Alpen Steel | Renewable Energy

~ Energi Terbarukan Dari Angin dI India

India 2009: Wajib 5% Listrik dari Energi Terbarukan

Wind Farm di Dhule, India 

Wind Farms di Dhule, India. Courtesy

Pemerintah India, belum lama memberlakukan kebijakan baru penggunaan energi terbarukan untuk pembangkit listrik. Sebagai bagian dari program aksi nasional  tentang perubahan iklim, Pemerintah mewajibkan perusahaan listrik untuk menggunakan sumber energi terbarukan sebesar 5% dari total listrik yang dibangkitkannya. Kewajiban ini dimulai tahun 2009 dan ditargetkan akan tercapai pada akhir 2010. Selanjutnya porsi minimal sumber energi terbarukan terus ditingkatkan sebesar 1% setiap tahunnya untuk sepuluh tahun ke depan.

Kebijakan ini merupakan salah satu upaya Pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan dan mengkampanyekan energi bersih dalam rangka menurunkan emisi karbon yang dihasilkan. Negara bagian Maharashtra telah mencapai 4%, sedangkan Karnataka and Tamil Nadu, negara bagian di sebelah selatan India,telah melampui target dengan pencapaian 10%. Hal ini tercapai berkat kemampuan kedua negara bagian tersebut memaksimalkan pemanfaatan potensi energi angin di wilayahnya. Negara bagian Karnataka lebih jauh menargetkanpembangkitan listri dari energi terbarukan sejumlah 5,450 MW pada tahun 2012 dan 11.700 MW pada tahun 2018.

Walaupun India tidak bisa lepas dari krisis finansial global, namun sektor energi terbarukan di India tetap memiliki prospek yang cerah. Sebuah studi yang dilakukan oleh HSBC memperkirakan sekitar $150 milyar atau sekitar 1.612,9 triliun rupiah peluang investasi di sektor ini dalam sepuluh tahun ke depan. Didukung kebijakan nyata yang fokus pada energi terbarukan, dalam jangka panjang diperkirakan investasiakan terus meningkat.

Diantara jenis sumber energi terbarukan di India, pemanfaayan energi angin mencapai 70% dari total kapasitas energi terbarukan. Industri teknologi energi angin di India juga berhasil menjadi yang terdepan dalam kancah persaingan di Asia dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satu perusahaan yang menjadi pemain utama saat ini adalah NTPC, dari kelompok konglomerat Tata. Tata Power and Reliance Power adalah sebuah perusahaan swasta publik yang bergerak dibidang pembangkitan listrik energi angin.

Pemain utama lainnya adalah Suzlon Energy. Perusahaan ini berhasil menurunkan biaya pembangkitan secara signifikan dalam waktu singkat. Pada tahun 2006, biaya pembangkitan listrik Suzlon dari energi angin mencapai Rs. 5 atau 1.042 rupiah per Kwh. Namun pada tahun 2008 biaya pembangkitan berhasil dipangkas menjadi hanya Rs 3.5 atau 730 rupiah per Kwh.

Bagaimanapun, pembangkit listrik tenaga bayu di India masih mengalami kendala masalah faktor kapasitas utilisasi (capacity utilisation factor/cuf) yang rendah yaitu sekitar 15%. Angka ini bisa dikatakan sangat rendah dibandingkan rata-rata internasional sebesar 25-30%.

Cuf yang rendah ini menjadi perhatian utama industri teknologi energi angin di India. Jika  nilai cuf bisa ditingkatkan, maka biya pembangkitan per kWh energi angin akan dapat lebih ditekan lagi dan ini berarti dapat bersaing dengan sumber energi konvensional seperti BBM atau batubara.

Pembangkit listrik tenaga air skala kecil dan biomass (termasuk pembangkit co-generation berbahan bakar bagasse) memberikan kontribusi kedua dan ketiga setelah angin. Kedua jenis energi terbarukan ini menghadapi kendala infrastruktur jaringan dan perijinan di tingkat daerah yang menyebabkan potensi yang ada tidak dapat termanfaatkan dengan maksimal.

Tetapi, diperkirakan di masa yang akan datang, energi matahari akan memberikan kontribusi yang utama. Pasar energi matahari di India mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Rata-rata pertumbuhan kumulatif diperkirakan bisa mencapai 40%. Opsi teknologi yang akan berkembang adalah pembangkit listrik tenaga matahari sistem terpusat.

Walaupun saat ini hanya sekitar 2 MW kapasitas pembangkit listrik tenaga matahari yang terkoneksi dengan jaringan, Rencana Aksi Nasional untuk Perubahan Iklim (National Action Plan for Climate Change/NAPCC) menargetkan kapasitas sampai 1,000 MW per tahun untuk grid-connected pembangkit solar thermal pada tahun 2017 dan angka yang sama untuk produksi solar photo voltaic (SPV) per tahunnya.

Kebijakan terintegrasi di bidang energi matahari yamenargetkan 10 juta meter persegi panel surya terpasang pada tahun 2022, atau setara dengan pembangkitan listrik sebesar 500 MW. Bahkan jauh sebelumnya pada tahun 2005 negara bagian West Bengal telah menerapkan kewajiban penggunaan energi matahari untuk bangunan gedung bertingkat.

Tak ayal, kebijakan-kebijakan tersebut memberikan efek optimisme bagi para investor energi matahari. Negara bagian West Bengal, Rajasthan dan Haryana telah mencapai kesepakatan dengan kontraktor nasional dan internasional untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga matahari yang terkoneksi jaringan.

Kementerian energi baru terbarukan India sedang melakukan kajian kelayakan untuk menerapkan sertifikasi bagi energi terbarukan. Sebagaimana mekanisme CER dalam perdagangan karbon, India mengadopsi mekanisme sejenis untuk energi terbarukan. Satu sertifikat senilai dengan 1 MW pembangkitan energi terbarukan. Sertifikat tersebut dapat diperdagangkan untuk memenuhi target 5% pemenuhan pembangkitan listri dari energi terbarukan.

Kebijakan lainnya dikeluarkan oleh Komisi Pusat Pengatur Listrik (Central Electricity Regulatory Commission/CERC) menyangkut promosi dan sosialisasi hemat energi serta program demand side management programme (DSM) pada tahun 2009-10. Beberapa instrumen fiskal dan mekanisme sedang disiapkan untuk mendukung program ini.

CERC mewajibkan setiap perusahaan distribusi listrik untuk mengajukan rencana aksi program DSM-nya masing-masing yang akan meliputi perbedaan tarif terhadap waktu pemakaian, diskon dan insentif lainnya. Mereka juga diwajibkan melakukan perbaikan pada instalasi pembangkit yang telah tua dan memiliki efisiensi rendah serta menghasilkan polusi yang tinggi.

India telah banyak meraih prestasi dalam pengembangan energi terbarukan. Seperti yang disampaikan oleh Dr. Arcot Ramachandran, chairperson dari Green Energy Summit 2009 di situs prlog.org, India memiliki program energi matahari terdesentralisasi terbesar di dunia, peringkat kedua dalam global renewable energy “Attractiveness Index” terbaru yang dikeluarkan oleh Ernst&Young, mengoperasikan program biogas terbesar kedua di dunia, peringkat empat negara super power di bidang energi angin,dan urutan kelima terbesar dalam pembangkitan listrik tenaga air.

Prestasi ini tentunya tidak dinikmati secara instan. Sebuah proses panjang telah dilalui dengan mengambil pelajaran atas keberhasilan dan kegagalan yang dicapai baik oleh India sendiri maupun negara lain. Menjadi negara pembelajar (learning country) adalah sebuah keharusan bagi negara manapun jika ingin maju. Anda setuju? AR/Time/Telegraph

Diupload Oleh Awang Riyadi    

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook