Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pemerintah Gelar Workshop PLTS Untuk Perkotaan

 Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Gelar Workshop PLTS untuk Perkotaan
Pemerintah, Perguruan Tinggi, BUMN, Asosiasi/LSM, serta para pelaku usaha PLTS bertemu dalam acara Workshop Percepatan Pengembangan PLTS untuk Perkotaan yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi (DJLPE) di Hotel Maharani, Kamis (15/10). Kegiatan ini menjadi ajang sosialisasi kebijakan dan tukar pengalaman antar stakeholder PLTS sdalam rangka memajukan program PLTS perkotaan sehingga dapat berkembang dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam penyediaan listrik bagi masyarakat perkotaan.

Workshop Percepatan Pengembangan PLTS untuk Perkotaan ini dibuka oleh Direktur Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi. Hadir dalam acara ini, para stakeholder bidang PLTS Perkotaan, diantaranya; Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Perhubungan, Departemen Pekerjaan Umum, BAPPENAS, Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi, PT. PLN, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, Yayasan Peduli Energi Indonesia, para pelaku usaha PLTS, serta anggota Real Estate Indonesia.

Acara diisi dengan pemaparan dan diskusi mengenai kebijakan pengembangan PLTS perkotaan, kemampuan industri/manufaktur PLTS saat ini, serta tiga studi kasus aplikasi PLTS untuk perkotaan yaitu aplikasi PLTS interkoneksi dengan jaringan PLN di gedung BPPT, studi kasus aplikasi PLTS untuk perkantoran, dan studi kasus aplikasi PLTS untuk Perumahan. Tampil sebagai pembicara dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Ir. Kosasih dari Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi, Direktur PT Len Industri (Persero), Kepala Pusat Teknologi Konversi Energi - BPPT, Arma Tamru dari PT. Azet Surya Lestari, serta Hanadi dari PT Hanjaya Lestari.

Sejak tahun 2003 Pemerintah memperkenalkan pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) untuk daerah perkotaan. Program tersebut diluncurkan pada tanggal 28 Agustus 2003 oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala BPPT dan Menteri Lingkungan Hidup. Program ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan listrik dari penyedia publik yang sampai saat ini masih disubsidi dan pasokannya masih terbatas, terutama pada saat beban puncak atau terjadi gangguan. Wilayah perkotaan merupakan target potensial bagi pengembangan PLTS mengingat semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan energi bersih dan kemampuan ekonomi masyarakat kota yang memungkinkan penyediaan listrik secara mandiri dengan pemanfaatan energi surya. Sejak diluncurkan Program PLTS Perkotaan, beberapa proyek percontohan telah dikembangkan baik oleh Pemerintah, Perguruan Tinggi maupun Swasta. Namun program ini masih belum berkembang luas seperti yang diharapkan. Beberapa aplikasi PLTS untuk gedung perkantoran dapat dijumpai di Gedung DJLPE (40 kWp), BPPT (10 kWp), Depdiknas (2 kWp), German International School (11,2 kWp), dan di Gedung Departemen Teknik Fisika ITB (1kWp).

"Implementasi program PLTS memiliki banyak tantangan, tetapi kita harus optimis", ujar Ir. Kosasih. Lebih lanjut dia menyatakan bahwa pertumbuhan pasar PV sedang mengalami booming dan pada tahun 2008 pasar PV global telah tumbuh 110% dibandingkan tahun 2007. Untuk dalam negeri potensi demand PLTS perkotaan diperkirakan sekurang-kurangnya 34 MWp per tahun, dengan sasaran utama instansi pemerintah, pelanggan PLN kategori R3, I3, dan B3, serta penerangan jalan umum. Adapun kendala utama saat ini adalah pengetahuan dan kesadaran masyarakat yang masih rendah, kecenderungan pelaku usaha PLTS yang lebih tertarik pada program PLTS perdesaan, dan belum adanya usaha penunjang yang dapat mendukung keberlanjutannya. Pembicara dari PT. Len Industri menyatakan bahwa saat ini kapasitas produksinya baru mencapai 6 MWp, meski demikian kapasitas diharapkan akan meningkat menjadi 10 MWp per tahun dan berencana untuk membangun pabrik panel surya yang beroperasi pada 2011. BPPT dalam paparannya menyatakan bahwa secara teknis penerapan sistem PV terhubung jala-jala (interkoneksi) layak dilakukan dengan penyempurnaan jaringan. Analisis investasi menunjukkan payback period yang lama, sekitar 17 tahun, bahkan dengan asumsi eskalasi tarif listrik 10%. Dengan demikian diperlukan terobosan pembiayaan supaya secara ekonomis PV interkoneksi menjadi kompetitif.

Dalam diskusi dibicarakan perihal pentingnya regulasi khusus mengenai PLTS untuk perkotaan, terutama menyangkut insentif baik bagi pemasang PLTS di daerah perkotaan maupun bagi para pelaku usaha. Selain itu juga perlu diadakan sosialisasi PLTS perkotaan kepada masyarakat umum mengenai manfaat serta cara pengoperasian PLTS yang tepat sehingga penerimaan masyarakat terhadap PLTS meningkat, mendukung para pelaku usaha, serta mendukung program pemerintah khususnya dalam hal penyediaan listrik di perkotaan.

Energiterbarukan.net 

Diupload Oleh Yoga Mahendro  

   

 
 
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook