Alpen Steel | Renewable Energy

~ Minyak Jarak Sebagai Bahan Bakar Nabati

Minyak Jarak untuk Desa


Pemerintah menargetkan penggunaan minyak jarak sebanyak 150 liter per hari di pedesaan yang warganya terpaksa membeli minyak tanah dengan harga di atas Rp 5.000 per liter. Pedesaan itu terutama berada di wilayah Selatan Pulau Jawa dan Kawasan Indonesia Timur.

Pemerintah menargetkan, mi­nyak jarak akan menjadi produk utama Bahan Bakar Nabati (BBN) yang akan menutupi lima persen dari kebutuhan bahan bahan bakar di Indonesia tahun 2025.

' "Pola yang akan digunakan adalah seperti yang dilakukan Departemen Pertanian di Cila-cap. Mereka bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat un­tuk menanam pohon jarak dan

I menggunakan minyak jarak un­tuk keperluan nelayan," kata Staf Ahli Menteri Koordinator Per-ekonomian Bidang Pertanian Ba-yu Krisna Mukti seusai memim-pin rapat gabungan tentang Pe-ngembangan Minyak Jarak Seba-gai Energi Alternatif di Departemen Keuangan, Jakarta , Jumat (3/2).

Bayu mengatakan, untuk men-capai tujuan tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 5 Taliun 2006 dan In-struksi Presiden Nomor 1 Tahun 2006 tertanggal 25 Januari 2006 tentang kebijakan energi. Dalam kedua peratur'an itu, Presiden menginstruksikan 13 menteri da-lam Kabinet Indonesia Bersatu dan seluruh gubernur untuk me-ngembangkan minyak jarak.

"Menteri Pertanian mendapat instruksi untuk mengembangkan benih pohon jarak, sedangkan Menteri Energi dan Sumber Daya (ESDM) diperintahkan untuk

menyiapkan bahan bakunya, ter-masuk penyuluhannya," katanya. Minyak jarak, menjadi pilihan utama BBM alternatif karena me-miliki keunggulan dibandingkan dengan minyak kelapa sawit nientah (CPO), yang sebenarnya paling siap berkompetisi. "Mi­nyak jarak juga dapat ditanam di daerah mana pun, cocok di lahan kritis, daerah tidak subur, ter­utama di daerah yang membu-tuhkan energi alternatif seperti Nusa Tenggara Barat dan Timur. Minyak jarak bisa memperbaiki lingkungan di daerah yang te-lantar," katanya.

Lima ton per hektar

Tingkat produktivitas pena-naman Jarak Pagar (Jatropha curcas) di Indonesia kira-kira dua ton per hektar untuk sekali musim panen dengan masa ta-nam selama enam bulan di musim kemarau. Produktivitas dapat ditingkatkan sampai lima ton per hektar dengan cara me-milih bibit yang lebih baik dan menggunakan pupuk.

Rendemen ekstraksi minyak jarak kurang lebih 42 persen dan minyak hasil ekstraksi dapat di-konversikan menjadi biodiesel melalui proses trans-esterifikasi dengan menggunakan metanol atau etanol dengan proses yang sederhana. Proses konversi ter­sebut mempunyai rendemen ku­rang lebih 98 persen dan meng-hasilkan produk samping yang bernilai tinggi, seperti gliserol.

Dengan asumsi produktivitas biji jarak lirna ton per hektar dan rendemen 42 persen, maka biaya produksi untuk biodiesel diper-kirakan Rp 1.224 per liter. Per-hitungan didasarkan pada nilai investasi pabrik dengan kapasitas 3.000 ton biodiesel per tahun yang diperkirakan bernilai Rp 3,271 juta.

Minyak jarak juga berpotensi memberikan pendapatan kepada warga di pedesaan sebesar Rp 376 per liter biodiesel. Selain itu, ke-giatan ini berpeluang menyerap tenaga kerja sebanyak 277 orang untuk perkebunan dan pabrik biodiesel. (OIN/BOY)

Tanggal Tayang :29-8-2006
Sumber : PT. Kreatif Energi Indonesia
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook