Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pesan Energi Pengganti Minyak

Pesan Original
Warga Kelurahan Kameloh Baru, Kecamatan Sabangau, Kota Palangkaraya, 
Kalimantan Tengah,
merupakan sebagian kecil warga yang tidak terlalu pusing ketika minyak tanah
sering kali sulit
didapat. Bantuan gratis pembangkit listrik tenaga surya dari pemerintah
tahun 2007 telah
mengubah segalanya. Penduduk kini tidak perlu lagi menggunakan penerangan
berbahan
bakar minyak tanah.

Pada Selasa (6/5) sekitar pukul 19.00, kerumunan warga Kameloh Baru masih
terlihat di
warung Wahidin dan Apri yang menjajakan penganan, rokok, dan minuman. Warung
yang
diterangi nyala lampu neon bertenaga surya tersebut berada dekat muara jalan
desa yang
bersimpangan dengan trans-Kalimantan penghubung Palangkaraya dengan Kota
Banjarmasin,
Kalimantan Selatan. Penuturan beberapa warga, sebelum ada pembagian
pembangkit listrik tenaga
surya (PLTS), suasana desa yang berada di perbatasan Palangkaraya dengan
Kabupaten Pulang
Pisau itu sudah sepi menjelang magrib. Apalagi, desa yang berjarak sekitar
30 kilometer dari pusat
Kota Palangkaraya itu belum terjangkau layanan PLN.

Setahun terakhir, yakni ketika PLTS sudah dipasang di atap rumah warga,
hingga pukul 22.00
pun kadang warung masih buka. Sebelum ada PLTS, lampu teplok berbahan bakar
minyak tanah
menjadi andalan warga. Lampu teplok hanya dipasang di dalam rumah sebab
harga minyak tanah
sangat mahal, mencapai Rp 4.000 per liter. Tak heran bila di tengah
wawancara, Ujik Amir, warga
Desa Kameloh Baru, berkali-kali mengungkapkan syukurnya atas pembagian PLTS
gratis bagi
146 KK di desanya, seolah ingin meyakinkan bahwa PLTS benar-benar sangat
meringankan beban warga.
Betapa tidak? Sebelum ada PLTS, kata Ujik, warga harus membeli minyak 5-7
liter tiap bulan hanya
untuk menyalakan lampu teplok dan kadang kala petromaks. Petromaks hanya
dipakai bila ada
hajatan atau pertemuan warga sebab dalam semalam lampu dengan cahaya putih
terang itu bisa
menghabiskan seliter minyak tanah. Setelah ada PLTS, warga Kameloh Baru yang
hampir seluruhnya
memasak menggunakan kayu ini tidak terlalu menggantungkan minyak tanah.
Persediaan 2 liter minyak
tanah pun sudah berlebih untuk satu bulan sebab hanya dipakai untuk
memudahkan api menyala saat
pertama membakar kayu.

"Memakai lampu neon tenaga surya juga enak. Ada angin kencang dan hujan
deras pun nyala lampu
tetap saja terang, tidak berkelip-kelip, " kata Mahuliah, istri Ujik. Tak
heran bila pada Selasa malam itu
anak-anak Ujik tampak asyik bercengkerama di ruang depan dengan beberapa
buku pelajaran terserak
di lantai. Cahaya lampu TL yang terang itu kiranya menyamankan anak-anak
untuk belajar.

Sangat terbantu

Bila siang matahari bersinar terik, instalasi PLTS yang dipasang di atap
rumah warga Kameloh Baru
itu mampu menyalakan tiga lampu neon 10 watt, sejak petang hari hingga pagi
hari.
Namun, bila siang harinya matahari tertutup mendung, kata Ujik, hanya satu
lampu yang bisa
dinyalakan semalaman. Kalau dipaksakan tiga lampu tetap menyala, selepas
tengah malam energi
listrik PLTS itu akan habis. Meski daya PLTS itu relatif minim, yakni hanya
50 watt, sehingga belum
mampu dimanfaatkan untuk menyalakan televisi, warga merasa terbantu karena
terkurangi biaya
pembelian minyak tanah.

Kepala Subdinas Minyak, Listrik, dan Energi Dinas Pertambangan dan Energi
Provinsi Kalimantan
Tengah (Kalteng) Tomas Sembiring menuturkan, dengan adanya PLTS, tiap
keluarga mampu
menghemat 4 liter minyak tanah per bulan.

Pada tahun 2007, pemerintah memberikan 2.018 unit PLTS kepada 2.018 rumah
tangga di sejumlah
kota dan kabupaten di Kalteng. Kalau dihitung secara rata-rata, minyak tanah
yang bisa dihemat oleh
warga yang mendapatkan PLTS pada tahun 2007 mencapai 8.000-an liter per
bulan atau setara sekitar
96.000 liter minyak tanah dalam satu tahun. Ini jumlah yang tidak sedikit,
terlebih ketika saat ini
gonjang-ganjing kenaikan harga minyak membayang di depan mata.

Kincir air

Lain lagi yang terjadi di sepanjang selokan di Jalan Durian Tarung,
Kelurahan Pasar Ambacang, Kota
Padang. Irama merdu terdengar dari kayu beradu kayu. Irama teratur itu
berasal dari pertemuan alu dan
lesung penggilingan padi yang digerakkan kincir air. Kincir air berdiameter
1 meter tersebut sudah
beroperasi secara tradisional selama puluhan tahun.
Nyaris tidak ada biaya yang dikeluarkan oleh pemilik penggilingan karena
kincir digerakkan aliran
air dari selokan. Kalau aliran air dari bendungan Gunung Nago sedang deras,
seorang pemilik kincir
bisa menyelesaikan penghalusan beras sebanyak 10 karung, yang masing-masing
berisi 50 kilogram.
Untuk tiap karung beras yang telah ditumbuk, pemilik kincir mendapatkan upah
dari pemilik beras
Rp 24.000. Upah ini dibagi dua antara pemilik kincir dan pekerja yang
menjalankan penumbukan beras.

Bila air selokan sedang susut, perputaran kincir menjadi lambat yang
menyebabkan proses penumbukan
lambat. Dalam sehari, seorang penumbuk hanya bisa menyelesaikan enam sampai
delapan karung beras.
Namun, itu pun sudah lumayan karena pemilik penggilingan padi tidak perlu
pusing dengan kenaikan
harga minyak. Kincir berjalan, rezeki pun berputar. (Anto Saptowalyono dan
Agnes Rita S)
From: St. Herwinoto 
To: Forum-Pembaca-Kompas
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Siang Malam Desa Itu "Disinari" Surya
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook