Pembangkit listrik tenaga angin, kata dia, cocok di benua Amerika dan Eropa seperti Belanda karena di wilayah itu pergerakan angin stabil. Indonesia memiliki pergerakan angin yang tidak mudah ditebak dan tidak konstan.

Dia melanjutkan pergerakan angin harus konstan sekitar 4 - 8 knot perdetik untuk memutar turbin, jika angin terlalu kencang dapat merusak motor kincir angin dan itulah kenapa dibutuhkan angin yang stabil.

"Hanya ada satu daerah di Indonesia yang cocok memanfaatkan teknologi pembangkit listrik tenaga angin yaitu pulau Selayar di Sulawesi Selatan," katanya.

Lalu bagaimana dengan energi matahari?, Dendi mengatakan, hanya energi matahari yang dapat dimanfaatkan di seluruh Indonesia karena sumber cahaya matahari yang tak terbatas. Dan, Indonesia terletak di garis khatulistiwa.

"Hampir wilayah Indonesia bagian timur, yang tidak mendapatkan pasokan listrik dari PLN menggunakan energi solar," katanya.

Keuntungan lainnya, proses pemasangan solar panel sangat mudah, tidak memerlukan bahan bakar, tidak menimbulkan suara bising, lebih efisien, hemat dan efektif dan terakhir tentunya sumber cahaya matahari yang tak terbatas.

"Sistem pembangkit listrik tenaga surya sangat ramah lingkungan karena tidak mengkonsumsi bahan bakar," katanya.

Alat untuk mengubah energi matahari menjadi energi listrik adalah modul surya. Modul Surya dapat langsung menghasilkan energi listrik yang diubah langsung dari energi matahari tanpa memerlukan bahan bakar fosil. 

Kapasitas daya modul surya dihasilkan bervariasi mulai dari yang kecil (yaitu 10Wp) hingga ukuran yang besar (sekitar 280 Wp).

"Untuk memenuhi jumlah listrik yang besar, maka beberapa modul surya dapat digabung menjadi satu yang biasa dikenal dengan array," katanya.