Alpen Steel | Renewable Energy

FAQ Sel Surya

“Sel surya” merupakan kata yang paling banyak diketik orang ketika mencari sebuah portal internet untuk mengetahui lebih jauh tentang seluk beluk sel surya. Kata tersebut itulah yang dipergunakan orang untuk menemukan Blog ini selain kata-kata “pembuatan sel surya”, “harga sel surya”, “energi surya” dan sebagainya.

Patut penulis syukuri bahwa rata-rata per harinya, halaman Blog ini dilongok 100-150 kali. Jelas ini benar-benar patut disyukuri mengingat Blog ini bukanlah sebuah blog umum yang membahas aneka ragam isu-isu hangat yang tengah timbul tengelam di masyarakat, melainkan sebuah Blog dengan pengunjung yang terspesifikasi khusus dalam bidang teknologi tertentu; sel surya.

Tulisan kali ini ingin mencoba untuk merangkum beberapa pertanyaan yang paling sering dilontarkan di Blog ini terkait dengan sel surya yang sayangnya penulis baru kali ini sempat menjawabnya secara khusus dalam sebuah artikel. Berikut ini ialah pertanyaan yang pada umumnya sering ditanyakan melalui Blog ini.

FAQ ini penulis susun secara berkala dan diusahakan selalu diperbaharui/update dengan menambahkan aspek baru terkait dengan hal hal dasar tentang sel surya dan teknologinya.

1. Apakah sel surya itu dan bagaimana cara kerjanya?

Sel surya ialah sebuah alat yang tersusun dari material semikonduktor yang dapat mengubah sinar matahari menjadi tenaga listrik secara langsung. Sering juga dipakai istilah photovoltaic atau fotovoltaik. Sel surya pada dasarnya terdiri atas sambungan p-n yang sama fungsinya dengan sebuah dioda (diode). Sederhananya, ketika sinar matahari mengenai permukaan sel surya, energi yang dibawa oleh sinar matahari ini akan diserap oleh elektron pada sambungan p-n untuk berpindah dari bagian dioda p ke n dan untuk selanjutnya mengalir ke luar melalui kabel yang terpasang ke sel.

2. Siapakah yang pertama kali menemukan sel surya?

Sejarah sel surya dapat dilihat jauh ke belakang ketika pada tahun 1839 Edmund Becquerel, seorang pemuda Prancis berusia 19 tahun menemukan efek yang sekarang dikenal dengan efek fotovoltaik ketika tengah berkesperimen menggunakan sel larutan elektrolisis yang dibuat dari dua elektroda. Becquerel menemukan bahwa beberapa jenis material tertentu memproduksi arus listrik dalam jumlah kecil ketika terkena cahaya.

Era sel surya modern baru dimulai satu abad setelah penemuan fenomena fotovoltaik pertama, yakni ketika tiga peneliti Bell Laboratories di AS (Chapin, Fullr dan Pearson) secara tidak sengaja menemukan bahwa sambungan dioda pn dari silikon mampu membangkitkan tegangan listrik ketika lampu laboratorium dinyalakan. Pada tahun yang sama, usaha mereka telah berhasil membuat sebuah sel surya pertama dengan efisiensi sebesar 6%. Dari titik inilah penelitian sel surya akhirnya berkembang hingga saat ini, dengan banyak jenis dan teknologi pembuatannya.

3. Berapakah efisiensi sel surya saat ini?

Saat ini, efisiensi sel surya dapat dibagi menjadi efisiensi sel surya komersil dan efisiensi sel surya skala laboratorium.

Sel surya komersil yang sudah ada di pasaran memiliki efisiensi sekitar 12-15%. Sedangkan efisiensi sel surya skala laboratorium pada umumnya 1,5 hingga 2 kali efisiensi sel surya skala komersil.

Hal ini disebabkan pada luas permukaan sel surya yang berbeda. Pada sel surya di pasaran, sel yang dipasarkan pada umumnya memiliki luas permukaan 100 cm2 yang kemudian dirangkai mejadi modul surya yang terdiri atas 30-40 buah sel surya. Dengan semakin besarnya luas permukaan sel surya, maka sudah menjadi pengetahuan umum jika terdapat banyak efek negatif berupa resistansi sirkuit, cacat pada sel dan sebagainya, yang mengakibatkan terdegradasinya efisiensi sel surya.

Pada sel surya skala laboratorium, luas permukaan sel yang diuji hanya berkisar kurang dari 1 cm2. Hal ini dimaksudkan untuk melihat kondisi ideal sel surya yang bebas dari cacat maupun resistansi ketika dihubungkan ke sebuah sirkuit. Disamping itu, kecilnya luas permukaan sel surya memudahkan proses pembuatannya di mana alat yang dipakai di dalam laboratorium ialah alat yang berukuran kecil.

4. Apakah sel surya sudah diproduksi di Indonesia?

Sepanjang pengetahuan penulis, level produksi sel surya di Indoneisa masih dalam tahap assembly atau perakitan yang beberapa bahannya diimpor dan sebagian diproduksi di dalam negeri. PT LEN sejauh ini mempu membuat sel surya tersebut. Secara khusus, pabrik sel surya di Indonesia masih etrbilang sangat langka. Produk produk sel surya yang dipasarkan di Indonesia mayoritas merupakan hasil impor.

5. Seberapa besar potensi yang dimiliki oleh negara kita untuk mengembangkan teknologi sell surya ?

Sel surya mengandalkan siraman sinar matahari dengan intensits yang memadai. Dengan letak geografis Indonesia di khatulistiwa dengan jaminan limpahan sinar matahari sepanjang tahun tidak mengalami perubahan berarti, maka sel surya patut menjadi salah satu bentuk energi masa depan yang perlu dikembangkan oleh anak bangsa. Hal ini pula didukung oleh efisiensi sel surya yang terus meningkat plus biaya produksi nya yang semakin kecil.

6. Untuk dapat beroperasi, sarana pendukung apa saja yang dibutuhkan?

Sel surya hanya merupakan satu komponen penyerap cahaya yang langusng mengkonversi cahaya tsb menjadi litstrik. Agar listrik dari sel surya ini dapat dimanfaatkan, maka sel surya membutuhkan apa yang disebut dengan Balance of System (BOS) yang paling minim terdiri atas; inverter (mengubah listrik DC dari sel surya menjadi listrik AC untuk keperluan sehari hari), baterei (untuk menyimpan kelebihan muatan listrik guna pemakaian darurat atau malam hari), serta beberapa buah controller untuk mengatur secara optimal daya keluaran sel surya.

7. Berapa harga sel surya lengkap berikut komponen pendukungnya?

Secara umum, harga sel surya berikut BOS sekitar US$ 8-10/Watt. Harga ini harga sel surya tanpa adanya subsidi atau potongan harga dsb. Dan biaya sel surya biasa dikonversi ke dalam satuan US$/Watt. Jika seseorang ingin membeli sel surya untuk keperluan penerangan rumah tangga yang sekitar 900 Watt, maka secara kasar biaya yang perlu dikeluarkan (diinvestasikan?) sebesar 900 Watt x US$ 8 = US$ 7200. Harga ini sudah termasuk biaya pemasangan dan beberapa komponen pendukung untuk dipasang di atap sebuah rumah. Dengan adanya beberapa kebijakan pemerintah (subsidi, potongan harga, kredit pembelian dsb) harga sel surya ini dapat ditekan hingga hanya tinggal 30% saja.

8. Mengapa harga sel surya terbilang sangat mahal dibandingkan dengan listrik yang dihasilkan oleh pembangkit konvensional?

Ada beberapa alasan untuk ini;

Pertama, sel surya mengandalkan bahan silikon sebagai material penyerap cahaya matahari. Dan harga silikon ini meningkat seiring dengan permintaan industri semikonduktor ditambah dengan suplai bahan baku silikon yang terbatas. Silikon yang dipakai sebagai bahan dasar chip di dunia mikroelektronika/semikonduktor ini semakin dibutuhkan mengingat adanya peningkatan tajam untuk produksi peralatan elektronika mulai dari komputer, monitor, televisi dsb. Hal ini diperparah dengan jenis sel surya yang paling banyak dipasarkan di dunia yakni sel surya jenis silikon sehingga sel surya secara langsung harus berkompetisi dengan industri lain untuk mendapatkan bahan baku silikon.

Kedua, perlu digaris bawahi bahwa harga listrik konvensional sebagai bahan perbandingan harga listrik sel surya ialah harga setelah mendapat subsidi. Subsidi ini dimaksudkan agar listrik dapat menjangkau segala lapisan masyarakat, sedangkan sel surya sebaliknya, tidak mendapat subsidi atau dukungan yang membuat harga sel surya terasa mahal. Sebagai perbandingan, di negara-negara yang sudah mapan memanfaatkan sel surya, pemerintah negara-negara tersebut sudah memberlakukan segala program kebijakan agar sel surya dapat memasyarakat semisal subsidi, kredit pembelian, feed-in-tariff dan sebagainya. Sebagai contoh di Korea Selatan, harga sel surya yang dibeli oleh konsumen setempat mampu ditekan hingga 70% sekitar US$ 3 hingga 4 per Watt-nya.

9. Di mana kita bisa mendapatkan produk sel surya di Indonesia dan berapa harganya ?

Mungkin paling mudah melacaknya di Internet.
Kebetulan juga, salah seorang pengunjung Blog ini pernah memberi info adanya sebuah webste portal belanja produk-produk kita. Silakan klik link berikut ini

Indonetwork.com

Di sana, kita dapat menemukan beberapa toko di bilangan Jakarta yang menyediakan produk berikut perangkat penunjang sel surya. Beberapa toko memasarkan sel surya dengan harga Rp. 5 Juta/50 Watt modul sel surya. Harganya mengikuti harga pasaran internasional ~ US$ 10/Watt kira-kira.

 About me

dsc02031.jpg

On July 2008, I’ve just finished my PhD degree from Department of Materials Science and Engineering, Yeungnam University at Gyeongsan, South Korea. I‘ve been living for 5.5 years in Korea and from last August 2006, I’ve been starting to live with my wife Intan Savittri (Intan) and my incredible-growing son Muhammad Amrurazan Wibowo (Razan). We are staying in a small studio house near the campus where my son always makes everything chaotically.

I got my B.S from Department of Metallurgy University of Indonesia in Aug. 2002 and M.S in Engineering degree from Department of Materials Science and Engineering Yeungnam University (YU), South Korea in Feb. 2005.

My research interest spans from thin film technology to electrochemistry which I believe can offer many advantages in order to develop a thin film solar cell. I have big curiosities on the phenomena underlying the solar cell physics as a part of soli state physics, quantum mechanics as well as statistical mechanics.

I like reading, mostly physics and other popular sciences. I love specific topics of the relation between religion, philosophy, science and metaphysics. Blogging is my newest hobby, usually done when I have a spare time.

My activities are mostly done at laboratory. I am researching the alternative methods and materials with the purpose of preparing a smart solar absorber material which exhibit good physical and chemical characteristics to be applied as thin film solar cells.I did several projects related to display technology with LG-Philips Korea and I was a research leader on the development of alternative and low cost thin film solar cell based on quaternary semiconductor compounds under supervision of Korea Institute of Energy Research (KIER) and supported by Korea Ministry of Commerce, Industry and Energy (MOCIE). Other collaboration for investigating novel materials for solar cell are also in collaboration with several Korean leading universities; KAIST and Korea University. This research project ended in December 2007.

Recently, I am a Post-doctoral fellow who work with a consortium of Korean solar cell leading research laboratories named Center for Inorganic Photovoltaic Materials (CIPM) which is jointly supported by Korean Government and Korean leading semiconductor industries to conduct an advanced research in inorganic materials for photovoltaic/solar cell application.

With this Blog, I try to collect and to publish as much as possible my thought concerned primarily about the solar energy and green energy concepts, discourses, ideas and scenarios as a part of a sustainable-renewable energy issue based on my knowledge, experiment as well as experience dealing with solar cell with a popular science-writing style.

Hope it will be useful for the readers, in particular for Indonesians whom I dedicated this blog to.

I believe that in the near future, the world’s energy security will depend strongly on the sustainable energy supply in order to maintain its economics activity and civilization.

And solar energy extracted by solar cell will be one of the right choice…

InsyaAllah.

Rachmat Adhi Wibowo

Nano & Thin Film Materials Laboratory
Materials Building Room 318
Department of Materials Science and Engineering
Yeungnam University
214-1 Daedong, Gyeongsan

Center for Inorganic Photovoltaic Materials (CIPM)
Engineering Research Center
Korea Advanced Institute of Science and Technolog

 

 

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook