Alpen Steel | Renewable Energy

Dengan Surya Mengatur Jalan

BEGITU tombol dipencet, kain yang menutupi konstruksi panel surya seharusnya melorot. Tapi, meski ditekan berulang-ulang, kain berwarna hijau itu tetap ngeyel. Herry Zudianto, Wali Kota Yogyakarta yang memencet tombol, cuma bisa mesam-mesem. Adegan pada peresmian penggunaan lampu lalu lintas bersumber energi surya di Balai Kota Yogyakarta, Jumat dua pekan lalu, itu tak pelak mengundang tawa.

Beberapa saat ditunggu, kain bandel itu baru jatuh. "Lha... saiki malah tibo dewe (sekarang malah jatuh sendiri)," gurau seorang pejabat pemerintah kota. Acara pun bergulir mulus. Lampu lalu lintas (traffic light) dengan energi matahari resmi beroperasi. Untunglah ia tak macet seperti kain yang menyelubunginya. "Lampu berenergi surya ini merupakan terobosan atas upaya mencari energi alternatif," kata Herry.

Meski baru dipakai satu, pada traffic light di dekat balai kota, Herry optimistis energi surya dapat diterapkan di seluruh kota Yogyakarta. Sejak 2001, Pemerintah Kota Yogyakarta melakukan penghematan energi listrik, mulai pemasangan kWh meter pada penerangan jalan hingga memakai lampu hemat energi. Namun beban rekening tak sebanding dengan berbagai upaya itu, lantaran tarif listrik melonjak saban tahun. Belum lagi persoalan byar-pet yang sering membuat kacau perempatan jalan.

Maka, dicarilah alternatif lain. Pemerintah kota menggandeng Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (PSE-UGM) untuk menjalankan proyek ini. Langkah pertama, mencari sumber listrik untuk lampu lalu lintas. Pilihan jatuh pada energi surya. Alasannya sederhana. "Matahari adalah sumber energi yang tak akan pernah habis," kata Sudiartono, 53 tahun, Wakil Kepala PSE-UGM. Alasan lain, mereka sudah lama bergaul dengan matahari.

Sudiartono, kordinator proyek ini, bergelut dengan energi surya sejak 1987. Lulusan S-2 dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Geofisika UGM, itu telah memakai sinar matahari mulai dari anak Gunung Krakatau hingga Waduk Kedungombo (lihat: Listrik dari Parit). PSE juga sudah membuat lampu penerangan jalan di muka kantornya dengan menyedot energi surya. "Jadi, tak sulit menerapkannya ke sistem traffic light," kata Sudiartono.

Desember lalu, proyek ini dimulai. PSE mendatangkan 14 panel surya dari Jerman senilai Rp 42 juta. Masing-masing panel berukuran 90 x 60 sentimeter dengan kekuatan 50 Wp (wattpeak). Panel surya ini dipasang di halaman Balai Kota Pemerintah Kota Yogyakarta untuk memberi energi lampu lalu lintas pada perempatan jalan di ujung selatan Jalan Timoho.

Panel surya dipasang mendatar pada struktur tiang besi setinggi 6 meter. Dengan sistem photo voltaic, panel-panel ini menangkap sinar matahari dan mengubahnya menjadi listrik. Arus setrum kemudian disimpan di tujuh unit aki 100 ampere hours (AH) yang bertegangan 12 volt. Setiap aki memperoleh pasokan setrum dari dua panel surya. Sebelum sampai di aki, arus listrik diarahkan lebih dulu ke sebuah pengontrol (hybrid controller). Alat ini berfungsi otomatis memindahkan sumber energi ke jaringan listrik PLN bila setrum dari aki tekor.

Dari pengontrol listrik, jaringan setrum langsung masuk ke pengontrol lampu lalu lintas (traffic light controller). Agar setrum dari sang surya irit, PSE mengganti lampu pijar 100 watt pada lampu pengatur lalu lintas dengan lampu LED (light emitting diode) 8 watt. Seluruh rangkaian ini mampu menyalakan lampu lampu LED traffic light yang hanya perlu arus 4 ampere.

Rangkaian lampu lalu lintas energi surya itu, menurut Sudiartono, mampu menghasilkan daya listrik 1.500 watt setiap hari dengan penyinaran 4-6 jam. Padahal, untuk menyalakan traffic light hanya butuh 860 watt. Sisa setrum ditabung di baterai sehingga bila tak ada pasokan listrik dari panel surya, lampu lalu lintas tetap bisa menyala selama satu minggu.

Setelah dicoba, listrik yang tersimpan di aki tak pernah tekor. Karena itu, pada 16 Januari 2005, PSE mencabut penghubung otomatis listrik dengan PLN. "Jadi, traffic light ini murni bertenaga matahari," kata Sudiartono. Sejauh ini, tak ada masalah. Pernah satu kali lampu lalu lintas padam karena tim PSE alpa memasang kabel ground. Meski mampu memberi daya 1.500 watt per hari, pembangkit listrik ini tak ekonomis bila diterapkan di rumah tangga, lantaran peralatan elektronik rumah tangga terlalu rakus melahap setrum.

Menurut Sudiartono, penggunaan energi surya pada lampu lalu lintas saat ini hampir sama dengan biaya listrik yang dikeluarkan pemerintah kota. Masalahnya, harga panel surya terlalu mahal lantaran belum bisa diproduksi di dalam negeri. Untuk satu lampu lalu lintas, beban listrik per bulan sebesar Rp 500.000-an. Sementara biaya pembangunan traffic light surya besarnya Rp 65 juta. Bila dibagi masa pakai 10 tahun, beban bulanan lampu lalu lintas surya tak jauh beda dengan traffic light PLN.

Namun, bila tarif listrik menanjak terus, lampu lalu lintas surya akan jadi ekonomis. Keuntungan lain, ongkos perawatan traffic light surya sangat kecil. "Cuma mengecek dan mengisi air aki," kata Sudiartono. Dari proyek ini, pemerintah kota berancang-ancang menerapkannya pada seluruh traffic light dan lampu penerangan jalan umum di Yogyakarta.

Sigit Indra dan Sawariyanto
[Ilmu dan Teknologi, Gatra Nomor 16 Beredar Senin, 27 Februari 2006]
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook