Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pompa Air Tenaga Surya Di Gunung Kidul

Menimba Air dengan Matahari Gunungkidul

Lazimnya air mengalir dari atas bukit menyusur menuju dataran. Hukum alam ini tidak berlaku di Desa Giricahyo Kec. Purwosari, Kab. Gunungkidul. Keadaannya berbalik, air dari dalam Gua Plawan yang tersembunyi di bawah kaki bukit Giricahyo, mengalir ke atas bukit yang dihuni penduduk setempat.

Air bawah tanah sedalam 107 meter itu, ibarat hujan di tengah Gunungkidul yang selalu kekurangan air pada musim kemarau seperti saat ini. Volumenya cukup besar. Pada musim hujan, debit air dari Gua Plawan mencapai 200 liter per detik, sebaliknya pada musim kemarau debit airnya mencapai 30 liter/detik.

Sumber air yang menghidupi 4.000 jiwa tersebut ditemukan para mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tiga tahun silam (2005). Ketika sejumlah mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) menjelajah bawah bukit, mereka melihat gua. Kemudian mahasiswa KKN yang sebagian di antara mereka merupakan aktivis pencinta alam nekat memasuki gua.

Air melimpah dan ribuan kelelawar menyambut kedatangan mereka. Maka, UGM menjadikan temuan gua dan air tanahnya sebagai projek mahasiswa KKN. Melalui berbagai tahapan, akhirnya air bawah tanah bisa dialirkan ke kompleks perumahan penduduk sejauh 3 km yang berada di atas bukit.

Sel surya

Dr. Faisal Fathani, pembimbing mahasiswa KKN sekaligus tim ahli eksploitasi Goa Plawan menyatakan, pengangkatan air bawah tanah dari dalam goa menggunakan tenaga surya yang terdiri atas 240 panel sel surya (solar cell). Teknologinya menggunakan solar tracker yang dapat mengikuti gerak matahari. Perangkat sel surya terbesar di Indonesia tersebut, bekerja selama delapan jam setiap harinya. Panas matahari ditampung di reservoir dengan kapasitas air sebesar 50 m3.

Instalasi pengangkatan air bersih yang menggunakan energi terbarukan dengan Pompa Air Tenaga Surya (PATS) tersebut, merupakan sistem sekunder pendukung sistem generator set (genset). Genset ini dipasang mendahului perangkat PATS dan mencukupi suplai air dengan debit 4 liter/detik untuk konsumsi 4.000 jiwa

Eksplorasi air bawah tanah dilakukan bertahap oleh lima angkatan mahasiswa KKN sejak 2005. Peserta KKN ini tidak hanya mahasiswa strata satu (S-1), ikut bergabung di dalamnya mahasiswa strata dua dan tiga (S-2 dan S-3).

Pada kelompok KKN angkatan 1 sampai 3, fokus para mahasiswa pada perancangan dan pengembangan teknik mengangkat air dari dalam gua. Pada KKN angkatan 4 dan 5, para mahasiswa KKN mengembangkan teknologi dan pelembagaan. Pada aspek pelembagaan, masyarakat setempat didorong untuk membentuk organisasi pengelola air bersih tingkat desa yang bernama Organisasi Kelola Air Mandiri (OKAM). Organisasi ini dirancang agar pada tahun-tahun berikutnya menjadi embrio semacam perusahaan daerah air minum (PDAM).

Parjo, penduduk Giricahyo mengaku pengangkatan air gua bukan tidak mendatangkan masalah bagi warga. Sengketa antarpenduduk dusun yang berbeda kadang terjadi. Pangkal masalahnya, air gua diinginkan sedikitnya oleh 4 warga dusun, sehingga kadang saling tarik ulur urat leher bila aliran air tidak merata.

Konflik paling sering terjadi bila musim kemarau tiba. Debit air kecil, kebutuhan banyak, maka antarpenduduk satu dusun saja saling curiga kalau-kalau ada tetangga mereka memperoleh kucuran air lebih banyak sehingga rumah tangga lain tidak dapat jatah.

Saat ditemui "PR" baru-baru ini di lokasi, Parjo yang kebetulan ladang miliknya satu lokasi dengan Gua Plawan menyatakan, konflik sosial juga bermuara pada tindakan kriminal oleh warga tertentu. Misalnya, kabel solar panel yang ditanam di dinding gua dicuri. "Pelakunya sudah ditangkap. Saya tidak tahu motivasi mereka mencuri kabel. Warga sempat berang karena air dari dalam gua tidak bisa mengalir akibat kabel dicuri," ujar Parjo.

Petani ini mengakui ada manfaat dengan program pengangkatan air dari gua. Minimal untuk kebutuhan minum bisa teratasi selama musim panas. "Kebutuhan air untuk menyiram tanaman, mencuci, belum bisa dicukupi. Saya saja membeli air untuk menyiangi tanaman," kata Parjo sambil menunjuk drum-drum penampung air.

Walaupun terdapat kekurangan, Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Prof. Dr. Bambang Sudibyo, M.B.A., saat berkunjung ke lokasi menyatakan kagum atas kerja nyata mahasiswa KKN model pemberdayaan masyarakat. Dia bahkan meresmikan program ini sebagai percontohan di Indonesia.

Wakil Bupati Gunung Kidul Hj. Fadilah, S.Sos. menyatakan, temuan air bersih merupakan anugerah bagi warga Gunungkidul. Setiap musim kemarau, puluhan ibu-ibu sibuk membeli air dari tanki-tanki maupun mencari sumber air. Upaya Pemkab Gunungkidul seperti menyalurkan air bersih melalui PDAM dengan membangun 32.380 saluran pipa sambungan ke rumah-rumah, belum menjawab sepenuhnya kebutuhan air bersih rumah tangga pada musim kemarau. Pengangkatan air tanah dari dalam gua menjadi sokongan sangat berharga. (Mukhijab/"PR")***

Penulis:
Back
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook