Alpen Steel | Renewable Energy

Nanosilikon Untuk Swaenergi

Kegagalan memproduksi sel surya di Indonesia, meski telah dilakukan
penelitian sejak 28 tahun silam, bukan jalan buntu. Fisikawan dari
Institut Teknologi Bandung, Wilson Walery Wenas (44), menerobos
kebuntuan itu dengan hasil penelitian sel surya generasi kedua yang
sudah dipatenkan untuk segera diproduksi di Indonesia.

Sel surya generasi kedua sering disebut teknologi nanosilikon,” tutur
Kepala Laboratorium Semikonduktor dan Listrik Tenaga Surya pada
Departemen Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut, Rabu (4/6).

Sel surya generasi pertama menggunakan silikon setebal 200 mikron
meter (µm), sedangkan sel surya generasi kedua dengan silikon 1 µm.
Ukuran ini sama dengan 0,000001 (sepersejuta) meter.

Nanosilikon memperkecil kapasitas silikon sebagai bahan semikonduktor
yang menghasilkan arus listrik dari photon atau energi cahaya
matahari. Pengecilan kapasitas silikon ini menekan jumlah silikon yang
dibutuhkan sehingga dapat menekan biaya produksi sel surya generasi
kedua. Wilson sudah membuktikan melalui penelitiannya. Titik terang?

Memang menjadi pertanyaan, bagaimana menjadikan silikon setebal 200 µm
menjadi 1 µm? Jawab Wilson, caranya dengan mengubah silikon sebagai
unsur padat (pada sel surya generasi pertama) menjadi unsur gas (pada
sel surya generasi kedua).

”Gas silikon dapat diperoleh di banyak lokasi pertambangan batu bara
di Indonesia. Jadi, bahannya sangat berlimpah,” kata Wilson yang
meraih gelar doktor dari Tokyo Institute of Technology, Jepang, pada
1994. Tahun 1992 dia meraih gelar S-2 di tempat yang sama setelah
tahun 1988 lulus dari ITB.

Menurut dia, kecilnya biaya produksi sel surya generasi kedua dengan
menurunkan komponen silikon sudah tahan uji.

Paten dari hasil penelitiannya mampu merangsang kegiatan
komersialisasinya. Wilson telah sukses menggandeng investor dari
Amerika Serikat untuk menciptakan pabrik sel surya generasi kedua di
Indonesia.

Akankah industri sel surya dalam negeri menuju titik terang?

Menurut Wilson, harga sel surya generasi kedua mencapai 1 dollar AS
per watt, sedangkan sel surya generasi pertama kini masih bertengger
dengan harga 4-5 dollar AS per watt.

Berdasarkan penghitungan suplai energinya, bisa mencapai harga Rp 400
per kilowattjam. Ini cukup kompetitif jika dibandingkan dengan harga
listrik PLN yang sekarang masih sekitar Rp 650 per kilowattjam.

Listrik dari sel surya generasi kedua ini menjadi kandidat listrik
dengan harga termurah saat ini. Di dunia, penelitian sel surya
generasi pertama diawali pada tahun 1970-an, sedangkan generasi kedua
pada 1990-an. Pada tahun itu pula, saat gagasan sel surya generasi
kedua terlahir, Wilson mulai mencecap ilmunya di Jepang.

”Hasilnya sekarang sudah diuji coba penggunaan produktivitas sel surya
generasi kedua dibandingkan dengan generasi pertama di ITB. Kapasitas
listrik generasi kedua hasil penelitian saya lebih tinggi 15 persen,”
kata Wilson.

Efektivitas pengubahan partikel cahaya matahari menjadi listrik pada
sel surya generasi kedua 7-9 persen. Menurut Wilson, itu memang di
bawah sel surya generasi pertama, 12-14 persen. Tetapi, dengan
ditunjang perbandingan kapasitas silikon 1:200, sel surya generasi
kedua tetap lebih unggul.

Apalagi harga 1 dollar AS per watt pada sel surya generasi kedua,
ungkap Wilson, juga akan lebih kompetitif jika dibandingkan dengan
harga 4-5 dollar AS per watt pada generasi pertama. Tunggu saja
realisasi produksinya....

”Dalam waktu satu sampai dua bulan ini akan dicapai kesepakatan joint
venture antara investor AS dan investor dalam negeri. Investor AS itu
maunya harus ada investasi dari pengusaha dalam negeri juga,” kata Wilson.

Rendahnya daya beli

Setelah masalah dana teratasi, konstruksi pabrik akan dimulai. Menurut
Wilson, pengerjaan konstruksi pabrik dengan kapasitas produksi 10
megawatt (Mw) per tahun hanya memakan waktu sembilan bulan. Investasi
awal Rp 300 miliar.

”Untuk pemasaran hasil produksi, memang sekarang menghadapi tantangan,
yaitu rendahnya daya beli masyarakat. Tetapi, kalau memang daya beli
masyarakat tetap tidak menjangkau, sel surya generasi kedua ini akan
diekspor,” kata Wilson.

Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengatakan,
rencana pembuatan industri sel surya generasi kedua sudah disampaikan
kepadanya. Pemerintah menyambut positif atas rencana tersebut.
”Akhirnya intuisi investor sampai pula untuk memproduksi sel surya,”
kata Kusmayanto.

Menurut dia, pemerintah tidak perlu menyampaikan jaminan pasar untuk
pengembangan industri sel surya. Begitu pula industri lainnya. Tetapi,
intuisi investor itu sendiri yang akan menentukan produk industrinya
akan diterima pasar atau tidak.

Wilson bukan dengan sembunyi-sembunyi, tetapi dengan ketekunan
meneliti, akhirnya menyediakan jalan bagi produksi sel surya dalam
negeri. Tidak tanggung-tanggung, ketekunannya itu menjadi sebuah
lompatan menyongsong era teknologi nanosilikon untuk sel surya meski
masih jauh dari harapan untuk menggapai swaenergi.

Menurut Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi pada
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Arya Rezavidi, pada
2025 kebijakan pemenuhan bauran energi dari sel surya ditetapkan
pemerintah sebesar 800 MW. Tahun ini sel surya baru terpasang 10 MW.

Dalam 17 tahun ke depan, pemenuhan sel surya harus mencapai 790
MW�"setiap tahun dibutuhkan pemenuhan 46 MW dari sel surya. Pabrik sel
surya Wilson, jika jadi berdiri, berproduksi 10 MW per tahun.

Kiprah pemerintah sekarang tetap dinanti untuk mewujudkan swaenergi
melalui produk dalam negeri....
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook