Alpen Steel | Renewable Energy

~ Solar Cell Pemacu Kemajuan

Listrik Tenaga Surya Pemacu Kemajuan

Setelah melangkah melalui jalan terjal berbatu sepanjang enam kilometer dari pedusunan terdekat, sampailah Kompas pada kawasan paling selatan dari Kecamatan Panggang, Gunung Kidul, yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia.

Sejauh mata memandang, ada tiga obyek yang paling menarik perhatian, yakni gundukan bukit kapur, membirunya air samudra dengan permukaan tampak melengkung di kejauhan, serta kawasan perumahan milik nelayan transmigran lokal yang berada di sela-sela perbukitan.

Seperti setahun lalu, suasana pantai itu tidak banyak berubah. Kecuali beberapa nelayan yang tengah bercengkerama-mungkin membicarakan gelombang pasang yang baru saja terjadi sehari sebelumnya-kondisi pantai dan perumahan secara keseluruhan masih sepi oleh aktivitas. Yang terdengar hanya deburan gelombang menghantam tebing yang sebagian telah longsor oleh gempa setahun lalu.

Rumah-rumah yang sebagian di antaranya tampak tidak lagi lengkap, seperti daun jendela yang rusak masih bisa dijumpai satu- dua.

Namun, jika diperhatikan lebih seksama, ada yang berubah di Gesing. Kini, pada masing-masing atap rumah warga terpasang peralatan berupa panel-panel tenaga surya berbentuk segi empat. "Peralatan tersebut dipasang sekitar enam bulan lalu oleh pemerintah setempat, bekerja sama dengan pihak lain," ujar Ketua Kelompok Nelayan Gesing Panjolo Putro Tugimin (40), dua pekan lalu.

Selain solar sel untuk keperluan rumah tangga, fasilitas lain yang telah terpasang adalah kincir angin untuk memompa air sumur dan telepon satelit untuk mempermudah akses warga dalam berhubungan dengan orang di luar wilayah.

Meski masih terbatas lantaran tiap panel (kopel) dipakai oleh dua keluarga, tetapi keberadaannya cukup membantu. Alat itu mampu menghasilkan daya 30 watt atau setara dengan tiga lampu neon berdaya masing-masing 10 watt.

Keberadaan alat itu juga menggeser peran lampu-lampu minyak yang sebelumnya selalu menyala setiap malam. "Praktis yang dulu hampir setiap malam tidak ada kegiatan, sekarang lain lagi ceritanya. Kami bisa mengerjakan hal-hal yang sebelumnya hanya dilakukan siang hari, seperti memperbaiki jaring ikan," kata Tugimin.

Sayangnya, selain jumlah, keberadaan sumber energi alternatif itu juga belum bisa dimanfaatkan maksimal untuk kepentingan lain. Untuk televisi hitam-putih atau memutar video compact disc (VCD) misalnya, ia hanya mampu dimanfaatkan beberapa jam. Demikian pula untuk memasak, warga masih menggunakan kayu bakar dan minyak tanah.

Selain perumahan, sel tenaga surya ternyata juga dipasang di beberapa lokasi, seperti warung makan dan tempat pelelangan ikan. Seperti di rumah warga, peralatan itu sebagian besar hanya bisa dimanfaatkan saat malam hari.

"Sebenarnya fungsinya sangat tergantung cuaca. Jika cerah dengan sinar matahari menyengat, maka kesempatan warga untuk memanfaatkannya bisa kian lama. Bahkan, siang hari pun terkadang harus dipakai agar peralatannya tidak rusak. Kalau panas energi yang tertampung di dalamnya kan cukup besar, sehingga energi harus dibuang," tutur Tugimin.

Dalam suasana mendung, menurut nelayan transmigran lokal yang menghuni kawasan tersebut sejak lima tahun lalu itu, solar sel mampu memberikan daya 3-4 jam. Dengan catatan, warga menyalakan lampu mulai sekitar pukul 17.00, sedangkan dalam cuaca cerah waktunya bisa lebih lama, bahkan mencapai dini hari.

Kini, untuk mempertahankan kelangsungan alat-alat itu, nelayan setempat memiliki inisiatif tersendiri. Tiap bulan, mereka menyisakan dana senilai Rp 5.000. Uang itu dipakai untuk biaya perawatan, misalnya mengganti air accumalator (air aki).

Kalau diperhatikan, Gesing yang sekarang memang berbeda. Tidak saja keterampilan melaut para nelayan yang kian bertambah, semangat mereka untuk maju juga tampak.

Mereka sangat berharap di wilayah itu dibangun lagi beberapa fasilitas pendukung, seperti sumur, MCK, tempat ibadah, maupun pengaspalan jalan berbatu yang hingga kini cukup berat dilalui. Di wilayah ini ada 180-an jiwa yang mengadu nasib.

"Kami berharap ada sekolahan. SD terdekat jaraknya enam kilometer, sedangkan SMP 14 km. Selama ini anak-anak sekolah di tempat neneknya, di desa.

Tugimin. (WER)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook