Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pembangkit Listrik Tenaga Surya Meningkat

Sel Surya Perlu Pasar

Dana yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sel surya sebagai pembangkit listrik milik pemerintah pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2008 meningkat Rp 200 miliar dibandingkan tahun ini. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan domestik akan sel surya.Dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2007 untuk memenuhi kebutuhan sel surya sebagai pembangkit tenaga listrik di berbagai pelosok Tanah Air mencapai Rp 300 miliar, sedangkan pada tahun 2008 nanti Rp 500 miliar.

Meningkatnya biaya ini merupakan indikasi pertumbuhan kebutuhan domestik akan sel surya sebagai salah satu sumber energi terbarukan. Dengan adanya peningkatan kebutuhan akan sel surya di dalam negeri yang cukup signifikan tersebut, seharusnya dapat segera dibuat pabrik sel surya di dalam negeri untuk memenuhinya. Demikian dikatakan Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Arya Rezavidi, Jumat (19/10). “Beberapa investor dari luar negeri beberapa tahun belakangan telah menawarkan proposal pendirian pabrik sel surya atas pertimbangan pasar domestik yang makin mencukupi. Salah satunya, perusahaan Isofoton dari Spanyol,” kata Arya.

Belanja di luar negeri

Dia mengakui, sejauh ini pemerintah memang belum melirik peluang menggaet investor asing untuk mendirikan pabrik sel surya di Indonesia. Bahkan, pemerintah cenderung makin meningkatkan pembelanjaan sel surya dari luar negeri. Alokasi dana APBN sebesar Rp 300 miliar pada tahun 2007, menurut Arya, sudah dibelanjakan 50.000 unit sel surya. Masing- masing modul sel surya itu memiliki kapasitas memproduksi listrik 50 watt.

Sel surya tersebut sudah disebarkan ke berbagai pelosok daerah yang sulit terjangkau distribusi listrik dari PLN. Arya mengatakan, kecenderungan pemenuhan kebutuhan sektor energi yang konsumtif saat ini akan menimbulkan kesulitan pada tahun-tahun mendatang. Ia mengatakan, pemerintah sebaiknya mengalihkan pandangan pemenuhan kebutuhan sektor energi dari konsumtif menjadi produktif.

Kendala kebijakan

Secara terpisah, Kepala Balai Besar Teknologi Energi (B2TE) BPPT M Oktaufik mengatakan, kendala yang ada saat ini adalah tidak adanya kebijakan ekonomi yang mendorong perkembangan industrialisasi di sektor energi, terutama untuk energi terbarukan. Padahal, tambah dia, kapasitas lembaga riset energi di Indonesia sudah mampu mendukung tumbuhnya industrialisasi di sektor energi. “Dari riset dan pengembangan di B2TE, produksi energi terbarukan secara teknis sebenarnya sudah dapat dipenuhi dari dalam negeri,” kata Oktaufik.

Lebih lanjut, Arya menjelaskan, komponen industri yang paling penting untuk pabrik sel surya saat ini adalah silikon. Apalagi, di Indonesia keberadaan pasir silika sebagai bahan dasar pembuatan silikon tergolong melimpah. “Kebijakan konsumtif terhadap sel surya saat ini karena adanya anggapan bahwa dari tahun ke tahun harga komponen itu akan semakin murah sehingga dianggap tidak perlu memproduksinya sendiri,” kata Arya. (NAW)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook