Alpen Steel | Renewable Energy

Energi Surya Mahal Tapi Menggiurkan

(0 - user rating)
Asap rokok langsung menerjang kala Jurnal Nasional memasuki ruangan seluas enam meter kubik itu. Dengan meja kerja berpusat di tengah-tengah ruang tegak lurus pintu masuk, ruangan itu tampak menjadi lebih kecil.
Buku-buku dan kertas-kertas, yang saya yakin berisikan seluruh dokumen laporan, bertumpuk-tumpuk di meja dan rak buku di sebelah kiri meja. Sedikit ada sentuhan teknologi di sudut kanan meja itu, sebuah komputer dengan LCD monitor berwarna hitam.

Selintas pria yang duduk di belakang meja itu terlihat begitu mirip dengan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie. Tipe wajah yang sama-sama lonjong dengan tekstur dagu yang memanjang, ditambah pula sama-sama menggunakan kaca mata.

Pembawaan Kosasih Abbas, Kepala Subbidang Direktorat Usaha Energi Baru Terbarukan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sangat ramah. Tanpa lelah ia menyambut tamu-tamunya yang berdatangan silih berganti selama jam kerjanya. Begitu pula kala Jurnal Nasional mengunjungi kantornya yang berada di lantai empat gedung Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi di sekitar kawasan Kuningan Jakarta. Kosasi, begitu ia biasa dipanggil, dengan ramah melayani wawancara mengenai perkembangan energi alternatif tenaga surya. Berikut petikannya:
Sudah sejauh mana energi surya dimanfaatkan di Indonesia?

Sebelumnya, saya ingin menjelaskan bahwa pemanfaatan energi surya tidak semata-mata hanya untuk menghasilkan listrik seperti energi alternatif lainnya, misalnya angin, air, dan gelombang. Energi surya juga bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan non-listrik atau termal. Contoh untuk pemanfaatan termal, salah satunya yang kini tengah berkembang pesat di sejumlah kawasan Indonesia adalah alat pengering surya.

Seperti namanya, alat ini tentu digunakan untuk mengeringkan berbagai produk semisal pertanian (agroindustri) dan perikanan. Metode tradisionalnya bisa kita lihat di pengeringan ikan asin di pantai-pantai.

Apa keunggulan alat pengering surya itu?

Nah, berdasarkan pengalaman dan penelitian kami, pengeringan dengan menggunakan energi surya ternyata jauh lebih baik hasilnya dibandingkan dengan yang menggunakan langsung matahari. Terbukti hasil pengeringan dengan alat yang mirip rumah kaca dalam skala kecil hingga besar ini, bisa meningkatkan nilai tambah produk dengan kualitas yang jauh lebih baik dan tentunya dengan waktu yang lebih singkat.

Jika mau melihat contoh pengembangan alat pengering surya ini bisa dilihat yang terdekat di Cimahi, Jawa Barat. Salah satu produk yang dikembangkan dengan teknologi energi ini adalah dendeng Denjapi, yaitu dendeng dengan bahan dasar dari jantung pisang. Selain itu juga telah digunakan untuk mengeringkan buah cokelat.

Tujuan pengembangan energi surya?

Pengembangan energi surya tujuan awal dan utamanya adalah untuk meningkatkan daya tambah masyarakat terutama masyarakat yang tidak dalam jangkauan jaringan Perusahaan Listrik Negara (PLN), dengan memanfaatkan sumber energi alternatif yang tepat seperti matahari. Bagaimana pun hak semua warga negara untuk dapat menikmati tenaga listrik.

Tidak hanya untuk keperluan sehari-hari rumah tangga tetapi juga untuk mengembangkan berbagai usaha warga di pedesaan yang kebanyakan terjun di dunia pertanian dan perikanan. Harapannya nanti, dengan bantuan teknologi yang tepat untuk daerah pedesaan kondisi ekonomi warga menjadi lebih kokoh. Kualitas hidup mereka juga meningkat, bayangkan saja dulu anak-anak sekolah hanya bisa mengandalkan siang hari untuk belajar tetapi dengan adanya listrik mereka juga bisa belajar di malam harinya.

Apakah energi surya yang menjadi prioritas untuk dikembangkan di pedesaan?

Perlu saya jelaskan terlebih dulu, pemanfaatan energi alternatif sangat bergantung pada lokasi di mana teknologinya di kembangkan. Misalnya saja untuk energi angin, tidak semua kawasan di Indonesia bisa dikembangkan karena amat tergantung pada kecepatan anginnya. Begitu pula dengan energi alternatif dari air, tidak semua daerah memiliki potensi pengembangan mikrohidro.

Itulah mengapa sebelum mengembangkan sumber energi alternatif di suatu lokasi akan dilakukan survei terlebih dulu. Untuk menilai kesesuaian teknologi energi dengan medan alam. Bentukan lokasi sangat berperan penting karena ikut mempengaruhi besar kecilnya dana yang dikeluarkan untuk membangun bangunan sipil.

Berbeda dengan energi surya yang bila dikembangkan di Indonesia bisa dilakukan di mana saja karena intensitas cahaya matahari Indonesia memenuhi untuk pengembangan PLTS ini.

Namun dalam peringkat prioritasnya yang dihubungkan dengan ketersediaan dana, energi PLTS malah menjadi alternatif yang terakhir dibandingkan dua energi lainnya. Pasalnya jatuhnya biaya untuk pengembangan sumber energi air semisal mikrohidro ternyata jauh lebih murah dibanding tenaga surya.

Perbandingannya seperti apa?

Seperti yang saya katakan sebelumnya, murah atau tidaknya satu pengembangan energi alternatif tidak bisa disamaratakan karena sangat bergantung pada kondisi lahan pembangunannya. Tetapi, umumnya pembangunan mikrohidro jauh lebih rendah dibandingkan surya.

Lebih mahalnya energi surya tidak lain karena ketergantungan pada impor sel surya. Berbeda dengan energi mikrohidro yang pengembangan teknologinya sudah bisa dikembangkan sendiri.

Bila dirata-ratakan, misalnya, untuk menghasilkan satu kilowatt listrik dengan menggunakan teknologi surya dibutuhkan dana sekitar Rp200 juta. Sedangkan bila menggunakan mikrohidro hanya berkisar Rp25-30 juta dan menggunakan energi angin berkisar Rp40-50 juta.

Tetapi, sekali lagi perlu diingat besarnya dana amat tergantung pada pembangunan infrastrukturnya. Berbeda ceritanya jika Anda bertanya kapasitasnya, maka pengembangan energi sel surya jauh lebih banyak dibandingkan energi baru alternatif lainnya.

Penelitian teknologi surya di Indonesia tidak berkembang?

Penelitian teknologi surya di Indonesia saat ini terus berjalan. Bahkan beberapa ahli pengembang energi surya kita ada juga yang melatih ke negara-negara ASEAN yang kurang maju seperti Laos, Vietnam, Kamboja dan Myanmar. Dengan tujuan membantu mereka untuk dapat memanfaatkan teknologi ini.

Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk lebih mengembangkan produk kita sendiri. Maksudnya, saat teknologi ini kita percontohkan ke warga maka secara aktif mereka mengembangkan sendiri teknologi tersebut dengan dasar dari sampel yang kami berikan, misalnya saja alat pengering surya tadi.

Untuk dana mungkin pemerintah daerah bisa mengusahakannya, tetapi tidak lepas kemungkinan masyarakat bisa berswadaya karena bahan-bahan yang digunakan tidak terlalu mahal.

Siapa saja yang ikut berperan dalam penelitian dan pengembangan teknologi surya?

Tentu saja pengembangan teknologi energi alternatif khususnya surya melibatkan berbagai lembaga peneliti di Indonesia, juga lembaga-lembaga pendidikan seperti universitas dan pemerintah sendiri. Sudah banyak proyek percontohan yang mendapatkan dorongan dari pemerintah. Keterlibatan universitas salah satunya adalah ITB dan masih ada yang lainnya.

Berapa dananya?

Untuk tahun ini (2008) besar dana yang diturunkan mencapai Rp255 miliar yang nantinya dialokasikan secara merata ke seluruh kantong-kantong pengembangan energi alternatif. Seperti yang diputuskan dalam kebijakan pemerintah, energi alternatif mendapat bagian sebanyak 15 persen yang masing-masing energi mendapat jatah lima persen.

Tidak ada prioritas pemanfaatan dana untuk satu energi?

Bila dilihat dari perkembangan dananya, PLTS sudah menjadi prioritas sesungguhnya. Karena pengembangan energi alternatif lainnya yang sudah besar-besar itu lebih bersifat ke komersial. Berbeda dengan PLTS yang bersifat sosial. Tetapi jika ditanyakan lebih ke pengembangan listrik atau termal, saat ini lebih diutamakan untuk listrik.

Tahun lalu saja, khusus energi surya kita sudah menyebarkan 40 ribu panel surya di seluruh provinsi dengan sistem SHS (Solar Home System) yakni, pemberian satu panel surya pada masing-masing rumah. Sistem ini dikembangkan jika rumah warga satu dengan lainnya sangat jauh maka kita gunakan sistem SHS di mana tiap rumah mendapatkan satu panel surya.

Panel surya yang diberikan mampu menghasilkan listrik sebesar 50 Wp (watt peak) yang bisa digunakan pada tiga lampu. Buat mereka yang di pedesaan yang belum memiliki banyak benda elektronik, tentu sudah sangat mencukupi. Teknologi dengan sistem ini saja sebenarnya masih sangat mahal, yakni berkisar RP6-7 juta. Tahun ini, kami menargetkan penyebaran jumlah yang sama.

Selain sistem SHS?

Nah, selain SHS ada pula pengembangan dengan sistem terpusat. Ini berlaku jika rumah antarwarga saling berdekatan. Misalnya, perumahan warga transmigrasi yang jarak dengan tetangganya tidak terlalu jauh.

Daerah mana yang mendapat bantuan?

Saya kurang ingat. Tetapi yang pasti kawasan Indonesia Timur lebih banyak dibandingkan di Barat dan Tengah. Karena jangkauan PLN di daerah-daerah itu memang masih sulit. Rasio elektrifikasi di kawasan pedesaan masih sangat rendah. Sekitar 40 persen warga Indonesia belum bisa menikmati listrik. Nah, kalau kita mengandalkan PLN masih lama lagi.

Kendala pengembangan SHS?

Hambatannya terutama ada dalam pendanaan. Bahan dasarnya saja masih mahal. Hingga saat ini kebanyakan pemanfaatan teknologi ini masih banyak mengandalkan pemerintah yang berasal dari dana APBN.

Selain itu, minimnya pengetahuan masyarakat untuk cara perawatan dan pengelolaan panel sel surya berdampak pada pendeknya usia panel. Kami sudah berupaya untuk menangani permasalahan ini dengan kerap menyosialisasikan berbagai informasi mengenai perawatan sel surya. Sebenarnya tak sulit, hanya tinggal di lap agar debu-debu tidak menghalangi masuknya sinar ke panel.

Mengapa di Eropa booming?

Perbedaannya pada kemampuan daya beli. Meski pun sekarang teknologinya masih tergolong mahal, tetapi mereka bisa membelinya. Kalau warga kita, boro-boro bisa membeli, untuk kehidupan sehari-hari saja mungkin masih pusing. Selain itu kesadaran lingkungan mereka lebih tinggi. Nah di Indonesia, jangankan bicara lingkungan, untuk kebutuhan ekonominya saja masih pusing.

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook