Alpen Steel | Renewable Energy

~ Inpres Energi Alternatif Sebagai Upaya Pemberdayaan Hasil Pertanian

Inpres energi alternatif dan hasil pertanian disiapkan


Pemerintah segera mcngeluarkan Instruksi Presi-den (Inpres) tentang penggu-naan energi alternatif sebagai upaya memperdayakan hasil pertanian dan agribisnis untuk bahan baku produksi minyak biodiesel dan bioetanol.

"Esensi Inpres tersebut ada-lah penggunaan energi alterna­tif dari minyak biodisel dan bio­etanol dan BPPT memiliki ke-mampuan teknologi di bidang pengolahan minyak tersebut, namun sebagai institusi pene-litian kami tidak memiliki ke-wenangan untuk memasarkan-nya," ujur Menristek/Kepalu BPPT Kusmayanto Kadiman se-lepas menyaksikan penanda-tanganan naskah kerja sama Pengembangan dan Penerapan Teknologi Di Bidang Energi Al­ternatif antara BBPT dengan Pura Group, di Kudus kemarin.

Dia mengatakan dengan adanya Inpres itu pemberdaya-an hasil riset dan teknologi memperoleh dukungan karena selama ini seringkali tidak di-manfaatkan meskipun peneliti dalam negeri termasuk yang dilakukan kalangan swasta te-lah mampu menghasilkannya.

Oleh karena itu, lanjutnya, perlu adanya penerbitan Inpres tentang penggunaan energi al­ternatif yang kini telah mem­peroleh persetujuan dari enam menteri terkait terdiri dari

Menriset, Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, Menteri Keuang-an dan Menteri Sumber Daya Mineral.

"Usulan Inpres itu telah dia-jukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu dan telah dibahas bersama scjumlah menteri ter­kait itu. Kini tinggal menunggu ditandatangani," tururnya.

Dia mengatakan keterlibatan sejumlah menteri uniuk mem-berikiin dukungan karena kese-luruhannya memiliki peranan seperti Menteri Perdagangan diminta masukan mengenai tata niaga perdagangan komo-ditas bahan baku minyak bio­diesel, Menteri Perindustrian akan memberikan penggunaan minyak biodisel yang benar ke­pada Industri sekaligus mendo-rong agar sejumlali industri da-pat memanfaatkan bahan ba-kar dengan energi alternatif itu.

"Sedangkan Mentereri Perta­nian memberikan ketentuan alokasi lahan/pengolahan la-han yang benar. Dari pihak ka­mi hanya memberikan ketentu­an mengenai standar muru ba­han baku produksi minyak bio­diesel maupun bioetanol. Se­perti kualitas biji jarak, kelawa sawit, tebu dan hasil pertanian lain yang akan digunakan seba­gai produksi minyak pengganti BBM tersebuit," ujar dia.

Kusmayanto mengatakan biji jarak nampaknya akan menjadi pilihan sebagai bahan baku

produksi minyak biodisel yang tepat, selain kelapa sawit dan dapat dibudidayakan oleh para petani dan mudah ditanam di lahan tandus sekalipun, se-dangkan produksi maupun penjualan minyak bisa dilaku­kan kalangan swasta.

60 Tanaman

Dia menerangkan hingga saat ini di Indonesia terdapat 60 jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk minyak nabati yang dapat diolah men­jadi minyak biodiesel sebagai pengganti minyak solar dan bioetanol sebagai pengganti premium.

Penelitian terhadap peman-fiiatan energi allernatif, menu-rut Kusmayanto, selama ini ha­nya dijadikan wacana, karena minimnya dana yang dimiliki pemerintah, bahkan sebelum-nya penggunaan BBM dari hasil minyak bumi terlalu diman-jakan, selain subsidi BBM lebih besar dan tidak berimbang de­ngan subsidi yang diberikan un­tuk mewujudkan hasil peneltian terhadap energi alternatif.

Kusmayanto menerangkan pemerintah diharapkan dapat memberikan subsidi penda-naan yang cukup agar ada per-imbangan penggunaan minyak hasil bumi dengan energi alter­natif, mengingat krisis BBM yang semakin mengkhawatir-kan hingga saat kebutuhannya mencapai 40 juta kiloliter per tahun.

KUDUS:
Sumber : Bisnis Indonesia
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook