menggunakan
tenaga kincir angin. Total biaya yang dikeluarkan Rp 7 juta. Wujudnya,
sebuah menara setinggi 10 meter untuk menempatkan kincir dengan
diameter 2,5 meter.

Kincir pompa air Egra itu berputar sepanjang hari, dari pagi sampai
malam. "Air yang keluar dari pompa air itu disalurkan ke lahan melalui
parit sekeliling kebun. Air itu menyirami lahan lalu menyerap ke dalam
tanah, selanjutnya dipompa lagi dan disiramkan lagi membasahi lahan,
menyerap lagi, dan seterusnya. Dengan demikian, kekeringan teratasi
oleh kincir pompa air Egra," paparnya seraya menambahkan, pipa di
daerah Indramayu menyentuh permukaan air dengan kedalaman sekitar enam
meter. Lalu pipa dipantek sedalam 12 meter agar dapat menyedot air
untuk dinaikkan ke permukaan.

Hasan Hambali menyebutkan, pompa air Egra temuannya itu baru dipasang
sekitar dua minggu yang lalu di kebun mangganya. Memang baru satu unit
dengan kemampuan mengairi empat hektar.(PUN)
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook