ENERGI SURYA POTENSIAL JADI ENERGI TERBARUKAN DI INDONESIA

Oleh : Dinas Komunikasi dan Informatika Prop. Jatim   
Jumat, 13 Februari 2009
Energi surya ternyata potensial dikembangkan menjadi energi terbarukan di Indonesia. Beberapa contoh yang berpotensi dikembangkan selain energi surya, seperti energi angin, dan geothermal. Saat ini Indonesia memiliki pendukung sumber daya energi tersebut. Indonesia terletak di khatulistiwa, sehingga siklus pancaran sinar matahari lebih baik dibanding negara di bagian utara atau selatan.


Direktur Balai Besar Teknologi Energi BPPT, Dr M Amirullah Makmunsyah mengatakan bahwa pola dan konsepsi pengembangan sumber energi terbarukan ada ditangan banyak pihak. “Salah satu yang paling sentral adalah insinyur yang inovatif, scientist studies what is and engineer creates what never was,” ujarnya saat Seminar Bahari Nasional di ITS Surabaya, Kamis (12/2).
Menurutnya, saat ini bangsa Indonesia membutuhkan inovator-inovator atau bahkan inventor-inventor yang andal. Sebab masih banyak sekali potensi energi yang dimiliki bangsa ini yang luput dari pemanfaatan. “Padahal kebutuhan kita akan energi sangatlah banyak. Belum lagi beberapa daerah terpencil yang tidak bisa mengakses energi,” paparnya.
Ia mencontohkan bahwa teknologi PLTU sudah ada sejak tahun 1940-an, tapi Indonesia belum bisa memaksimalkan penggunaannya. Sedangkan proses untuk membuat sebuah energi baru menggantikan energi unrenewable (tidak terbarukan, red) tidaklah mudah.
Ia menyebutkan beberapa tahapan yang harus dilakukan sebelum energi baru itu bisa digunakan. Beberapa di antaranya adalah ketersediaan bahan baku, aksesibilitas, kemampuan masyarakat untuk membelinya, dan tingkat efisiensi yang tinggi. Hal itu masih harus melewati kebijakan-kebijakan pada daerah tersebut. “Jadi, butuh usaha untuk saling meyakinkan semua pihak, sehingga energi baru itu bisa diaplikasikan,” tambahnya.
Dalam konteks pengembangan energi terbarukan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia harus diklasifikasikan dalam beberapa karakteristik. Beberapa di antaranya adalah keterpencilan, luas daerah, kondisi alam, keterbatasan akses, SDM, produktivitas dan layanan publik yang tersedia. “Oleh karena itu, sekarang sedang digalakkan program Desa Mandiri Energi (DME),” jelasnya.
Program ini, lanjutnya, akan berusaha memecahkan permasalahan sistem distribusi energi di daerah-daerah terpencil tersebut. Lalu menciptakan energi-energi baru yang bersifat lokal. Ia mengambil contoh distribusi listrik pada pulau-pulau kecil di sekitar Madura. Kebanyakan hanya berharap dari pasokan generator. “Seandainya distribusi solar tidak lancar maka pasokan energi akan putus. Tentu hal itu sangat berpengaruh pada aktivitas yang lain di pulau itu,” ungkapnya.
Ia menyebutkan beberapa contoh yang berpotensi dikembangkan di wilayah tersebut seperti energi surya, angin, dan geothermal. Seperti diketahui, Indonesia memiliki pendukung sumber daya energi tersebut. Indonesia terletak di khatulistiwa, sehingga siklus pancaran sinar matahari lebih baik dibanding negara di bagian utara atau selatan. “Tapi Indonesia masih kalah dengan Jerman, padahal energi surya di Indonesia lebih banyak,” sambungnya.
Ia menambahkan, energi geothermal seharusnya bisa menjadi harapan utama negara untuk menggantikan energi fosil. Ini jelas karena Indonesia merupakan penghasil terbesar panas bumi. Bahkan Indonesia sudah tertinggal dari Filipina dan Selandia baru. “Sekarang mereka sudah bertumpu pada energi panas bumi bukan lagi fosil,” tuturnya. *(sti)


Baca Juga:
Artikel sebelumnya:

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum