~ Melepas Ketergantungan PLN Dengan Energi Alternatif

Melepas Ketergantungan PLN dengan Energi Alternatif

MUKHIJAB/
MUKHIJAB/"PRLM"
DI atap rumahnya, Prof. Heru Nugroho sedang mengecek kesiapan solar cell untuk dioperasikan sebagai penyerap energi surya.*

YOGYAKARTA, (PRLM).- Perlawanan terhadap penggunaan energi tak terbarukan sebagai bahan energi listrik oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) memerlukan strategi yang cerdas. Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Prof.Dr. Heru Nugroho mencontohkan model menghadirkan energi alternative (matahari/surya dan angin) di lingkungan rumahnya. 

Energi matahari dan angin merupakan energi terbarukan, tidak merusak alam. Sebaliknya energi tak terbarukan seperti batubara yang digunakan oleh PLN sebagai sumber energi listrik, sifatnya tidak ramah lingkungan dan merusak alam. 

Ketua Program Pascasarjana Sosiologi UGM mengistilahkan inisiatifnya sebagai projek pribadi untuk melepas ketergangungan dari energi konvensional. Strateginya sederhana, memasang panel solar (solar cell) dan turbin di atap rumah, terdiri dari delapan panel solar daya 100 watt (harga Rp 3,2 juta/panel solar) dan 28 panel solar daya 50 watt (Rp 1,2 juta/panel solar). Dia memasang sebuah turbin angin berdaya 1.000 watt (harga Rp 18 juta). Fungsi turbin menciptakan energi dari angin sebagai substitusi energi listrik saat matahari “tidur pulas” di musim hujan. 

Jika seluruh perangkat solar cell terpasang dan berfungsi normal, alumnus Fakultaet fuer Soziologie Universitaet Bielefeld , Universitaet Bieleveld, Jerman, 1993, rumahnya memperoleh energi listrik rata-rata 2600 watt atau dua kali lipat listrik langganan PL:N (1.300 watt). Dengan perangkat yang terpasang 70 persen, daya listrik yang diperoleh 2.000 watt.  “Listrik dari PLN, saya jadikan cadangan saja,” kata dia. 

Menurut dia, gerakannya jangan dilihat dari nilai kemahalan perangkat solar cell dan turbin. “Ini gerakan pribadi dengan spirit melepas dari ketergantungan energi yang merusak lingkungan,” kata dia saat ditemui di Yogyakarta, Kamis (22/9). Langkahnya dimaksudkan juga untuk mengetuk nurani warga kelas menengah atas untuk partisipasi menggunakan energi terbarukan demi melestarikan alam, mengingat warga kelas ini paling banyak menghabiskan energi konvensional untuk rumah tangga maupun perusahaannya.

Dosen arsitektur Universitas Islam Indonesa (UII) Yogyakarrta Ir. Wiryono Raharjo, March, Ph.D berpendapat kelas menengah sangat strategis memanfaatkan energi terbarukan.  Alumnus Melbourne School of Design, Melbourne University mencontohkan gerakan tersebut dilakukan komunitas kelas menengah di Australia dan India. 

“Gerakan yang mirip di Yogyakarta dengan tujuan menggunakan energi alternatif telah dicoba di kompleks perumahan Merapi View, Kaliurang, Sleman, kurang gaungnya. Langkah Profesor Heru Nugroho sangat saya setujui dan bisa memacu kembali pemanfaatan gerakan energi ramah lingkungan. Ini sangat penting dijadikan gerakan massal oleh kalangan kelas menengah atas,” ujar dia.

Gerakan pemanfaatan energi ramah lingkungan semacam itu, menurut dia, perlu intervensi pemerintah lokal. Distrik-distrik India menerapkan gerakan ramah lingkungan ditopang kebijakan pemerintah daerah. “Pemerintah kabupaten/kota bisa intervensi pada kebijakan sektor perumahan. Setiap rumah kelas menengah atas diatur penempatan solar cell dan regulasi pengadaannya secara massal  supaya harga  solar cell bisa murah,” ujar dia. (A-84/A-147)***


Baca Juga:
Artikel sebelumnya:

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum