Tanah Warga Aman, PLTB Moinit Segera Action.

 

Tanah Warga Aman, PLTB Moinit Segera Action

Atasi krisis listrik, upaya bupati Ramoy Luntungan terbilang maksimal. Pemda berhasil mediasi harga tanah warga Moinit senilai Rp 15 ribu permeter


SETELAH beberapa lama, akhirnya PT (Persero) PLN Suluttenggo mungkin mulai action pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Batubara (PLTB) di lokasi Obyek Wisata Moinit Indah, Desa Tawaang, Kecamatan Tenga Kabupaten Minahasa Selatan.

Sikap tersebut, tentu setelah managemen PLN menyatakan bersedia membayar Rp 15 ribu permeter kepada 215 pemilik lahan areal pembangungan PLTB Moinit.

Pun perintah bayar tersebut merupakan hasil kesepakatan antara panitia pengadaan yaitu Pemkab Minsel dengan pemilik lahan yang harus dibayar oleh PT PLN.

”Dengan begitu, PLTB tentu boleh segera action,” tandas bupati Minahasa Selatan, Drs Ramoy Luntungan, Selasa (27/11) di Amurang.

PLTB yang rencananya dibangun di lokasi obyek wisata itu, sumber dana-nya kabarnya berasal dari pengusaha besar dari Malaysia. Apabila PLTB action, secara otomatis akan menjawab berbagai masalah kekurangan pasokan listrik di Sulut, kata Luntungan tanpa menjelaskan kapan selesai proyek dimaksud.

Soal ini Kepala bagian Hukum dan HAM Setdakab Minsel, Adrie Keintjem, SH di Guess House belakang Kantor Bupati menyatakan soal upaya maksimal bupati Ramoy Luntungan.

PLN, kata Keintjem, merupakan perpanjangan tangan antara pengusaha top dari Malaysia itu kini telah mendesak untuk segera menyelesaikan masalah tanah. Oleh karenanya, pemkab Minsel sudah menghubungi pemilik tanah hingga beberapa kali untuk membicarakan soal harga. Dan hasilnya, PLN sepakat membayar Rp 15 ribu permeter.

Ditempat terpisah, juru Bicara Pemkab Minsel Drs Benny Lumingkewas meski hanya kongkow-kongkow dengan sejumlah pejabat di Guess House menambahkan, secara otomatis pembangunan PLTB segera dimulai.

Terkait proyek tersebut dirinya sempat mendengar selentingan soal pengusaha asal Malaysia berpatungan dengan pengusaha Kawanua Ventje Rumangkang. ”Itu baru isu, siapa tahu benar! Kita lihat saja action mereka,” tukas Lumingkewas.

Saat ditanya mengenai PLTU Poigar 2 di Mokobang Kecamatan Modoinding, kata Lumingkewas, belum ada kesepakatan antara dua Menteri di Jakarta.*)
[Laporan: Andries Pattyranie]
.

 

 

Atasi krisis listrik, upaya bupati Ramoy Luntungan terbilang maksimal. Pemda berhasil mediasi harga tanah warga Moinit senilai Rp 15 ribu permeter

SETELAH beberapa lama, akhirnya PT (Persero) PLN Suluttenggo mungkin mulai action pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Batubara (PLTB) di lokasi Obyek Wisata Moinit Indah, Desa Tawaang, Kecamatan Tenga Kabupaten Minahasa Selatan.

Sikap tersebut, tentu setelah managemen PLN menyatakan bersedia membayar Rp 15 ribu permeter kepada 215 pemilik lahan areal pembangungan PLTB Moinit.

Pun perintah bayar tersebut merupakan hasil kesepakatan antara panitia pengadaan yaitu Pemkab Minsel dengan pemilik lahan yang harus dibayar oleh PT PLN.

”Dengan begitu, PLTB tentu boleh segera action,” tandas bupati Minahasa Selatan, Drs Ramoy Luntungan, Selasa (27/11) di Amurang.

PLTB yang rencananya dibangun di lokasi obyek wisata itu, sumber dana-nya kabarnya berasal dari pengusaha besar dari Malaysia. Apabila PLTB action, secara otomatis akan menjawab berbagai masalah kekurangan pasokan listrik di Sulut, kata Luntungan tanpa menjelaskan kapan selesai proyek dimaksud.

Soal ini Kepala bagian Hukum dan HAM Setdakab Minsel, Adrie Keintjem, SH di Guess House belakang Kantor Bupati menyatakan soal upaya maksimal bupati Ramoy Luntungan.

PLN, kata Keintjem, merupakan perpanjangan tangan antara pengusaha top dari Malaysia itu kini telah mendesak untuk segera menyelesaikan masalah tanah. Oleh karenanya, pemkab Minsel sudah menghubungi pemilik tanah hingga beberapa kali untuk membicarakan soal harga. Dan hasilnya, PLN sepakat membayar Rp 15 ribu permeter.

Ditempat terpisah, juru Bicara Pemkab Minsel Drs Benny Lumingkewas meski hanya kongkow-kongkow dengan sejumlah pejabat di Guess House menambahkan, secara otomatis pembangunan PLTB segera dimulai.

Terkait proyek tersebut dirinya sempat mendengar selentingan soal pengusaha asal Malaysia berpatungan dengan pengusaha Kawanua Ventje Rumangkang. ”Itu baru isu, siapa tahu benar! Kita lihat saja action mereka,” tukas Lumingkewas.

Saat ditanya mengenai PLTU Poigar 2 di Mokobang Kecamatan Modoinding, kata Lumingkewas, belum ada kesepakatan antara dua Menteri di Jakarta.*)

[Laporan: Andries Pattyranie]
.


Baca Juga:
Artikel sebelumnya:

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum