Pemanasan Global Akibatkan Bumi Tenggelam

Di belahan dunia bagian utara, musim dingin saat ini turut merenggut korban jiwa seperti di Jepang dan Rusia. Untuk menyisihkan salju yang luar biasa tebal, Jepang mengoperasikan mesin keruk spesial. Di India ratusan orang meninggal akibat kedinginan. Sementara di Australia mencatat tahun 2005 sebagai tahun yang paling panas. Kepanikan juga melanda warga Rusia gara-gara salju turun tapi bukan salju putih seperti biasa, melainkan salju merah. Badai pasir yang terangkut dari Mongolia menimbulkan fenomena ini. Selain turut memperluas gurun di dunia, salju merah yang mengguyur Rusia hanya beberapa pekan setelah salju kuning menyelimuti wilayah Pulau Sakhalin di Rusia timur jauh akibat oleh polusi dari pabrik minyak dan gas.
Peningkatan Suhu. Badan dunia PBB lewat Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC, 1990) menyimpulkan bahwa sejak akhir 1980-an pemanasan global terlihat nyata dan meningkat tajam 0.3 – 0.6 derajat Celcius. Tahun 1987 dan 1988 tercatat sebagai dimulainya suhu global rata-rata tertinggi, pemecah rekor di Siberia, Eropa Timur dan Amerika Utara. Pada tahun yang sama juga diikuti terjadinya banjir besar di Korea dan Bangladesh. Bangladesh, di awal 1991 mengalami banjir lagi disertai angin puyuh yang menimbulkan banyak korban jiwa. Survey WWF (2006) melaporkan bahwa lapisan es di pegunungan tertinggi dunia, Himalaya, telah mencair dengan cepat dan berpotensi menimbulkan kesulitan pasokan air. Himalaya memiliki cadangan air beku terbesar dunia setelah wilayah kutub. Lelehan es-nya mengaliri sungai-sungai besar Asia (Gangga, Indus, Brahmaputra, Mekong, Thanlwin, Yangtze, dan Sungai Kuning). Namun peningkatan suhu menjadikan lapisan es menurun cepat dengan laju 10-15 m/tahun, sehingga menimbulkan banjir. Setelah cadangan es habis, kekeringan pasti melanda.

Dari hampir 1.500 species flora/fauna yang diamati Prof.T.Root, dkk (Stanford Univ.) terdapat 1.200 sp. memperlihatkan perubahan tetap akibat berubahnya suhu. Banyak spesies saat ini termasuk ikan-ikan memperlihatkan kecenderungan bermigrasi dan bergerak ke arah utara bumi, ke tempat yang lebih dingin. Vegetasi tumbuhan diperkirakan berpindah 100-150 km ke arah kutub untuk beradaptasi dengan peningkatan suhu sebesar 1 derajat Celcius (Nature, 2003). Hal yang sama terjadi pada hutan mangrove. Mangrove yang peka selain terhadap perubahan salinitas air dan laju sedimentasi pasti tak dapat menghindar jika air laut naik. Selama masa perubahan iklim yang bertahap, seperti yang terjadi pada waktu lalu, kawanan hewan perumput bergerak mengikuti gerakan vegetasi diiringi oleh hewan karnivora yang memangsa mereka. Perubahan iklim yang cepat, tidak memberikan harapan bagi penyesuaian seperti ini. Tentunya organisme yang tak dapat beradaptasi dengan perubahan akan terisolasi dan punah. Pemanasan global dapat mereduksi keanekaragaman genetik dan ini berarti walaupun keanekaragaman spesies tinggi, namun karena kurang dalam jumlah maka akan lebih rentan dan terancam punah akibat penyakit serta rendahnya keanekaragaman genetik. Berdasarkan dari berbagai jurnal penelitian ilmiah terbaru, ternyata ada banyak sekali bukti yang mana pemanasan global mempengaruhi kehidupan flora/fauna termasuk manusia di dalamnya. Hal ini tidak akan pernah cukup diurai dalam tulisan ini, namun dipastikan bumi saat ini berjalan tidak alamiah lagi.
Sumber : Berbagai Sumber
- ~ Ancaman Pemanasan Global, Peringatan Besar Dari Alam
- ~ Jarak Pagar Atasi Pemanasan Global
- ~ Dampak Global Warming Atmosfir Sakit, Bumi Sasaran Empuk Meteor
- ~ Pemanasan Global, Lubang Ozon Menjadi Lebar
- ~ Dampak Pemanasan Global, Meteor Jatuh Ke Bumi
- ~ Global Warming Ancam Manusia
- ~ Transportasi Masa Depan Untuk Riau
- ~ REI Menuju Hunian Ramah Lingkungan
- ~ Perubahan Iklim Dan Global Warming
- ~ Pemanasan Global Bisa Ancam Indonesia



