Alpen Steel | Renewable Energy

Warga Tolak Listrik Tenaga Surya

Tasikmalaya, (PR).-
Misi Bakorwil Priangan membujuk warga adat Kampung Naga di Desa Neglasari, Kec. Salawu, Kab. Tasikmalaya menggunakan listrik tenaga surya gagal, meskipun telah melalui beberapa kali pertemuan. Warga adat tetap menolak penawaran untuk mengganti penerangan dengan listrik tenaga surya dan tetap menginginkan minyak tanah.

Kepala Bakorwil Priangan, Tb. Hisni datang ke Kampung Naga, Selasa (26/5) dan melakukan dialog bersama warga didampingi Asda 2 Pemkab Tasikmalaya Djeje Suhendi, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Endang Zainal Alfian, serta karyawan PT Genius International, yang membawa peralatan listrik tenaga surya. Namun, demonstrasi menyalakan listrik pun gagal, karena warga menolaknya dengan alasan jauh bertentangan dengan adat dan kepercayaannya.

"Ya jelas kami tolak, sejak zaman penjajahan Belanda saja kami sudah menolaknya pada saat hendak diberikan listrik. Terlebih sesepuh kami yang sudah meninggal berpesan agar jangan sampai listrik masuk ke Kampung Naga, karena bukan hanya adat istiadat kami yang luntur tetapi aura di Kampung Naga akan tidak ada lagi dan malah dipastikan bakal musnah," kata Ketua Adat Kampung Naga, Ade Suherlin.

"Pamali, kahade, cadu"

Alasan penolakan itu, menurut Kuncen Kampung Naga, Ade Suherlin didampingi para sesepuh Kampung Naga, karena mereka masih menganut norma adat yakni pamali, kahade, dan cadu.

Artinya warga adat Kampung Naga akan satia satuhu terhadap batasan-batasan atau amanat dan janji leluhurnya. "Sehingga dengan segala hormat, kami menolak tawaran dari pemerintah tersebut, dengan dasar pertimbangan dan pemikiran yang cukup matang. Pada dasarnya adalah takut melanggar amanat leluhur yang telah bertahun-tahun dijaga dan dipertahankan," kata Ade yang diamini para sesepuh, Selasa (25/5) kemarin.

Kalaupun tawaran itu diterima, kata Ade, paling tidak akan digunakan untuk mengisi ulang baterai (accu). Di Kampung Naga ada sekitar sepuluh keluarga yang menggunakan baterai untuk keperluan rumah tangga, seperti televisi hitam putih.

Itu pun, kata Ade, alat pembangkit listriknya tidak boleh berada dalam kawasan permukiman warga adat Kampung Naga.

Menanggapi hal itu, Kepala Bakorwil Jabar, Tb. Hisni mengatakan, pihaknya hanya ingin berupaya memberikan solusi alternatif terbaik, agar warga adat Kampung Naga keluar dari permasalahan penerangan akibat sulitnya mendapat minyak tanah.

Diterima atau tidaknya solusi alternatif tersebut, kata Husni, itu diserahkan kepada keputusan warga. Yang jelas, alat pembangkit listrik tenaga surya itu akan sangat membantu warga adat Kampung Naga sebagai solusi atas permasalahan penerangan.

"Berbeda dari listrik PLN, dengan menggunakan pembangkit listrik ini, selain aman digunakan, juga cahaya yang dihasilkan jauh lebih terang dibandingkan dengan lampu listrik biasa dan dijamin lebih awet," kata Hisni. (A-14)***

Sumber : Harian Pikiran Rakyat, Rabu 27 Mei 2009

Ingin berdiskusi masalah Energy? Klik disini untuk masuk ke Forum Kami

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook