Alpen Steel | Renewable Energy

~ PT AGM di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan

BATU BARA CAIR
Teknologi untuk Kesejahteraan

 

Oleh Nawa Tunggal

Truk-truk bermuatan batu bara yang munjung itu berjalan terseok dari stockpile menuju jalur khusus ke pelabuhan. Para pekerja tidak menghiraukan inspeksi mendadak Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta. 

Hatta menginspeksi mendadak ke lokasi penambangan batu bara milik PT AGM di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Sabtu (6/2). Gambaran itu nyata. Rakyat tidak peduli terhadap pejabat tinggi manakala tuntutan hidupnya adalah bekerja keras sepanjang waktu demi sesuap nasi.

Stockpile merupakan lokasi untuk menimbun batu bara setelah dikeruk dari perut bumi. Truk-truk mengambil galian batu bara dan memindahkannya dari stockpile ke pelabuhan. Tersedia jalur khusus menuju area pengapalan. Kondisi jalannya lebih rata daripada jalan tanah bergelombang dari stockpile.

Truk-truk batu bara tampak memunjung pada bagian tengah. Lebih tinggi dari permukaan takarannya. Wajar saja serpihan batu bara berceceran di sepanjang jalan.

Hatta kebetulan juga menginspeksi beberapa lokasi penambangan batu bara milik perusahaan lainnya. Meskipun hanya beberapa menit atau hanya melintasi jalan tambang, cukup bagi Hatta untuk mengetahui adanya pelanggaran prosedur.

Dari stockpile ada yang tidak membuat saluran air atau drainase menuju kolam pengendapan air tambang. Kalaupun ada, kolam pengendapan tidak dilengkapi teknologi pemulihannya. Air tambang mengandung keasaman tinggi yang bisa meracuni tumbuhan dan itu menyebabkan tumbuhan mati.

Inspeksi ini memiliki makna penting. Seperti disuarakan Ketua DPRD Kabupaten Kotabaru Alfidri Supian Noor, saatnya pemerintah memerhatikan kegiatan tambang batu bara agar bisa lebih menyejahterakan rakyat.

”Tidak terbayangkan, dengan cara penambangan seperti sekarang ini, bagaimana nanti ketika batu bara habis, rakyat hanya ditinggali bekas tambang dengan ekosistem yang sudah hancur,” kata Alfidri.

Dia berpendapat, pemerintah perlu menempuh terobosan penting. Batu bara, prinsipnya, sebagai sumber daya alam yang harus digunakan untuk setinggi-tingginya kesejahteraan masyarakat.

Batu bara tidak perlu ditambang habis-habisan seperti sekarang hanya untuk kepentingan ekspor. Kalau perlu, menurut Alfidri, ekspor dihentikan. Batu bara ditambang secukupnya dan diolah untuk meningkatkan nilai ekonominya. Salah satu harapannya, agar diolah menjadi batu bara cair dengan harapan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Indikatornya, rakyat bisa memperoleh sumber energi listrik ataupun energi untuk bahan bakar yang murah.

Energi murah akan merangsang produktivitas. Daya beli dan kesejahteraan pun meningkat.

Batu bara cair

Pemerintah sudah merencanakan pengolahan batu bara ini. Di antaranya membuat rencana induk Program Nasional Pencairan Batu Bara hingga 2025.

Direktur Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto mengatakan, teknologi produksi batu bara cair sudah disiapkan. Pemerintah tinggal mengaplikasikannya dengan investasi. Untuk produksi 50.000 barrel per hari dibutuhkan investasi Rp 40 triliun.

”Afrika Selatan sekarang ini masih menjadi satu-satunya negara yang bisa mewujudkan batu bara cair. Produksinya mencapai 150.000 barrel per hari,” kata Unggul.

Rakyat Afrika Selatan menerima manfaatnya, antara lain, yaitu mendapat listrik dengan harga lebih murah dibandingkan ketika diproduksi dengan bahan bakar minyak yang harus diimpor. Imbalan bagi negara dari harga energi listrik yang murah yaitu berupa hasil dari kelangsungan industri yang berproduktivitas tinggi.

Masyarakat juga mendapatkan bahan bakar minyak dari batu bara cair yang lebih murah jika dibandingkan dengan bahan bakar minyak dari fosil lainnya.

Menurut Unggul, di Afrika Selatan harga batu bara tidak mengikuti harga pasar internasional. Pada tahun 2007, harga pasar internasional mencapai 40 dollar AS per ton, tetapi di negara itu batu bara diperjualbelikan dengan harga berkisar 10 dollar per ton.

Saat ini Indonesia mengacu harga pasar internasional yang bisa menembus 70-90 dollar AS per ton. Menurut Unggul, hal inilah yang membuat perusahaan tambang batu bara lebih mengejar kepentingan ekspor.

Menurut data produksi batu bara 2006, diekspor 145 juta ton dan untuk domestik 48 juta ton. Pada 2007, diekspor 163 juta ton dan domestik 54 juta ton. Pada 2008, diekspor 160 juta ton dan domestik 69 juta ton.

Metode pembuatan batu bara cair yang lazim digunakan, menurut Unggul, adalah dengan cara tidak langsung. Cara itu dengan metode gasifikasi atau dengan cara dijadikan gas terlebih dahulu.

Sebelumnya, batu bara dihilangkan kadar airnya dan digiling menjadi serbuk halus sampai satuan satu milimikron. Dengan tekanan tinggi sampai 150 atmosfer dan suhu 450 derajat celsius, akan diperoleh gas hidrogen dan karbon monoksida.

Langkah berikutnya, gas itu dicairkan dan diimbuhkan katalis sehingga menghasilkan bahan bakar sintetis atau batu bara cair yang siap digunakan untuk substitusi bensin, solar, dan kerosin atau minyak tanah. Jenis yang dihasilkan bergantung pada jenis katalis yang digunakan.

 

Sumber : Kompas

  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook