Alpen Steel | Renewable Energy

MANFAATKAN SEL SURYA: PERKANTORAN PEMERINTAH BISA DIJADIKAN CONTOH

Ditulis Oleh Administrator   
Rabu, 07 Mei 2008
ImageJakarta, Kompas, 5 Mei 2008, - Perkantoran pemerintah bisa dijadikan contoh penerapan energi surya di perkantoran. Selain prospektif dan ramah lingkungan, solusi ini pun merupakan jawaban dari pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang meminta penghematan energi berbahan bakar minyak benar-benar dilakukan.

”Teknologinya sudah siap. Tinggal kemauan saja untuk melaksanakannya,” kata Komisaris Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Alhilal Hamdi ketika dihubungi Kompas, Minggu (4/5), di Jakarta.

Menurut dia, penggunaan energi surya perlu didorong untuk menciptakan kemandirian energi serta antisipasi menghadapi kondisi krisis energi minyak pada masa mendatang.

Di sisi lain, listrik yang bersubsidi seperti sekarang telah menjadikan masyarakat seperti ”kecanduan” fasilitas murah dari negara sehingga sulit menumbuhkan kreativitas dan kemandirian soal energi tersebut.

”Pemerintah maupun badan usaha milik negara harus memulai kemandirian energi, seperti dengan pemanfaatan sel surya untuk setiap perkantoran. Kemudian harus diikuti publik. Produksi listrik yang berlebih pun bisa dijual ke PLN,” kata Alhilal.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam beberapa tahun terakhir telah menyiapkan prototipe atau percontohan produksi listrik dari sel surya untuk gedung perkantoran. Menurut Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi BPPT Arya Rezavidi, sampai sekarang tidak ada kemauan politik dari pemerintah untuk mengaplikasikannya.

Alhilal mengatakan, semestinya masyarakat perkotaan dengan kemampuan ekonomi lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat desa atau di pelosok dapat menyadari pentingnya kemandirian energi, terutama dengan memanfaatkan energi terbarukan seperti sel surya.

Investasi dengan energi terbarukan saat ini memang masih relatif mahal. Namun, setidaknya manfaat ramah lingkungan dapat dipetik dan di kemudian hari pun dapat bersaing dengan listrik yang diproduksi menggunakan bahan bakar minyak.

Harus digalakkan

Secara terpisah, pakar fisika dari Institut Teknologi Bandung, Wilson Wenas, di Manado mengatakan, penggunaan pembangkit listrik tenaga surya merupakan jawaban tepat di tengah kenaikan harga minyak bumi yang tak terkendali.

Menurut dia, pemerintah harus lebih serius mencari alternatif pengganti energi listrik yang bersumber minyak bumi. ”Tidak bisa ditunda-tunda lagi karena situasinya sudah mendesak,” ujarnya.

Menurut Wilson, energi sel surya dunia merupakan industri energi terbarukan yang paling cepat pertumbuhannya, yakni rata-rata lebih dari 40 persen per tahun selama delapan tahun terakhir (1999-2007). Adapun total produksi dunia tahun 2007 mencapai 4.000 megawatt (MW).

Wilson yang meraih berbagai penghargaan internasional mengenai sel surya mengatakan, aplikasi sel surya paling banyak di sejumlah negara adalah untuk penggunaan di kota-kota dengan sistem tersambung ke jaringan listrik negara (grid connected), yang mencapai 75 persen dari total instalasi terpasang.

Menurut Wilson, dalam sistem seperti ini tidak diperlukan penyimpan dalam bentuk baterai karena penggunaannya diinterkoneksi dengan jaringan listrik negara.

Listrik tenaga surya juga sangat dibutuhkan di daerah atau pulau terpencil yang sulit dijangkau oleh jaringan PLN. Saat ini masih sekitar 40 persen penduduk Indonesia belum terlayani jaringan listrik PLN.

”Indonesia sangat potensial untuk energi tenaga matahari karena memiliki intensitas rata-rata matahari yang tinggi, yakni mencapai 4,8 kW per meter persegi,” kata Wilson.

Menurut dia, pemerintah telah mengalokasikan penggunaan energi terbarukan sekitar 17 persen dari kebutuhan energi nasional sampai tahun 2025. Untuk listrik tenaga surya, kebutuhan nasional dalam skema tersebut akan mencapai lebih dari 800 MW sampai tahun 2025 atau mencapai lebih dari 40 MW per tahun.

Harga pembangkit listrik sel surya saat ini Rp 1.900-Rp 3.000 per kWh. Walaupun harga tersebut dihitung berdasarkan harga panel sel surya impor yang mencapai 4-5 dollar AS/W, sesungguhnya harga itu cukup ekonomis untuk penggunaan secara massal. Apalagi masa pakai sel surya yang sesuai garansi produsennya saat ini mencapai 20-25 tahun. (NAW/ZAL)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook