Alpen Steel | Renewable Energy

~ Potensi Energi Angin Untuk Pembangkit Listrik

Potensi yang Dimanfaatkan Hanya 5,4 Persen

Potensi energi angin untuk pembangkit listrik yang diperkirakan bisa mencapai 9,3 megawatt saat ini hanya dimanfaatkan 0,5 megawatt atau 5,4 persen.

Peningkatan pemanfaatan sumber energi terbarukan itu didorong Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) melalui pemaparan hasil pemantauan kecepatan angin rata-rata setiap tahun yang tersebar di 130 titik di berbagai wilayah Indonesia.

”Dari pemantauan satu titik selama setahun bisa ditentukan kecepatan rata-rata angin setahun. Hasilnya bisa memberi gambaran untuk investasi produksi listrik jika menggunakan energi angin di berbagai tempat itu,” kata Kepala Lapan (Lapan) Adi Sadewo Salatun, Rabu (23/7), dalam ”Workshop Nasional Energi Angin-Sistem Konversi Energi Angin” di Jakarta.

Adi mengatakan, secara umum potensi energi angin tersebar di wilayah Indonesia bagian timur. Saat ini, dari sekitar 0,5 megawatt listrik dari energi angin yang sudah terpasang antara lain di pantai selatan Yogyakarta, Madura, Jepara, Nusa Tenggara Barat, dan untuk taman angin di Rumpin, Tangerang, serta di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pemanfaatan energi angin untuk produksi listrik di pantai Samas, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, menurut Adi, bisa menunjang pengairan pertanian. Pemanfaatan lain, pada umumnya untuk fasilitas penerangan, termasuk pemasangan instalasi pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) di Jalan Tol Cipularang Km 88, yang diresmikan saat lokakarya. ”PLTB di Tol Cipularang kapasitas produksinya 2.500 watt, tetapi hanya dapat menghasilkan 500 watt karena kecepatan angin rendah,” katanya.

Menurut peneliti potensi energi angin Lapan, Soeripno, beberapa wilayah di Indonesia bagian timur bisa dijadikan ladang angin karena kecepatan rata-rata angin per tahun sangat bagus, lebih dari 6,3 meter per detik (m/det).

”Pemantauan kecepatan angin di Desa Oelbubuk, Kecamatan Soe, Kabupaten Timor Timur Selatan, Nusa Tenggara Timur, pada ketinggian 30 meter, rata-rata tahunannya 6,6 m/det. Pada ketinggian 50 meter bisa mencapai 7,5 m/det sehingga potensinya excellent,” kata Soeripno.

Dia mengatakan, kecepatan angin rata-rata tahunan dalam kategori cukup agar bisa menghasilkan listrik, di atas 4 m/det. Dari data kemarin, angin yang memenuhi syarat pada ketinggian 50 meter antara lain di titik Appatanah, Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan (7,33 m/det).

Titik pemantauan Malamenggu, Sangihe-Talaud, Sulawesi Utara 4,53 m/det. Di Kemadang, Gunung Kidul, Yogyakarta (5,11 m/det), Pulau Tikus, Bengkulu (4,04 m/det), Pulau Karya, Kepulauan Seribu (5,34 m/det), Tanjungkaramat, Gorontalo (5,39 m/det), dan seterusnya.

”Data ini untuk pemetaan potensi energi angin yang dapat dimanfaatkan swasta membangun PLTB,” kata Soeripno.

Daya saing produksi listrik dari energi angin, menurut Sekretaris Menteri Koordinator Perekonomian Eddy Abdurrahman yang hadir sebagai pembicara kunci dalam lokakarya itu, akan sangat kompetitif Rp 1.500-Rp 2.000 per kilowattjam (kWh). Dibanding listrik berbahan bakar minyak, Rp 3.000/kWh saat ini. (NAW)

Jakarta, Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook