Alpen Steel | Renewable Energy

Kenapa Tak Mencoba Tenaga Angin?

Di beberapa negara Eropa Barat, khususnya di Belanda, listrik tenaga
angin merupakan hal yang lazim dimanfaatkan. Itu sebabnya kadang
sepanjang perjalanan menelusuri "Negeri Kincir Angin" maupun beberapa
negara di Eropa Barat itu tidak sukar untuk menyaksikan kincir angin
yang lebih modern. Tentunya kincir angin yang dimanfaatkan untuk
pembangkit listrik tenaga angin.

Bedanya kincir angin modern untuk pembangkit listrik tenaga angin ini
dengan kincir angin penggiling gandum sangat jelas. Kalau kincir angin
penggiling gandum itu terbuat dari rangkaian kayu serta memiliki empat
bagian baling-baling. Di samping itu juga kincir angin ini akan
terlihat berikut gudang tempat penggilingan gandumnya.

Adapun baling-baling untuk pembangkit listrik ini hanya berupa tiang
putih yang terbuat dari besi serta memiliki tiga baling-baling saja.
Untuk beberapa produk yang baru bahkan ada yang tiang dan
baling-balingnya terbuat dari fiber. Dengan demikian beratnya pun jauh
lebih ringan.

"Di sini, pemilik satu kincir angin pembangkit listrik itu biasanya
justru petani. Karena mereka tinggal pada daerah yang terpisah-pisah.
Biasanya mereka dalam bentuk kelompok. Mungkin di Indonesia seperti
koperasi petani. Jumlahnya bisa mencapai sepuluh keluarga atau bahkan
sampai empat puluhan keluarga," tutur Pieter Franqis Veetman, warga
Groningen, Belanda.

Karena mereka menggunakan pembangkit listrik tenaga angin, lanjut
Veetman, tentu penggunaan bahan bakar minyak (BBM)-nya pun makin
berkurang. "Memang ini salah satu upaya mereka untuk mengurangi
penggunaan bahan bakar minyak," katanya.

"Itu sebabnya sehari-hari mereka paling hanya menggunakan BBM untuk
traktor pembalik tanah, penanam sekaligus pemanen hasil tanaman
mereka. Serta untuk kendaraan pribadi," ujar Veetman.

Adapun penggunaan pembangkit listrik tenaga angin ini sudah dimulai
sejak tahun 1979. Dan, salah satu keunggulan pembangkit listrik tenaga
angin ini, tambah CD Kessing, warga lainnya, karena setiap satu tiang
pembangkit listrik tenaga angin ini bisa bertahan penggunaannya selama
25 tahun. "Itu ukuran penggunaan minimal yang ditetapkan perusahaan
pembuatnya. Tentu kalau perawatannya bisa lebih baik lagi usia
pembangkit listrik tenaga angin ini jelas akan lebih lama lagi," kata
Kessing, warga Krommenie, Belanda.

Ini artinya selama 25 tahun itu pula masalah listrik tidak lagi
menjadi bahan pikiran. Satu hal yang lebih istimewa, yakni mereka
telah melakukan pengiritan bahan bakar minyak. "Serta tentu semuanya
akan lebih ramah lingkungan," kata Guru Besar Perguruan Pencak Silat
Manyang di Eropa.

PLN

Rasanya tidak salah kalau di Indonesia, melalui Perusahaan Listrik
Negara (PLN) yang memonopoli jasa listrik di Nusantara, untuk mulai
memikirkan kemungkinan penggunaan pembangkit listrik tenaga angin
tersebut. Terlebih dalam kondisi BBM yang semakin langka yang
selanjutnya memicu harga BBM melangit. Tentu apa yang dilakukan para
petani di Negeri Kincir Angin, sana bisa dilakukan di negeri ini.

Bisa jadi akan sulit untuk dilakukan di Pulau Jawa yang memang sudah
padat penduduk. Apalagi belakangan kerap terjadi angin puyuh. Tetapi,
penggunaan pembangkit listrik tenaga angin mungkin saja bisa
dimanfaatkan di luar Pulau Jawa yang memang hampir sebagian besar jasa
listriknya hanya bergantung pada mesin-mesin diesel PLN yang umumnya
memakai bahan bakar solar.

Padahal, kalau melihat hasil laporan PLN tahun lalu, dijelaskan, untuk
bahan bakar solar saja PLN harus mengeluarkan dana Rp 38,4 triliun per
tahun. Itu untuk membeli 6,3 juta kiloliter solar. Dana tersebut akan
terus membengkak seiring kenaikan harga BBM. Hal ini dimulai dengan
kenaikan harga solar industri per Juni 2006 yang naik tiga kali lipat,
menjadi Rp 6.100 per liter.

Pengeluaran PLN untuk penggunaan solar masih sangat tinggi, karena 17
persen dari pembangkit listrik PLN itu menggunakan mesin diesel.
Sementara dari segi biaya, mesin diesel itu akan menyerap dana hampir
70 persen dari biaya bahan bakar.

Kita sadari, memang ada beberapa kendala dalam menggunakan pembangkit
listrik tenaga angin ini. "Hal yang utama itu, yakni masalah embusan
angin yang kadang tidak menentu. Itu mungkin yang membuat PLN hingga
saat ini masih belum terpikir untuk memperkenalkan penggunaan
pembangkit listrik tenaga angin tersebut," kata Bambang Nugrohadi
Waspada, salah satu staf PLN.

Kalau hanya itu yang menjadi kendala, tentu bisa dilakukan survei
terlebih dahulu. Rasanya tidak berbeda dengan pembuatan lapangan
terbang yang harus lebih dulu dilakukan survei untuk penentuan
landasannya yang sangat bergantung pada embusan angin di lokasi
bersangkutan.

Penggunaan pembangkit listrik alternatif ini sebenarnya juga sudah
mulai dilakukan di beberapa daerah di Indonesia, antara lain, seperti
di Tanah Papua yang sudah sejak tahun 1990-an, dengan bantuan
Pemerintah Negeri Kanguru Australia diperkenalkan penggunaan
pembangkit listrik tenaga matahari (solar sel). Penggunaan solar sel
ini cocok digunakan di Papua karena sesuai dengan situasi dan kondisi
permukiman orang Papua yang tidak terpusat pada satu tempat saja.
Tetapi tersebar di rawa-rawa, perbukitan, lembah dan gunung-gunung.

Hanya mungkin mereka tidak akan pernah menikmati lampu hemat listrik
yang katanya akan dibagikan PLN. Sekalipun lampu hemat energi itu,
kata Direktur Utama PLN Eddie Widiono, bakal mampu menghemat
penggunaan bahan bakar sampai 0,75 kiloliter per tahun atau setara
dengan Rp 3,8 triliun per tahunnya.

Kalau memang mau irit, kenapa tidak sekaligus memanfaatkan tenaga
angin yang gratis itu?

Oleh Korano Nicolash LMS

 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook