Alpen Steel | Renewable Energy

~ Denmark Sebagai Negara Pengguna Energi yang Efisien

Denmark: Sebuah Cerita Sukses Menunggangi Krisis Energi
energy building

Berbicara mengenai pengelolaan energi, Denmark menjadi salah satu kiblat penting dunia. Negara yang awalnya sangat tergantung dari impor minyak bumi ini, kini bersama Jepang menjadi negara yang paling efisien dalam penggunaan energi. Bagaimana bisa demikian? Krisis energi tahun 70-an menjadi pemicu utama transformasi manajemen energi di Denmark. Penasaran? Mari simak tulisan Brigitta Isworo Laksmi (berikut.

Krisis yang Mendorong Kelahiran Kembali

Oleh BRIGITTA ISWORO LAKSMI

Di mana ada masalah, di sana terdapat peluang. Kalimat sakti di dunia kewirausahaan ini tidak hanya menjadi slogan kosong bagi Denmark. Negeri dongeng tersebut kini menjadi salah satu negara terdepan dalam urusan merebut peluang yang ditawarkan oleh problem masif lingkungan, yaitu perubahan iklim.

Sejarah panjang telah dijalani Denmark sebelum mereka sampai pada posisi sekarang: menjadi negara sejahtera dengan penduduk yang menurut survei tahun 2008 adalah penduduk paling bahagia di dunia.

Semua berawal dari krisis global pertama minyak bumi sekitar tahun 1973-1974 yang kemudian membuat Denmark sadar bahwa negerinya akan bangkrut jika terus bergantung pada impor minyak bumi. ”Ketika itu bukan perkara lingkungan yang mendorong kami untuk hemat energi. Perhitungannya lebih pada ekonomi,” ujar staf ahli menteri pada Kementerian Luar Negeri Denmark Claus Hermansen di hadapan sejumlah wartawan dari Indonesia dan Rusia, Juni lalu di Kopenhagen, Denmark.

Apa yang menyebabkan Denmark kemudian berubah menjadi sebuah negara yang bisa disebut ”Modern Energy”? Semuanya bermula pada Oktober 1973 yang penuh gejolak. Di kawasan Timur Tengah—ladang minyak tempat bergantungnya banyak negara—sedang berkecamuk perang antara negara-negara Arab melawan Israel yang sering juga disebut sebagai Perang Yom Kippur. Denmark pada masa itu bersama Jepang merupakan negara yang lebih dari 90 persen sumber energinya bergantung pada impor minyak.

Chaos masalah energi berawal dari pecahnya perang Timur Tengah pada 6 Oktober 1973. Krisis minyak global pertama terjadi karena negara-negara Arab menggunakan minyak sebagai senjata untuk menekan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat yang berpihak kepada Israel. Pada awal November, negara-negara Arab mengurangi produksi minyaknya hingga 25 persen. Denmark bersama Jepang pun kelimpungan.

Dua masalah mengimpit Denmark. Pertama, harga minyak bumi terus meroket karena berkurangnya suplai secara amat signifikan dan kedua secara geostrategi pun masa depan minyak menjadi semakin tidak jelas. Denmark pun panik.

Pemerintahan Demokrat Sosial di bawah Anker Jørgensen yang ketika itu berkuasa lantas memutuskan memberlakukan peraturan pada November itu: hari Minggu tanpa mobil. Bukan hanya itu. Pemerintah juga memerintahkan semua toko mematikan lampu luar ketika mereka buka demi menghemat energi. Meski harga minyak kemudian turun, Denmark maju terus dengan kebijakan barunya.

Bel peringatan

Jens Kampmann, yang pada 1971 menjabat sebagai menteri lingkungan yang pertama—yang pada pemerintahan Demokrat Sosial 1977-1978 menjabat sebagai menteri yang bertanggung jawab atas pajak dan cukai—yakin bahwa peristiwa itu harus dipandang sebagai dering bel peringatan. Peristiwa tersebut menjadi pembuka jalan bagi pendekatan baru pembangunan Denmark. Mereka tak ingin terperosok kedua kalinya di lubang yang sama.

Seperti dikutip oleh Hermansen, Kampmann mengatakan, ”Denmark (ketika itu) menghubungkan masalah energi dan lingkungan awal tahun 1970-an, jauh sebelum banyak negara lain memikirkan itu. Ekonomi diartikan sama dengan menekan konsumsi energi. Ini menghasilkan ’win-win scenario’ untuk Denmark.” Hasilnya, kini Denmark adalah negara dengan efisiensi energi tertinggi per pendapatan negara.

”Pasar tak dapat menghadapi ini sendirian. Sungguh penting ada beragam insentif dan peraturan yang ditetapkan pemerintah,” ujar Kampmann, seperti tertulis di majalah Monday Morning edisi November 2008.

Negara semakin fokus pada persoalan energi. Ketika dunia belum berbicara energi angin, Tvind School sudah membuat turbin angin. Cara menghubungkan energi dengan ekonomi itulah titik sukses awal Denmark, seperti dikatakan Direktur Eksekutif dari Lembaga Penelitian Denmark Mette Wier.

Pemerintah yang mendengarkan

Momen perubahan terjadi pada 1976. Badan Energi Denmark didirikan dan untuk pertama kali ada rancangan energi terpadu. Agenda utamanya adalah mengurangi ketergantungan pada minyak dan mengurangi konsumsi energi. Orang mulai memasang insulasi untuk mengurangi kebutuhan pemanas rumah.

Dibangunlah pembangkit tenaga listrik terpadu combined heat and power (CHP) untuk pertama kalinya. Sistem ini merupakan sistem paling efisien dibandingkan sistem yang diterapkan banyak negara.

”Biasanya air panas hasil proses pendinginan mesin pada pembangkit listrik dibuang percuma, dalam sistem ini air tersebut diambil panasnya sebagai pemanas bangunan,” ujar Hermansen. Tahun 2005 Denmark telah memiliki 694 pembangkit kombinasi CHP dengan berbagai ukuran kapasitas. Selain CHP pusat, sejumlah CHP regional dan lokal dibangun untuk meningkatkan efisiensi yaitu agar panas tidak hilang akibat jarak suplai yang jauh.

Sistem itu sukses menghemat bahan bakar hingga 30 persen, sementara efisiensi bahan bakar naik dari 40 persen menjadi 90 persen. ”Nyaris tak ada yang terbuang,” kata Hermansen.

Pemerintah saat ini menyuplai pemanas dari CHP ke 60 persen jumlah bangunan secara nasional atau ekivalen dengan sekitar 800.000 bangunan rumah. Sekitar 25 persen pemanas tersebut disuplai dari bahan bakar biomassa.

Krisis minyak global kedua tahun 1978-1979 kembali mendorong perubahan besar-besaran. Tahun 1979 pertama kalinya Denmark memiliki Kementerian Energi dan parlemen meloloskan peraturan tentang distribusi gas alam dan pemanas. ”Tahun 1979-1985 ada pencapaian besar ketika konsumsi energi turun 25 persen-30 persen. Ini rekor dunia,” ujar konsultan senior Badan Energi Denmark Peter Bach (Monday Morning edisi November).

Ketika negara melirik energi nuklir, Tarjei Haaland dari Greenpeace memunculkan gerakan antinuklir terbesar di Denmark yang melibatkan organisasi akar rumput. Mereka menolak penggunaan nuklir sebagai sumber energi.

Wartawan koran Politiken Flemming Ytzen pada perjumpaan dengan Kompas awal Juni lalu di Kopenhagen menyatakan, ”Penolakan nuklir dan dorongan agar pemerintah lebih memegang paradigma hijau berawal dari media massa, organisasi nonpemerintah, dan organisasi masyarakat lainnya. Kami beruntung memiliki pemerintah yang baik, yang mau mendengarkan suara kami. Kami kemudian diajak duduk bersama untuk mengemukakan pendapat kami. Dan, mereka mendengarkan, menyetujuinya, dan melakukannya.”

Jika demikian halnya, tidak heran bahwa penduduk negeri dongeng ini kemudian dinobatkan menjadi penduduk paling bahagia di dunia. Dan, dengan semua kebijakan politik dan keputusan pemerintah itulah Denmark lahir kembali sebagai negara yang sama sekali berbeda: tidak lagi bergantung pada minyak.

sumber: Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook