Alpen Steel | Renewable Energy

Gaya Hidup, Kulit Jagung, dan Hemat Energi

Minggu, 20 April 2008 | 09:48 WIB

MENGHAMBAT laju pemanasan global bukan berarti hidup menyiksa diri, atau mengorbankan gaya hidup. Tak harus demikian rupanya. Ternyata, hidup dengan tetap mengikuti tren, dengan keinginan memenuhi gaya hidup, sebaliknya, tidak harus tidak ramah lingkungan.

Demikian terpampang di panggung utama pada pergelaran Green Festival yang diselenggarakan lima perusahaan besar: Kompas, PT Unilever Indonesia Tbk, MetroTV, Radio Female, dan Pertamina, Jumat (18/4) malam.

Gadis bertubuh lampai berlenggak-lenggok di atas panggung. Tubuh lampai itu dibalut bekas tas plastik (tas keresek) dengan dominasi warna hitam. Baju itu karya Boyonz Ilyas. Unik dan karena itu menarik. Ada lagi.

Karya Fabio Renaldo, dengan guntingan sophisticated, tampak memukau. Bagian dada gaun mini sack dress ditutup bahan berkilau kehijauan. "Itu adalah PCB (printed circuit board) yang saya potong-potong sekitar 3 cm x 1,5 cm terus saya sambung-sambung," ujar Fabio.

Juga disajikan gaun dari bahan kulit jagung dengan aksen menggunakan kulit salak di bagian pinggul. Karya Monika Weber. Sementara Ika Mardiana, penggagas dan penggiat, serta koordinator Bali Fashion Week menciptakan dengan prinsip reuse bahan batik yang dijadikan ball gown.

Karya 16 desainer tersebut merupakan karya yang bermuatan pesan lingkungan seperti recycle (daur ulang) dan reuse (pemanfaatan ulang).

"Ini masih amat prematur untuk disebut sebagai eco-design. Ini sebagai pemicu kreativitas saja dulu," ujar Ika.

"Bisa jadi nantinya ada penemuan baru berawal dari kreativitas semacam ini," ujar Ika yang berulang-ulang memuji karya para desainer muda.

Yang pasti, ujar Ika, mulai sekarang harus dihindari segala tekstil dan benang dari bahan dasar poliester. "Sekarang harus pendekatannya pada sutra dan katun," katanya.

Lain lagi

Gaya hidup yang peduli pada upaya menghambat laju pemanasan global ditawarkan oleh "tiga sekawan", yaitu Antariksa S Puspanegara, Djonny Saksono, dan Rahmanto Tanzil. Ketiganya menawarkan lampu hemat dan lampu bertenaga surya. Dalam isu pemanasan global, penggunaan listrik secara berlebihan berarti emisi karbon tinggi.

Menurut mereka, ada dua cara untuk berhemat energi, yaitu dengan menggunakan lampu hemat energi atau dengan menggunakan sumber energi dari energi surya. Menggunakan lampu hemat energi lebih mudah dan aplikatif untuk rumah tangga. Produk yang mereka tawarkan itu menjadi bagian dalam Green Festival.

Lampu taman dengan daya 0,5 watt setara dengan 10 watt lampu biasa. Lampu itu menyala dengan energi dari sinar matahari. "Biasanya sekitar jam tujuh malam lampu-lampu dengan panel surya langsung menyala," ujar Antariksa.

Harga memang lebih mahal, tetapi dalam 3 bulan sudah bisa balik modal.

Kalau pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) mereka tawarkan kepada pemerintah daerah, itu karena masih terlalu mahal untuk perseorangan. Lampu jalan pun demikian. Hanya berdaya 40 watt lampu jalan itu setara dengan lampu jalan berdaya 250 watt.

Target mereka saat ini lebih pada daerah-daerah pedesaan yang belum memiliki listrik. Mereka memperkenalkan lampu dengan tenaga surya kepada pemerintah-pemerintah daerah. "Ternyata, tetap saja sulit untuk bisa diterima mereka, padahal tujuan kami adalah agar kota dan desa bersinar," ujar Rahmanto.

Di daerah-daerah terpencil yang tidak memiliki jaringan transmisi listrik, biasanya PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyediakan listrik untuk masyarakat dengan genset dan masyarakat membayar biaya operasional plus bahan bakar solarnya.

"Solar tidak ramah lingkungan dan mahal. Belum lagi transportasi membawa solarnya mahal dan tidak ramah lingkungan pula," tutur Rahmanto.

Djonny menambahkan, saat ini baru Pemerintah Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, dan wilayah Nias serta Nanggroe Aceh Darussalam yang menggunakan lampu jalan tenaga surya.

Nah, pilihan sudah ada di sana, tinggal di sektor mana dan bagaimana kita mau turut andil dalam penyelamatan bumi kita yang terancam oleh pemanasan global. Siapkah kita? (KOMPAS/ISW)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook