Alpen Steel | Renewable Energy

~ Sel Surya Dari Buah Mangsi Ditemukan ITS

ITS Temukan Bahan Sel Surya Dari Buah Mangsi

Guru besar Fotokimia ITS Surabaya Prof Dr Syafsir Akhlus MSc menemukan sel surya dari bahan alam, yakni buah mangsi (buah tinta). “Saya sedang memulai ujicoba membuat sel surya dengan pelapis diantara dua kaca ditempel dengan oksida timah (SnO2), TiO2 (titanium oksida), zat warna dari buah manji, dan elektrolit,” ujarnya di Surabaya, Senin. Dosen Jurusan Kimia F-MIPA ITS Surabaya yang dikukuhkan sebagai Guru Besar pada 18 April mendatang itu, menjelaskan, pihaknya mengembangkan sel surya dari bahan alam, karena mahalnya bahan sel surya dari bahan silikon.

“Teknologi pembuatannya juga sulit. Padahal upaya yang saya lakukan cukup menjanjikan, karena teknologinya cukup mudah dan harganya jauh lebih murah dibanding sel surya berbahan silikon,” paparnya.

Apalagi, kata ayah tiga putra itu, Indonesia memiliki bahan zat berwarna dari berbagai bahan alam yang melimpah. Bahkan buah mangsi sendiri dapat ditemukan pada beberapa pasar di kota Surabaya.

“Ke depan, saya yakin jika uji coba yang saya lakukan berhasil, maka kesulitan untuk mengembangkan sel surya akibat mahalnya harga akan teratasi,” ungkapnya.

Ditanya cara kerja pewarna yang bisa menyerap sinar matahari dan kemudian menghasilkan energi, ia menyatakan, zat warna atau pewarna dapat digunakan memperlakukan energi sebagai rekatan atau produk dari suatu reaksi fotokimia.

“Bila suatu molekul mengabsorsi foton (cahaya), maka elektron dalam keadaan dasar dapat berpindah ke tingkat energi yang lebih tinggi (tereksitasi), tergantung kepada seberapa besar energi yang diserap,” ucapnya.

Doktor lulusan Institut National Polytechnique de Lorraine (INPL), Nancy, Perancis dengan predikat “cum laude” itu, menuturkan, elekron yang berada pada keadaan tereksitasi singlet akan cenderung kembali ke keadaan dasar, bila stimulus energi yang diberikan tidak ada lagi.

“Kembalinya elektron ke keadaan dasar itu dapat melalui beberapa cara, diantaranya melalui penyilangan antar sistem ke keadaan triplet dahulu, kemudian memberikan emisi foton dan turun ke keadaan dasar. Proses itu dikenal sebagai fosforisensi,” tukasnya.

Cara lain, kata pria kelahiran Tanjungpinang pada 3 Oktober 1962 itu, turunnya elektron dari keadaan singlet tereksitasi langsung ke keadaan dasar diikuti emisi foton, sering disebut peristiwa fluorisensi.

“Fluoresensi dan fosforisensi itu merupakan proses fotokimia. Dari situ, peran pewarna dari buah mangsi bisa dimanfaatkan untuk mengalirkan energi melalui elektroda karbon, karena antara materi dan energi tidak dapat dipisahkan dalam pendekatan kuantum, sehingga dapat menghasilkan produk sesuai rencana,” tuturnya.

Pemilik hak paten untuk temuan Fotosensitizer Katil Bergerak (FKB) itu menambahkan, pemanfaatan senyawa fotosensitizer sebagai bahan baku sel surya merupakan teknologi alternatif untuk mendapatkan sumber energi terbarukan di masa mendatang. (*/rsd)

(Digunting-tempel dari Kapanlagi.com)

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook