Alpen Steel | Renewable Energy

~ Pengembangan Biofuel Dinilai Urgent

Indonesia Kaya Bahan Baku Tapi Low Profile


pengembangan biofuel dinilai sangat penting, bahkan sudah menjadi kesadaran olektif global, termasuk bagi egeri yang kurang kompetitif alam mengembangkan energi ari sumber bahan baku nabati. ontohnya Amerika Serikat (AS). Mcnurut Organisasi Pangan an Pertanian Dunia (FAO), Ne-sri Paman Sam tersebut tidak Dmpetitif mengembangkan bio-lel, baik berupa biodiesel mau-an bioethanol,

Dalam kesaksian di hadapan Kongres AS baru-baru ini, Chief Exe-itive Officer National Biodiesel Dard (NBB) Joe Jobe menegas-m, seiring dengan meroketnya irga minyak mentah dunia, pembangunan biodiesel sebagai penyelesai masalah harus dipercepat. Jika AS mampu menggantikan 5% solar yang dikonsumsi kendaraan dengan biofuel, negeri ini tak perlu me-ngimpor bahan baku solar dari Irak.

Jobe juga membeberkan ten-tang cerahnya industri biodiesel dunia, dengan pertumbuhan pe-sat dalam dua tahun terakhir. "Penjualan biodisel tahun 2005 mencapai 75 juta galon, tiga kali lipat dari penjualan tahun 2004 yang 25 juta galon. Sementara itu, dengan harga minyak dunia yang terus naik defisit perdagangan AS terus menggelembung," ucap Jo-be memperingatkan Kongres.

Menurut Jobe , AS harus mem-perluas insentif bagi industri bio­diesel. Setidaknya ada tiga kebi-jakan yang harus segera diterbitkanpajak agar energi terbarukan ini makin terjangkau konsumen. Ke-dua, memberikan insentif kredit guna mendorong pertumbuhan kapasitas produksi biodiesel. Ke-tiga, menggelar program edukasi biodiesel, agar kesadaran (aware­ness) masyarakat meningkat dari level 41% per Desember 2005.

Menurut laporan FAO, harga minyak yang mencapai lebih dari US$ 70 per barel membuat energi nabati (bioenergy) makin kompe­titif. Bahkan, raja software Bill Gates sudah memutuskan men-danai perusahaan bioenergy AS sebesar US$ 84 juta.

Saat ini, pemegang piala bioe­nergy adalah Brasil. Negeri Sam­ba ini mampu mengalahkan nega-ra adidaya, berkat 30 tahun mempeorduksi tebu. Negeri itu mampu menjual bioethanol separuh lebih murah daribensin, dengan melibatkan 1,5 juta petani tebu. Kini jutaan mobil di negeri sang legendaris sepakbola Pcle sudah beralih ke bioethanol.

Menurut kajian Uni Eropa (UE), dalam waktu dekat 13% konsumsi BBM dunia akan bera­lih ke energi nabati. Sementara itu, UE menargetkan biofuels su­dah akan menggantikan konsumsi BBM transportasi sebanyak 8% tahun 2015. Hal ini sudah mem-perhirungkan bahwa harga biofuel di Eropa dua kali lipat dari di Brasil.

Menurut perkiraan FAO, 15-20 tahun mendatang biofuel akan menggantikan 25% konsumsi energi dunia. pasang target sekitar 5%, itu pun unruk tahun 2025.

Padahal, negeri kita kaya de­ngan sumber bahan baku untuk biofuel, terutama biodiesel. Misal-nya minyak sawit mentah (CPO), yang kini produksi per tahunnya sudah mendekati angka 14 juta ton. Belum lagi, belakangan pe-merintah gencar menggalakkan budidaya tanaman jarak pagar, guna mendukung program energi alternatif dari minyak babati.

Demikian pula dengan teknolo-gi, sumber daya manusia (SDM), dan modal, sudah terjangkau ke-mampuan anak negeri. Lantas, apakah realisasi pengembangan biodiesel harus menunggu indus­tri dan keamanan negeri ini


Sumber : Kompas
  Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

Fast Contact

Show Room & Factory:
 
Jalan Laksanama
Nurtanio Nomor 51
Bandung 40183 - Indonesia
 
Phone Line1:
022- 603-8050 (08:00-17:00)
 
Handphone:
0852-111-111-77 
0852-111-111-100
 
 
 
PageRank  Hit Counters
free counters
Alpen Steel Facebook