Alpen Steel | Renewable Energy

Pemerintah Belum Optimalkan Energi Surya

Jumat, 25 April 2008 | 21:02 WIB

BANDUNG, JUMAT -Tingginya harga minyak dunia yang telah melampai 100 dolar AS semakin menegaskan perlunya terobosan energi alternatif yang ramah lingkungan dan murah. Salah satu teknologi energi alternatif yang telah dikembangkan di Indonesia sejak tahun 1997 adalah pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS . Namun, peluang ini masih terkendala dengan rendahnya dukungan pemerintah untuk menggalakkan pemanfaatan produk dalam negeri.

Demikian diungkapkan Direktur Utama PT LEN Industri Wahyuddin Bagenda, Jumat (25/4) di Bandung. "Kami sebenarnya sudah lama mengembangkan teknologi ini tetapi permodalan dan pasar masih menjadi kendala utama. Kalau pemerintah serius mengoptimalkan PT LEN Industri sebagai sebuah badan usaha milik pemerintah, pasti kekhawatiran kita dalam bidang energi dapat dihindari, " kata Wahyuddin.

Menurut Wahyuddin, dalam APBN 2008, wacana pemanfaatan energi terbarukan selalu didengungkan. Bahkan, dana pembelanjaan energi pemerintah terbukti menyedot anggaran pemerintah yang tidak sedikit. "Kebutuhan energi pemerintah naik dari tiga mega watt menjadi lima mega watt, dan akhirnya bertambah lagi hingga tujuh mega watt, " ujarnya.

Seiring naiknya volume pembelanjaan energi pemerintah, tahun 2008 ini, PT LEN Industri menaikkan kapasitas produksi dari 1,2 mega watt per tahun menjadi 3 mega watt per tahun. Selain menaikkan kebutuhan elektrifikasi pemerintah, PT LEN Industri juga mengembangkan teknologi PLTS untuk kebutuhan rumah tangga yang disebut Solar Home System.

Kepala Bisnis Energi PT LEN Industri Nani Wardani mengatakan, dengan lama penyerapan sinar matahari empat hingga lima jam, Solar Home System mampu menghasilkan energi berkekuatan 200 watt hingga 250 watt selama 10 hingga 12 jam. "Sampai sekarang, kita telah memproduksi 120.000 unit. Masing-masing unit Solar Home System sekitar Rp 5 juta, " ucapnya.  

PT LEN Industri saat ini juga mengembangkan PLTS khusus untuk industri dengan kapasitask 80 kilo watt yang merupakan pilot project. Pengembangan PLTS khusus industri ini dijadwalkan selesai pada Agustus mendatang. "Saat ini banyak industri terbebani dengan pengeluaran energi yang begitu besar. Dengan teknologi ini, industri mana pun dapat berjalan hanya dengan memanfaatkan alam saja, " kata Nani.

Nani mengakui, dari semua komponen alat PLTS, saat ini Indonesia masih tergantung pada impor, khususnya perangkat sel surya. Namun, kendala ini akan segera berlalu karena PT LEN menganggarkan sekitar Rp 50 miliar untuk pengembangan produksi sel.

Wahyuddin menambahkan, dengan keseriusan dukungan pemerintah dan masyarakat, pengalaman buruk ketergantungan Indonesia pada industri luar negeri, seperti telekomunikasi dan kendaraan bermotor tidak lagi terulang.

"Kebutuhan energi sangatlah strategis dan penting. Jangan sampai kebijakan pemerintah justru menguntungkan pihak asing dan menimbulkan ketergantungan bangsa Indonesia pada produk asing, " tambahnya.(A01) 

www.Kompas.com

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook